KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA

KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA
Part. 77


__ADS_3

Kita selalu merasa bahwa cobaan dalam hidup ini terlalu berat, padahal ada yang lebih berat dari apa yang kita rasa.


"Gue juga gak mau lahir ke dunia ini, kalau bisa pilih lebih baik gue tidak lahir tidak melihat dunia yang kejam ini".


Tidak terima jika di bilang anak ******, anak pelacur meskipun begitu kenyataan nya, bukan keinginnan aku terlahir seperti ini, tidak mempunyai keluarga utuh sejak kecil, tidak pernah hidup tenang karena teror dan teror terus berdatangan sehingga membuat ibuku depresi.


"Istigfar mbak, Astagfirullohalazim jangan kaya gini", memegang tangan Shanum, badan wanita ini terus bergetar karena menangis takut marah bercampur menjadi satu.


"Gue capek hidup seperti ini terus, berpura pura sehat dan tegar melakukan semuanya seolah baik baik saja, gue capek Dira gue capek".


"Cerita sama aku mbak agar lebih tenang, aku siap mendengarkan semuanya, jangan merasa sendiri banyak orang orang baik di dunia ini jangan terus menutup diri yang akhirnya membuat kita merasa hidup sendiri".


"Lo gak beci sama gue?, lo gak marah?", menatap Dira.


Dira menggeleng, "Nggak, karena aku tau sekarang mbak sebenarnya orang baik hanya keadaan yang selalu menekan sehingga apa yang menurut mbak hak dan milik tidak boleh ada yang mengambil lagi".


Betul apa yang Dira ucapkan, Shanum merasa Kevin dan Raka milik nya, sebab dirinya tidak pernah dekat dengan siapapun dan hanya Kevin Raka lah yang mau menerimanya.


"Maaf Nadira maaf atas kesalahanku selama ini".


"Lupakan itu mbak, aku akan bicara baik baik dengan kak Han nanti, aku yakin kak Han bisa memaafkan semuanya dan bisa menerima mbak sebagai adiknya".


Shanum menggeleng tidak yakin, Han keras kepala dan dia wajar melakukan semuanya untuk membalakan sakit hatinya.


Shanum tidak tau kalau kedua sahabat nya ini ternyata shabat baik Han, laki laki yang sudah ibunya rampas kebahagiaan dan keutuhan keluarganya.


Memeluk Dira erat menumpahkan tangisannya, mereka sedang berada di apartemen Dira dan Kevin, Raka yang mengantarkannya tadi, jika terus berada di dekat Han keduanya akan terus terpancing emosi.


Tanpa ragu Shanum menceritakan semuanya pada Dira, Dia juga ikut menangis perjalannan hidup Shanum ternyata tidak semulus yang dirinya bayangkan.


"Udahan nangisnya ya, janji jangan mau sama suami aku lagi hehee", ucap Dira sambil menghapus air matanya dan terkekeh.


Shanum menggeleng, tertawa hambar, "Sorry aku udah banyak banget nyakitin wanita sebaik kamu, kamu mau jadi teman aku?", tanya Shanum meskipun ragu, mana mungkin orang yang sudah kita sakiti mau berteman dengan kita, hanya 1/10% orang yang mempunyai hati bersih dan pemaaf seluas itu.

__ADS_1


"Gak mau hahahaa", Dira memeluk Shanum, "Gak mau teman kita jadi sodara aja, jangan sungkan anggap aku adik atau sahabat terserah".


"Terimakasih Nadira, pantas Kevin memilih dan memperjuangkan kamu, kamu memang layang di perjuangkan, kamu wanita yang baik dan cantik".


"Tapi aku gak secantik mbak", Shanum memang cantik body bak model, mempunyai kulit putih mulus.


"Kamu tetap yang lebih cantik dari aku".


"Istirahat tidur disini dulu, jangan memikirkan hal hal yang akan mengganggu mental dan merugikan kamu mbak, sayangi dan perbaiki diri sendiri".


Mengangguk meng iyakan, jika dirinya tidak sehat lalu siapa yang merawat dan membiyayai pengobatan ibunya, menghembuskan napas dengan kasar menyemangati diri, selama ini meskipun banyak cobaan bisa bertahan kan kenapa tidak di perkuatkan lagi pertahannan nya.


"Maaf merepotkan", tidak enak hati.


"Aku gak repot mbak", kalau bayi gede lagi kerja, batin Dira beda kalau sudah ada di rumah.


Shanum tertidur, lelah sudah pasti setelah berminggu minggu mengurus ibunya yang semakin tidak bisa di tenangkan selain pakai obat tidur, melakukan penerbangan dari negri S sampai sini langsung menemui Kevin dan jedarrrrrr bertemu dengan Han sosok manusia yang Shanum hindari selama ini.


.


.


Kevin mendapat tlpon dari Dira dan ingin bicara dengan Han, tidak lama ke empat peria itu keluar dari kantor bersamaan, meninggalkan ruangan Kevin yang sudah seperti kapal pecah.


Sampai apartemen mereka duduk bersama bahkan berlesehan, Dira sudah ijin pada Kevin dan Kevin mengiyakan, apapun yang Dira lakukan apalagi demi kebenaran untuk menyatukan Shanum dan Han, sebenarnya sudah dari dulu niat Raka dan Kevin untuk menyatukan keduanya, hanya saja Han selalu ngamuk jika bicara tentang hal itu.


"Kak Han boleh aku bicara?", tanya Dira hati hati, Han mengangguk etahlah pembawaan bicara Dira menyejukan menenangkan.


"Apa tidak ada kata maaf untuk mereka kak?", Han menggeleng, mereka menghancurkan keluarganya mengambil Papi nya, membunuh adiknya membuat mami nya sakit sakitan sampai sekarang, apa pantas perbuatan mereka di maafkan?.


"Kak aku memang tidak berada di posisi kak Han, tapi aku ikut merasakan apa yang kak Han rasakan, coba untuk saling memaafkan kak, maaf kalau aku lancang masuk kedalam masalah peribadi".


Lagi lagi Han menggeleng, "Sulit buat gue memaafkan mereka, belasan tahun sudah mencobanya, tapi selalu ingat dengan apa yang mereka perbuat".

__ADS_1


"Aku tau dan paham kak, tidak harus sekarang tidak dengan terburu buru, pelan pelan pikirkan bukan kah mbak Shanum juga menderita selama ini, tidak ada yang mau di lahirkan kedunia dalam kesalahan besar, mbak Shanum tidak salah dia tidak tau apa apa".


Han mengangguk, tapi tetap karena adanya dia papinya pergi meninggalkan nya kan.


"Ikhlas menerima jalan dan takdir yang sudah tuhan gariskan ke kita, di luar sana banyak yang lebih lebih menyakitkan kisah hidupnya, bukan aku membandingkan antara hidup kakak dan mereka".


Han mengangguk lagi, baru kali ini bicara tentang masa lalu setenang ini, aura Dira benar benar aura positif sehingga tidak memancing emosinya, padahal Raka dan Kevin sudah dari dulu sering bilang padanya, tapi tutur kata mereka berbeda dengan tutur kata Dira yang membuatnya tenang.


"Tidak harus langsung dekat layaknya adik kakak, pelan pelan biasakan dekat dengan nya dan kontrol emosi, bukan kah hidup akan tenang jika sudah tidak ada lagi rasa dendam dalam diri kita".


Galang mengangguk, benar kata Dira jika kita memperluas hati memaafkan kesalahan orang orang yang telah membuat kita hancur itu lebih tenang dan terasa damai.


Galang menepuk pundak Han, memberikan semangat.


Raka diam mendengarkan kata demi kata yang Dira ucapkan pada Han, Raka merasa Dira penyatu dan orang yang berpengaruh berada dalam lingaran mereka.


Sekarang bukan Kevin lagi yang berpengaruh, laki laki itu sedikit demi sedikit tersingkirkan oleh Dira istrinya, adanya Dira di dalam lingkaran mereka membawa sisi positif dan berpengaruh besar.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....................💋


Jangan lupa like😘😍


__ADS_2