
Masih terus memandangi wajah lelap istrinya, tidak henti hentinya bersyukur karena Dira sudah balik lagi dan mau mempercayai dirinya kembali.
Cantik banget wajah teduh tidak bosan di pandang, di dalam remang remangnya lampu tidur Kevin masih bisa menatap Dira dengan jelas, ehh ada yang Kevin lupa pantas dari tadi ada yang beda dengan istrinya, ternyata Dira sudah membuka kerudung di hadapannya sekarang.
Mengelus kepala sampai ujung rambut, "Lembut wangi banget sayang, bisa bisa aku nempel terus sama kamu kalau begini", ucap Kevin berbisik sambil terkekeh.
Mencium aroma wangi dari tubuh dan rambut Dira membuat Kevin merasa tenang, memeluk dengan erat seolah tidak ingin lepas, memang benar Kevin tidak ingin dan tidak akan pernah melepaskan wanita satu satunya yang sudah hampir membuatnya gila hanya karena di abaikan.
Keduanya terlelap sampai pagi menjelang, Dira merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat suaminya di suhu ruangan ber AC 19°, ini malam kedua mereka tidur bersama dan saling memeluk.
Ughh melengguh semalaman badannya di timpa tangan dan kaki kekar Kevin.
"Pantas nyaman banget ternyata 2 malam ini selimutnya suami hehee", dengan sayup sayup sisa kantuk Dira memandang dan mengelus rahang tegas Kevin.
Kelihatan sekali wajah laki laki ini sangat lelah.
Merasakan usapan lembut Kevin membuka matanya lalu tersenyum, "Mimpi apa pagi pagi buka mata di suguhin bidadari?", senyum yang tidak pernah orang lain lihat.
"Gombal", saut Dira sambil tersipu malu, Masya Allah di puji suami ternyata sedag dig dug ini hehee.
"Nyatanya seperti itu, selamat pagi sayang", mencium kening Dira lumayan lama.
"Shalat jama'ah yuk bisa kan?".
"Insya Allah bisa sayang", sebenarnya bukan tidak bisa, Kevin bukan orang yang buta dalam agama juga hanya saja mengikuti kesibukan dunia menjadi abai ke bekal akhiratnya.
"Baru setengah lima mas mau mandi atau ambil wudhu aja?".
"Ambil wudhu aja nanti siangan baru mandi boleh kan?".
Dira mengangguk, baru juga 6 jam kan setelah mandi tadi malam, lagian mereka tidak harus mandi wajib, begitulah pikir Dira.
Selesai shalat di imami Kevin, keduanya sama sama mengucapkan kata maaf.
"Mas bukan orang yang ta'at agama jangan bosan untuk selalu mengingatkannya sayang, maaf ya terbalik yang seharusnya mas membimbing kamu".
"Dalam 1 pernikahan yang artinya menyatukan dua manusia pastinya berbeda sipat dan sikap, kita harus sama sama saling melengkapi saling mengingatkan", dalam dekapan Kevin Dira mendongak menatap suaminya.
"Terimakasih sayang". Selesai shalat dalam satu sejadah keduanya berpelukan, semoga apapun cobaan pernikahan mereka kedepannya Kevin dan Dira bisa melewatinya, terus saling menggenggam meskipun hujan badai yang menerpa keduanya.
Kevin yang merasa masih ngantuk minta untuk tidur lagi, sebenarnya tidak bagus setelah subuh tidur lagi namun badan lelah nya minta untuk di istirahatkan kembali.
"Ngantuk boleh tidur lagi gak?", tanya Kevin.
Melihat muka melas suaminya Dira mengangguk dan tersenyum.
"Peluk ya".
__ADS_1
Lagi lagi Dira mengangguk, naik ke kasur menarik selimut, menyelimuti Kevin yang mulai memejamkan mata, seperti seorang ibu yang menidurkan anak nya, sebab Kevin menelusupkan kepalanya ke dada Dira mencari kenyamannan disana.
Dira mengeliat geli, ya Allah pertamakalinya seperti ini, dulu hanya membaca buku dan sekarang memperaktikannya.
Setelah Kevin benar benar terlelap, Dira melepaskan tangan Kevin yang memeluknya dengan hati hati, setelah itu keluar dari kamar menuruni tangga, sudah terbiasa melakukan kegiatan seperti ini jadi jika sudah bangun tidak betah kalau hanya tiduran saja.
.
.
"Bu mau bikin apa?", melihat dua orang yang sudah sipa tempur dengan wajan wajan yang ada di dapur.
"Ya Allah non kaget", bu Asmi sampai terjengkat saking kaget nya, padahal suara Dira sangat lembut di dengar.
"Ya Allah bu maaf Dira bikin kaget ya, maaf gak bermaksud buat ngagetin ko", tidak enak hati.
"Hahaha bu Asmi terlalu serius aja non makanya jadi kaget", ucap yang satunya.
"Ehh iya gak apa apa non haha tadi karena terlalu serius".
Lagian harusnya bos itu jam segini masih di kamar apalagi masih muda kelonnan terus sama suami gak mau lepas hehehe, non Dira emang beda dari yang lain jam 5 sudah ada di dapur pantas nyonya kelihatan sayang banget sama mantunya toh wong mantunya sangat baik begini gak bakal nemuin lagi di luaran sana.
Alhasil buka bu Asmi dan bu Yati yang masak jadinya Dira yang masak mereka berdua hanya membantu Dira, suasana dapur sangat rame beberapa kali terdengar tawa renyah disana.
Salah satu Do'a mama Sarah yang Allah ijabah mendapatkan menantu yang luar biasa, bisa menambah kehangatan di keluarga mereka karena menurut mama Sarah tidak perlu yang mempunyai karir cemerlang, yang paling penting bisa mengurus keluarga dengan baik sebab Kevin mencari istri bukan mencari saingan untuk mendapatkan pundi pundi uang.
"Selamat pagi ma", sapa Dira sambil tersenyum meskipun kedua tangan nya sibuk mengaduk tumisan sayur.
Duh kalau kaya gini bukan cuma Kevin yang tergila gila sama kamu Nadira, mama juga jatuh cinta sama kamu yang sopan dan sangat ramah.
"Pagi anak cantiknya mama", mencium pipi Dira tanpa ragu, salah satu keinginnan nya punya anak perempuan tapi ternyata Allah tidak mengijinkannya, Alhamdulillah di kasih menantu yang luar biasa menurutnya, sebab manusia tidak ada yang sempurna.
Dira dan Ibunya tidak bisa di larang untuk mengikuti sedikit sedikit pekerjaan disana, padahal mama Sarah sudah puluhan kali melarang besan dan menantunya ini.
Jawaban dari keduanya dan dengan alasan tidak enak karena sudah biasa kerja jadinya mama Sarah tidak bisa apa apa.
Jam 6 lewat selesai masak Dira masuk ke kamarnya lagi berniat untuk membersihksn diri, melihat Kevin yang semakin menggulung badan nya Dira tersenyum.
Tanpa Dira duga keluar dari kamar mandi ternyata Kevin menunggunya di depan pintu, untung saja pakaiannya sudah lengkap hanya kepala yang di gulung handuk.
"Kena kamu hahaha", Kevin mengangkat Dira sambil tertawa puas.
"Mas turunin Dira mas ahhhh mas Kevin", Kevin benar benar memutar mutar tubuhnya.
"Jangan kencang kencang teriaknya sayang nanti di kira kita bikin Kevin junior", bisik Kevin sengaja di telinga Dira langsung.
"Turunnin dulu makanya, bikin kaget aja ko udah bangun".
__ADS_1
"Mau cium wangi kamu abis mandi hehee", langsung mencium habis seluruh muka Dira, terakhir di bibir.
Kali ini tidak sekilas tidak seperti kemarin, karena lumayan lama, batin Kevin menjerit meronta, bibir Dira memabukan rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata, bahkan dengan tidak sadar menekan tubuh dira di ujung sopa dan bersandar pada tembok.
Semakin menekan dan menggesekan yang sudah berdiri di bawah sana, paha istrinya jadi sasaran benda tumpul yang meronta ingin keluar dari sarangnya.
Dira hanya bisa pasrah tidak tau harus berbuat apa, tangan Kevin tidak tinggal diam menekan dua gundukannya.
Merinding merinding sedap merasakan benda tumpul yang menyentuh pahanya, Dira menggeleng merasakan panas dan basah lehernya karena ulah Kevin, bibirnya di sudah kebas.
Tidak puas Kevin mengangkat Dira membawanya ke atas kasur, dengan tidak sabar dan terburu buru langsung menyibakan baju, akhhh melihat gundukan mengugah seleranya dengan rakus Kevin langsung meraupnya, semakin tidak sadar menekan kencang senjatanya di sela sela paha Dira, mengigit kecil saking gemasnya.
"Akhhhh sakit", Dira mengaduh membuat Kevin sadar atas perlakuannya yang sangat berutal.
"Maaf sayang maaf, maaf mas gak ijin dulu", mengusap lelehan air mata Dira.
Sakit sekaligus malu bercampur menjadi satu, Dira menggeleng, "Gak apa apa, tapi jangan kencang kencang".
Kevin tersenyum, berutal banget gue batinnya menyadari melihat bekas gigitannya tadi merah pantas Dira menjerit hahahaa.
Masih di atas Dira menekan senjatanya, gila baru gini juga sudah bikin basah akhhh apalagi lebih dari ini.
Pelan pelan merapihkan kembali baju istrinya sambil tersenyum mengingat keberutalannya, ck kancing baju Dira copot 2 membuatnya terkekeh.
"Lita sayang maaf ya".
Haihhh Dira semakin di buat malu, Kevin ini benar benar deh.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...................💋
Auuuuu akhhhhh Utor bingung nulisnya nih huwaaa😭
Jangan lupa like dan comment nya ya😍😍😍
.
__ADS_1