
Sudah jam 1 malam Dira masih belum bisa memejamkan mata, bayang bayang di tarik paksa oleh Ricko terus saja memutar di otak nya.
Astagfirullohalazim Astagfirullohalazim tidak henti mengucapkan istigfar.
Seingatnya tidak pernah melakukan kesalahan pada manusia itu, bahkan bertemu juga hanya keduakali tadi siang.
Membolak balikan badan mencari posisi senyaman mungkin, jam 2 baru bisa tidur.
.
Kevin pun sama tidak bisa memejamkan mata semeraut pikirannya kemana mana, iya merasa semua masalah menumpuk padanya.
Berkali kali ingin mengirimkan pesa pada Nadira namun tidak jadi takut Dira sudah tidur lalu mengganggunya.
...Mama....
"Ma Nadira baik baik saja kan?".
"Dia gak ada yang luka kan?".
"Ma aku titip Dira ya, di sini kerjaanku masih banyak".
"Dira kalau masih mau kerja tolong antar jemput jangan biarin dia bawa motor sendiri".
"Maaaa balas pesan anak aja lama banget sih".
Akhhhhh tidak tau apa anak nya sedang cemas, tidak mungkin mama Sarah tidur se lelap itu sampai pesan dari Kevin saja tidak terdengar.
.
.
Mama Sarah hanya tersenyum melihat deretan pesan dari Kevin, ternyata Kevin bisa secemas itu padahal Nadira baik baik saja.
Sengaja tidak memberi tau Kevin kalau Dira sudah aman di rumah, toh Kevin juga pasti tau mantau dari cctv.
...Kevin👪...
"Dira aman di sini Kevin".
__ADS_1
"Kamu ini ya, kalau pun kamu gak nyuruh di antar jemput mama sendiri yang akan antar jemput dia".
"Gak usah bilang titip dia bukan barang Kevin, Nadira menantu mama".
"Kamu fokus kerja saja".
"Makanya jangan kebanyakan gengsi tlpon langsung ke orangnya apa susah nya".
"Kamu seharusnya lebih bisa tenangin dia, Dira jadi begini merasa tidak nyaman dan takut juga karena kamu yang punya masalah sama Ricko".
.
.
Pagi harinya Dira sudah siap mau kerja, berat sebenarnya tapi ada tanggung jawab yang lebih besar.
"Ma, Pa Dira mau kerja ya", pamit pada kedua mertuanya.
Papa Raden menyengit bingung, kerja, kerja kemana Dira masih kerja, terus untuk apa Kevin mencari uang kalau saja istrinya masih kerja.
Tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga anak nya, yang papa Raden tau keduanya baik baik saja seperti pasangan pada umum nya.
"Dira masih kerja?", menatap menantu dan istrinya bergantian.
"Nanti mama anter ya sekalian mama juga mau ke tempat teman, Dira sarapan aja dulu yuk".
"Jangan ma Dira gak mau repotin mama".
"Mama gak repot kamu tau sendiri kerjaan mama tiap hari cuma ngabisin uang papa hahaha".
"Duduk dulu sarapan sebelum kerja harus sarapan dulu".
Aaaa suara papa Raden seperti perintah mutlak tidak bisa di ganggu gugat.
"Iya pa", mertua laki laki terlalu serius jika bicara gak ada santai santai nya tapi baik hehee.
"Papa yang anter kalian hari ini, lebih jauh tempat Dira kerja apa tujuan mama?".
"Tujuan mama yang jauh, mama mau ke tempat Wanda pa".
__ADS_1
"Yaudah nanti kita anterin Dira dulu".
Ketiganya menikmati sarapan pagi mereka, ehhh tapi tidak dengan Dira yang masih merasa kaku jika berada di antara kedua mertuanya.
Selama dalam perjalannan Dira hanya diam mendengarkan obrolan mertuanya, jika di tanya paling menjawab seperlunya.
Ya Allah gini ternyata punya mertua yang jauh beda kehidupannya denganku, aku gak tau apa yang mereka obrolin tentang apa.
Sampai ke tempat kerja telat 2 menit gak apa apa, batinnya.
"Pulang jam berapa Dira?", tanya papa Raden.
"Jam 5 pa".
"Jangan kemana mana nanti papa sama mama jemput sebelum jam 5 ya, jangan pergi sendiri".
Ya Allah aku merasa di ratukan banget sama mereka, gak nyangka bakal sebaik ini mertuaku.
"Dira bisa naik gojek pa, takut papa capek harus jemput Dira lagi".
"Papa kerja sambil duduk bukan lari lari, apalagi mama mau seharian juga mutarin mall gak akan lelah", jawabnya sambil terkekeh.
"Maaf ya Dira ngerepotin mama sama papa".
"Orang tua gak ada yang merasa di repotkan sama anak nya", ucap mama Sarah.
Masya Allah dari ucapan dan perlakuan mereka benar benar terlihat tulus.
Dira turun dari mobil menyalami keduanya, bahkan mama Sarah ikut turun sampai masuk kedalam toko bunga itu memastikan menantunya aman.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..........💋