
Kevin masih diam mencerna omongan mama nya.
Nadira keluar dari ruangan tempat istirahat Kevin bergantian dengan mama Sarah.
"Shalat dulu mas, udah makan?", menyuruh Kevin untuk shalat.
"Iya, lo udah makan?".
"Udah tadi sebelum kesini sama mama".
Ck, Kevin berdecak entah kenapa mendengar Nadira sudah makan merasa kesal.
Kevin melemparkan jas nya kesamping Dira, itupun entah tujuannya apa.
"Kenapa?", tanya nya, bukannya kesal tapi Dira merasa lucu melihat mimik muka kesal Kevin.
Melangkah tiga langkah, membelokan badannya lagi duduk di samping Dira sambil membuka sepatunya.
Ini orang kenapa sih aneh banget, tiba tiba cemberut kaya gitu, batin Dira.
Mama Sarah tersenyum melihat Kevin menggulungkan kemejanya, sejak kapan anak nya ini ingat 5 waktu.
Semakin merasa kagum dengan Dira karena membawa perubahan besar pada anak nya, padahal dirinya saja tidak pernah di dengar jika menyuruh untuk shalat.
"Kamu hebat bisa mengubah dia secepat ini", memeluk menantunya.
Andai mama tau, memang sedikit berubah dari semenjak kami menikah, tapi cuek dan dinginnya masih tetap sama, apalagi menyebalkannya.
"Terimakasih Dira", ucapan yang tulus dan haru.
"Mama jangan bilang terimakasih, mama yang terlalu baik ke Dira, Dira gak bisa ngasih apa apa ke mama".
"Mama gak butuh yang lain ko, mama cuma minta cucu hihihi".
Blushhh, cucu, CUCU huwaaaaa pabriknya saja belum di buka, pipi Dira langsung merona.
"Maaa hee Insya Allah ya do'ain aja".
"Do'a mama selalu untuk kalian", mengelus punggung Dira.
"Mama mau pulangnya ke kantor papa Dira mau ikut kesana?".
__ADS_1
Tadi ngajak aku kesini sampai mohon mohon karena mau di temennin di sini, aku sampai ijin kerja setengah hari, batin Dira.
"Dia biarkan disini, kesana malah tambah jauh pulangnya, aku lagi banyak kerjaan ma takut gak ada waktu buat jemput".
"Hmm yaudah kalau gitu mama mau ke papa dulu".
"Iya ma hati hati ya", meskipun Dira ingin ikut tapi jawaban Kevin tadi bertanda tidak mengijinkannya pergi.
"Iya mama pergi sekarang ya, Dira ingat mama tadi mau apa ya hahaa".
Berutal banget permintaan mertuanya ini, Dira jadi malu sendiri.
Setelah mama Sarah pamit dan keluar dari sana Kevin langsung menatap Dira.
"Tadi Ricko bilang apa sama lo?".
"Ricko siapa mas?".
"Jangan pura pura bodoh Dira".
"Aku gak tau Ricko itu siapa, gak ketemu siapa siapa selain pengunjung toko".
"Mama bilang tadi lo ngobrol sama dia disana".
"Ck terus lo bilang apa?", sorot mata Kevin semakin tajam.
"Ya aku bilang udah punya suami".
Cih, geli tapi syukur dia ngakuin gue.
"Nanya apalagi dia?".
"Nanya nanya tentang bunga simbolnya apa saja udah itu doang".
"Serius cuma itu doang?".
"Minta nomer ponsel".
"Terus lo kasih hah", Kevin semakin merasa geram.
"Ya enggak lah mas".
__ADS_1
"Bagus, awas aja kalau lo sampai ngasih nomer ponsel sama dia, lo harus hati hati sama Ricko, dia bukan orang baik".
Kenapa secepat itu menyimpulkan orang bahwa tidak baik, padahal dirinya sendiri juga jauh lebih tidak baik darinya.
"Gak boleh suudzon mas".
"Nurut dan ingat kata suami Dira jangan suka membantah".
"Iya mas maaf".
.
"Selamat siang bapak Kevin Malik pesannan anda sudah sampai", tanpa permisi Raka langsung masuk.
"Ehh buset ada nyonya bos di sini ternyata".
"Siang kak", sapa Dira senyum ramah.
"Taro cepetan keluar lo darisini".
"Sabar napa gak ada terimakasih nya banget sama gue, teruntuk nyonya bos jangan kasih senyum ke orang lain ya ngeri soalnya kalau si singa sudah cemburu".
"Raka Ramdani 2 bulan ini jangan harap lo nerima gaji apalagi bonus".
"Buset pelan pelan pak, kalau cemburu ya bilang gak usah gengsi".
"Musnah lo dari dunia ini".
"Ih seram kali lah bapak ni cakap macam tu".
Puncak kesal Kevin jika sudah mendengar Raka bicara seperti itu, bolpoin yang ada di tangannya langsung melayang ke arah Raka.
Sedangkan Raka yang melihat tangan Kevin sudah terangkat langsung lari keluar darisana.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.........💋