KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA

KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA
Part. 68


__ADS_3

Nadira masih berdiri di depan kaca sambil terus menggeleng, Kevin sudah seperti drakula mengerogotinya dengan berutal, banyak sekali tanda yang laki laki itu buat dalam hitungan detik mungkin.


"Kenapa sayang?", bertanya sambil memeluk istrinya, padahal baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sebatas pinggang.


"Pindah profesi ya pak menjadi drakula?", mengelus kepala Kevin yang masih sangat basah.


"Sembarangan suami di bilang drakula, itu ukiran termahal aku loh", mencium pipi Dira dengan gemas.


"Kenapa gak pake baju tadi kan bawa baju kesana, ahhh mas jadi basah kan baju aku", haihh baru sadar kalau Kevin tidak pakai baju Dira langsung memalingkan wajah nya, gak kuattttttt tubuh suaminya menggoda iman.


"Serius nih gak mau lihat geratis lo sayang, ck orang lain aja pengen banget liat aku telanjang kaya gini kenapa kamu di kasih langsung juga gak mau", sambil tertawa Kevin mengambil kembali bajunya ke kamar mandi.


Astagfirulloh demen banget bikin istrinya jantungan dari tadi.


Jantung aku udah kaya abis maraton lari dari kejauhan 10 km, batin Dira.


Lagi lagi Kevin dengan santai memakai baju di hadapan Dira.


"Sayang tolong", Kevin menyerahkan handuk yang ada di tangan nya.


Dira tau apa yang Kevin maksud, langsung mengambilnya lalu menggosok pelan rambut basah laki laki itu.


Duduk di atas kasur memeluk pinggang Dira sedikit menyandarkan kepalanya, "Jadi males kerja", cicit nya.


"Sejak kapan jadi pemalas?", kenapa berubah jadi bayi gede sih?, meskipun ini keinginnan Dira sejak pertama menikah kaya gini, tapi huwhhh rasanya agak aneh yang biasanya jangankan meluk seperti sekarang bahkan melirikpun tidak.


"Sejak sekarang", andai saja masalahnya sudah selesai semua, Kevin sudah memastikan akan membawa Dira ke kantornya.


"Ayo sarapan", ajak Dira setelah selesai mengeringkan rambut Kevin dengan handuk.


"Sarapa yang kaya tadi boleh gak sayang?".


"Yang mana?", pagi ini kan belum sarapan, pikir Dira.


"Akhhh lupakan, ada kesempatan lagi gak akan aku bebasin kamu kaya tadi sayang", mengingat kerjaan menumpuk kasus sama Ricko belum selesai, akhhh andai bisa di banting akan gue banting bating mengganggu saja.


Deg..... Maksudnya,,,,,, ibuuuuuu tolonggg, batin Dira.


"Cantik banget kamu", kalau lagi malu malu gini buset cantiknya berkali kali lipat, apalagi dalam keadaan pasrah seperti pagi tadi huwhhh, Kevin tersenyum menatap wajah Dira yang semakin memerah.


"Awww makasih pujiannya bapak Kevin Malik hehee, meskipun gak cantik cantik banget ya", Dira berusaha santai, tolong dong kasih aku tali mau terbang nih di puji pak suami, aaaa pertama kali di bilang cantik rasanya senano nano ini heheee.


"Siapa bilang, istriku tercantik di dunia", lagi lagi mengambil kesempatan dalam kesempitan, bibir Dira sudah sangat candu untuknya.


"Lama lama bengkak ini, udah kerasa tebal banget", ucap Dira setelah Kevin melepaskannya.

__ADS_1


"Manis banget soalnya jadi bikin candu", mengelus kepala Dira sambil tersenyum.


Huwhhh, apa orang orang punya suami seperti ini juga ya, batin Dira.


Tidak aman kalau di dalam kamar terus, badan nya selalu di pepet Kevin, jantung Dira sudah gak aman sejak tadi.


.


.


Keduanya menuruni tangga, dengan posesif nya tangan Kevin selalu menempel di pinggang istrinya.


Ya Allah malu banget semua orang sudah ada di meja makan untuk sarapan, untung pakai kerudung jadi ukiran Kevin di lehernya tertutup.


Dira menyapa semua orang yang ada disana.


Menikmati sarapan pagi dengan sedikit obrolan kecil, keluarga ini menjadi keluarga besar, bu Irma niatnya hari ini pulang dulu membereskan barang barang yang ada di rumah nya.


Sebenarnya mama Sarah tidak mengijinkannya, kalawpun tidak mau tinggal bersama dirinya di rumah ini, setidaknya pilih salah satu rumah yang ingin di tempati besan nya itu, ada dua rumah yang tidak terpakai, agar tidak terlalu jauh di pinggir kota lagi.


"Ibu di antar siapa ma?", tanya Kevin, selain istrinya yang harus di nomer satukan ada mertua juga yang harus di perhatikan.


"Pak Maman sopir mama, mama hari ini mau ikut papa ke acara kantornya".


"Ibu jangan terlalu di pikirkan nak Kevin, semoga urusan kamu cepat selesai ya".


Dira melihat pemandangan itu membuat hatinya menghangat.


Ke empat laki laki itu pun pamit mengikuti Kevin, "Hati hati ya semuanya, jangan lupa berdo'a", ucap bu Irma.


Raka, Han dan Galang juga ikut mencium tangan bu Irma, usapan lembut di punggung mereka dari tangan nya membuat ke empat laki laki itu menghangat.


"Hati hati bu jangan terlalu capek, harus sehat terus", Galang memeluknya.


"Ibu akan hati hati dan sehat kan mau liat anak anak tampan ini pada nikah dan punya anak, terus ibu punya cucu banyak".


Duarrrrr Han yang merasa ter tampar di sini, gue selama ini sering buang buang bibit unggul batin nya.


Berbeda dengan Kevin yang merasa mendapatkan batrai full, semakin tidak sabar.


"Nah betul itu mbak", mama Sarah membenarkan sambil tertawa.


"Han, Raka, Galang dengar ibu kalian ingin cepat punya mantu dan cucu".


"Om calon nya aja saya gak punya", ucap sedih Raka.

__ADS_1


"Kevin yang suruh cepat buatkan cucu tuh om", Han melirik Kevin mengejeknya.


"Gak lo suruh juga gue sudah berusaha", saut Kevin.


Tidak Dira rasanya ingin menghilang saja dari sana ketika semua mata tertuju padanya.


"Yaudah berangkat sana, hati hati kabarin terus mama ya", seperti tenang, nyatanya mama Sarah tidak setenang itu mengingat anaknya sedang menghadapi masalah yang lumaya besar sehingga melibatkan polisi dan sidang beberapa kali, hanya saja berusaha tenang dan do'a, dorongan semangat untuk anak semata wayangnya.


"Ma", Kevin mencium tangan dan kedua pipi ibunya, walawpun tidak bersalah orang yang di hadapinya ini orang yang sangat licik.


Do'a dari kedua orang tua, istri dan orang orang terdekatnya sangat Kevin butuhkan.


"Lakukan yang terbaik, papa yakin kamu bisa", papa Raden menepuk pundak Kevin beberapa kali.


Dira mengantarkan Kevin ke depan, menyalami suaminya, "Hati hati", perasaan takut terus mengganjal di hatinya.


"Ko sedih sih mukanya, jangan sedih ya janji setelah ini kita liburan kemana yang kamu mau".


Yang Dira sedihkan takut Kevin di penjara, berurusan dengan polisi benar benar membuatnya tidak tenang, apa mungkin terauma.


"Kabarin ya jangan kaya kemarin".


"Iya sayang aku sudah suruh Raka beli ponsel lagi", Kevin memeluk Dira, mencium kening berkali kali.


Cih tiga orang yang di belakang hanya bisa menonton kebucinnan Kevin dan Dira, meskipun kesal namun rasa senang lebih besar melihat Kevin bahagia dengan pernikahan nya setelah melalui beberapa masalah.


"Bang, kak Han kak Raka hati hati", Dira menatap ketiganya.


"Siap bu bos", ucap Raka dan Han.


Galang hanya tersenyum dan mengelus punggung Dira.


Kevin sudah tidak cemburu sebab Galang dan Dira sudah menjelaskannya, lagipula Kevin yakin ketiga sahabatnya ini tidak akan menghianatinya.


.


.


.


.


..


.

__ADS_1


Bersambungg............💋


__ADS_2