KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA

KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA
Part. 62


__ADS_3

Maaf maaf dan terus menerus kata maaf yang Kevin dan Galang ucapkan ke keluarga Dira, entah kebetulan atau gimana kedua mertuanya Dira juga datang kesana.


Suasana ruang rawat pak Irwan penuh, dokter tidak bisa berbuat apa apa sebab permintaan pasiennya untuk tidak ada keluarga yang keluar dari ruangannya.


Kondisi pak Irwan menurun derastis, padahal tadi sempat makan dan tertawa melihat derama dari 4 laki laki yang ada disana.


"Nak maafkan suami kamu, ini semua salah paham, tidak ada manusia yang tidak melakukan kesalahan di dunia ini, apalagi kita yang hanya manusia biasa, setidaknya kamu harus mengingat salah satu kebaikannya", bicara dengan susah payah dan suara kecilnya.


Dira mengangguk, aku bukan tidak memaafkan nya, tapi aku tidak menyukai sikap ketidak jujuran darinya.


"Istirahat pak jangan banyak gerak dan bicara dulu, bapak harus sehat lagi, Dira masih belum bisa buat bapak bahagia".


Pak Irwan tersenyum kecil, "Bapak sudah sangat bahagia, sudah menjadi wali nikah kamu, kamu sudah berada di tangan laki laki yang tepat, suami kamu sangat baik, mertua kamu juga baik hanya itu do'a bapak dari dulu, sekarang bapak tenang dan senang nak".


"Pak", jangankan anak perempuan bahkan anak laki laki saja tidak mau di tinggalkan oleh seorang Ayah, ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuan, sosok laki laki yang menyayangi dan melindungi tanpa mengharapkan pamrih.


Menghembuskan napas terakhir dengan tersenyum, seolah ikhlas, bebas tanpa beban, sudah tidak di hantui rasa bersalah, semuanya sudah terbuka bahwa bukan dirinya yang bersalah.


Keberatan meninggalkan istri dan anak semata wayangnya, sudah tidak lagi sebab anaknya sudah berada dan bersama laki laki yang tepat.

__ADS_1


Sekarang dirinya menyusul keluarga bos baiknya dengan senang.


.


.


Kepulangan jasad, Pemakaman dan keperluan lainnya Raka yang urus semua.


Dira tidak berhenti mennagis, begitupun Galang yang merasa tidak berguna, kenapa bukan dirinya saja yang mati menyusul keluarganya.


Setelah pulang dari pemakaman keadaan Galang acak acakan, laki laki itu lepas kendali lagi, tidak ada yang bisa menenangkannya, Raka dan Han sudah kuwalahan dengan amukan Galang.


"Bang", Dira membuka pintu kamar tamu yang ada di rumah mama Sarah, suara pecahan dan barang yang mengenai tembok terdengar keluar.


Galang yang sedang berjongkok dan memegang kepalanya, melirik ke arah pintu yang terbuka, "Hahaa sini bunuh aku yang tidak berguna ini, bunuh manusia bodoh ini", ucapnya tertawa di iringi lelehan air mata.


Cih Han yang manusia setengah mafia saja sampai mengusap mata melihat kondisi Galang, Raka dari tadi terus mengelap matanya menggunakan lengan baju.


Tanpa ragu Dira berlari dan memeluk Galang, ternyata seperti ini keadaan Galang lebih tersiksa dan tertekan darinya.

__ADS_1


Keduanya sama sama menangis saling memeluk, tangisan Dira dan Galang sangat pilu membuat ketiga laki laki yang ada di sana juga ikut menitihkan air mata.


Han menepuk pundak Kevin, seolah berkata biarkan mereka mencurahkan kerinduan sekaligus kesedihan.


Kevin mengangguk, mau bagaimanapun Galang lebih dulu mengenal istrinya, entah seperti apa masa kecil mereka, sorot mata dari keduanya sangat terlihat bahwa saling merindukan, hanya saja salah satu kejadian yang membuat keduanya terpisah bahkan diantara salah satunya membenci.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambunggggg.........💋


Jangan lupa like dan comment, love buat para pembaca❤❤❤, terimakasih sudah berkenan mampir melihat karya abal abal Utor yang masih belajar ini.


__ADS_2