
Terlihat biasa bukan berarti hati sedang baik baik saja, Dira berusaha untuk tidak bersedih lagi, pak Irwan sudah tidak merasakan sakit bahkan tidak harus bolak balik rumah sakit.
Hari kedua semuanya masih kumpul di rumah mama Sarah, tidak ada yang di ijinkan pulang satu pun, apalagi bu Irma, mengadakan tahlilan juga semua biyaya Kevin yang tanggung.
Dira sedang berada di dapur, mengalihakan kesedihan mencari kegiatan sendiri.
"Sayang", panggil Kevin.
"Astagfirullihalazim, kebiasaan bukannya kalau datang itu salam, bikin orang kaget aja", Dira sampai mengusap dada saking kagetnya.
Apa bedanya sih, mau di ucapin salam atau di panggil apa ya tetap aja kalau kaget akan tetap kaget, batin Kevin.
Iya deh gue salah, gue lupa sumpah, menggaruk kepalanya tidak gatal, padahal dari kantor sudah ngebayangin datang langsung peluk istri.
"Ehh iya maaf lupa, udah kangen banget soalnya, Assalamua'laikum lagi apa?", menatap muka istrinya yang tidak terlihat semangat.
"Walaikum salam, gak tau mau bikin apa bingung".
"Capek?, kenapa di kerjain sendiri kan bisa suruh mereka".
"Aku gak biasa, jadi sungkan mau nyuruh orang lagian gak lagi ngapa ngapain".
"Aku sama papa kerja karena buat bayar mereka, supaya hidup kamu sama mama senang bisa nikmatin hasil kerja kami", mengelus kepala Dira.
"Ya tapi", belum sempat Dira menyelesaikan ucapannya.
"Setidaknya minta di bantuin atau di temennin mereka sayang, mereka ada di sini juga karena mau kerja kan".
Kevin dapat laporan dari mama Sarah kalau Dira apa apa mau mengerjakan sendiri.
"Iya", mengangguk.
"Ini mau bikin apa lagi?, kata mama tadi siang udah bikin kue".
__ADS_1
"Gak jadi bingung soalnya, iya udah tuh di meja, mau cobain?, aku udah pisahin sih buat kamu ada di kamar", sedikit menjauhkan badannya dari Kevin, "Mandi dulu sana, aku udah siapin baju gantinya kirain pulang malam".
"Banyak kerjaan sih, kangen sama kamu di tlpon gak di angkat terus", bersedekap dada menyandarkan punggungnya ke lemari, menatap Dira.
"Aku lupa ponselnya di taro dimana, dari pagi gak liat ponsel".
Sabar Kev sabar, istri lo emang gini jadi harus tahan dan sabar, batin Kevin.
"Biasakan jangan lepas ponsel sayang, mas susah banget hubungin kamu, kalau ada apa apa juga jadi susah kasih kabar".
"Iya, Insya Allah".
Masih aja dingin, gak ada senyum bicara juga gak pernah mau natap, apa gue kemarin kemarin kaya gini ya, ternyata di cuekin gak enak.
"Aku mandi dulu ya".
"Iya".
"Ikut kemana?".
"Mandi bareng hehe".
Haihh Dira langsung membuang mukanya, menaruh lagi peralatan yang tadi dirinya keluarkan.
Kevin tersenyum sambil keluar dari dapur, kalau lagi liat salting gitu rasanya ingin langsung membopong Dira membawa ke kamar, apalah daya orangnya baru saja mau di ajak bicara tidak terus menghindar juga sudah syukur.
"Ini kue beli dimana?", tanya Han yang sedang mengunyah kue sambil mengambil minum dingin.
"Aku yang buat kak, gak enak ya?", tanya Dira.
"Hah serius?", gila super lengkap amat ni cewek, batinnya, pantas Kevin bucin.
"Iya gak enak ya?".
__ADS_1
"Enak banget sumpah, yang bilang gak enak fiks lidahnya bermasalah", mulut Raka penuh dengan makannan.
"Bener Ka, sumpah gue baru nyobain kue kaya gini enak banget ternyata".
"Bu bos makin buat pak bos tergila gila".
Hih Dira merasa malu, pujian Raka dan Han membuatnya merasa ingin terbang.
"Yaudah kak aku tinggal dulu ke atas", pamit Dira, gak aman kalau dekat mereka yang selalu menyanjungnya.
.
.
Pov: Kevin Malik, mau makan nya juga sayang, tau aja kalau suka banget sama keju.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..............💋
__ADS_1