
Galang menatap Kevin dengan sengit, kejadian 5 hari yang lalu membuatnya benci pada Kevin, Kevin berbohong padanya.
"Lo tenang dulu Lang bagaimana gue bisa jelaskan ini semua kalau lo gak bisa tenang kaya gini", sudah hampir 2 jam Kevin berada di kamar Galang bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah karena kena di tonjok Galang, pipi jangan di tanya lagi sudah entah berapakali kena tonjok.
"Pergi lo jangan muncul lagi di hadapan gue", lagi lagi Galang melompat dari atas kasur mencekik Kevin.
Untung saja Kevin bisa menghindar dari cekikan Galang, menekan galang ke sisi tembok.
"Lo dengar gue dulu kali ini aja, gue sudah mengumpulkan semua bukti, ayo kita lihat siapa yang salah selama ini, tenangkan diri lo jangan kaya gini, gue akan tetap berada di samping dan berpihak sama elo jika memang pak Irwan yang salah".
Galang terduduk di lantai sambil menunduk, punggung laki laki itu bergetar, bahkan dirinya juga membenci sipatnya yang seperti ini, entah kenapa jika sedang emosi sering tidak terkontrol padahal sudah mati matian untuk mengontrol emosinya, mengingat orang tua dan adik adiknya Galang tidak bisa mengendalikan diri.
"Gue akan selalu ada di pihak lo Lang, lo gak hidup sendiri, lo udah gue anggap kakak dan lo harus ingat dengan jasanya om Bagas selama ini, dia begitu menyayangi lo".
"Gue benci pembunuh Kev gue benci, gara gara dia Ayah dan Bunda ninggalin gue sendiri di dunia ini".
"Lo gak sendiri, masih ada gue Om Bagas dan tante Iren yang selalu ada buat lo, lihat tante Iren yang selalu nangisin keadaan lo selama ini".
Kevin membawa Galang untuk duduk di sopa, hatinya ikut menciut mengangkat tubuh sahabatnya, Galang sangat kurus.
"Tenangkan diri lo, kita lihat semuanya".
Kevin membuka laptop yang dirinya bawa tadi, menyerahkan bukti tertulis pada Galang, mengumpulkan semua bukti cctv yang Handoko berikan padanya.
Keduanya terdiam menatap gambar vidio merah putih, memperhatikan gerak gerik orang orang yang ada di dalam nya.
.
.
__ADS_1
Ternyata setelah pak Irwan membenarkan sepeda Galang yang ada di samping mobil itu dan keluar dari sana, tidak lama ada orang lain lagi yang masuk kesana.
Sebelum pergi, Ayah Galang menyuruh pak Irwan untuk mengambilkan berkas yang ada di ruangan kerjanya.
Sangat jelas terlihat ada yang masuk lagi kesana setelah pak Irwan keluar, 1 kesalahan pak Irwan lupa mengunci kembali pintu ruangan kerja Ayah Galang di waktu itu karena terburu buru.
.
Galang membaca laporan yang Kevin dapatkan.
Ada beberapa kali pemalsuan tanda tangan disana tercatat, bahkan setelah kejadia kecelakaan ada salahsatu kartu atm yang terkuras, padahal pas di tanggal itu pak Irwan sudah berada di kantor polisi.
Sertifikat rumah dan tanah ada 2 yang tergadai, perusahaan penundaan Ayahnya ternyata sekarang di ambang kebangkrutan.
Siapa yang memegang perusahaannya sekarang, bukan kah yang Galang tau perusahaan Ayah nya di pegang oleh orang kepercayaan nya.
Sandi adik tiri dan Arfan kakak kandungnya ayah Galang, pemegang semua peninggalan orang tuanya.
Kemana saja mereka selama ini tidak mencarinya, lalu di malam itu siapa yang datang mengunjungi rumahnya, Galang yang tidak sadarkan diri dikala itu menjadi tidak tau apa apa.
Lembar demi lembar Galang baca sambil terus mencocokan dengan bukti cctv yang ada di depannya, meskipun bukti dari cctv banyak yang terpotong karena ulah kedua manusia bejad.
Deg.... Terbukti di sini bahwa pak Irwan hanya di jadikan kambing hitam oleh adik dan kakaknya ayah Galang.
Yang membuat Galang lebih murka lagi, ternyata dirinya di buang saat sedang tidak sadarkan diri bahkan sedang sakit di waktu itu.
.
.
__ADS_1
"Apakah mereka berdua masih hidup Kev?", tanya Galang.
"Pak Arfan sudah meninggal karena gagal ginjal, sedangkan Sandi sekarang sedang terlilit hutang".
"Hahaa cerdik sekali mereka selama ini, berikan bukti ini semua pada polisi, tolong bawa Sandi ke hadapan gue".
"Sisanya gue akan suruh Raka, apa bapak nya Dira masuk ke rumah sakit sekarang gara gara lo?".
"Ya gue yang meneror nya, tolong pindahkan dia kerumah sakit terbaik di dunia ini, bahkan untuk biayanya jika tidak cukup silahkan jual rumah ini".
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, cih kalau hanya soal biaya dirinya mampu untuk membeli apapu kecuali nyawa.
"Gue tinggal sebentar lagi Raka membawa Sandi kesini, kontrol diri lo ingat ada Om Bagas dan tante Iren yang nungguin dan berharap lo baik baik saja".
"Sampaikan maaf gue ke mertua lo, setelah urusan selesai gue yang akan menghadapnya langsung".
Gue aja belum tentu dapat maaf, batin Kevin sambil melangkah keluar dari kamar Galang.
.
.
.
.
.
Bersambung............💋
__ADS_1