KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA

KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA
Part. 49


__ADS_3

Pagi sekali Dira sudah berangkat kerja, rencananya ini hari terakhir iya kerja, urusan rumah dan sarapan bahkan baju untuk Kevin pakai kerja sudah di siapkan.


Kali ini tidak mau bertatap muka dengan Kevin dulu sebab jika menatap wajah laki laki itu akan membuatnya sakit hati lagi.


Sampai ke tempat kerja seperti biasa, siapa saja yang datang lebih dulu pasti membereskan bunga bunga yang akan di pajang di depan toko.


"Nadira kamu kenapa tidak bisa di hubungi sama sekali, pak Irwan masuk rumah sakit tadi sore", ucap Jidan yang memang sengaja menyusul Dira ke tempat kerja nya, sebab tidak tau di apartemen mana Dira tinggal.


Ponsel Dira sudah tidak berbentuk maka dari itu tidak bisa di hubungi, ponsel yang dulu dirinya pakai di rumah orang tuanya.


"Maksudnya kak?", semua tulang rasanya sudah rontok tidak ada otot satupun yang bisa menopang tubuhnya.


Tidak kan tidak mungkin ya Allah bapak, air mata sudah membanjiri pipinya......


"Kamu aku hubungi dari tadi sore susah sekali, apa kamu membelokir nomer ponselku?".


Dira menggeleng, dengan cepat mengambil tas yang tadi iya bawa, melihat dompetnya tidak ada di sana Ya Allah pasti Dira lupa menaruh nya lagi, kenapa harus lupa sih padahal itu sangat penting sekarang.


"Yumiii aku mau pulang lagi bapak aku masuk rumah sakit", pertamakalinya Dira berteriak seperti tadi, wanita berumur 20 tahun itu sangatlah panik tidak tau harus apa dulu kemana dulu sekarang.


"Kamu harus tenang dulu Dira jangan kaya gini, jangan pakai motor lebih baik naik taxi aja bahaya, atau aku antar ya".

__ADS_1


Dira tidak mungkin naik motor di bonceng Jidan, jangankan sekarang sudah menikah bahkan dari dulu juga tidak pernah mau di bonceng oleh orang yang menurutnya bukan muhrim.


"Nggak kamu di sini aku naik taxi", dengan langkah gontai Dira mencegat taxi di pinggir jalan.


Jidan hanya diam menatap Nadira, bahkan sedang panik seperti ini pun Dira masih tidak mau terlalu dekat dengannya.


Aku paham kamu istri orang Dira, harapanku memang terlalu berlebihan.


Sebelum Dira pergi ke rumah sakit lebih dulu pulang ke apartemen, selain dompet yang tertinggal Dira juga harus minta ijin pada Kevin, mau bagaimanapun tidak mau menjadi istri yang durhaka, sebab menurutnya tidak ada pernikahan bohongan atau hanya bercana.


Masih ingat dengan ucapan kedua orang tuanya kemanapun dia melangkah harus atas ridho dan ijin suami.


Tidak tau bagaimana kondisi bapak nya sekarang, Dira hanya masih berharap dan berdo'a agar semuana baik baik saja.


Sampai saat ini masih sangat teringat tahun lalu pas pemasangan ring jantung bagaimana kondisi pak Irwan.


Ya Allah hanya berdo'a dan terus berdo'a di sepanjang jalan.


Setelah sampai apartemen Dira turun dengan terburu buru, jalan pun tidak begitu terlihat karena airmata yang terus keluar menghalangi penglihatannya.


Keluar dari lift menuju tempat huni terdengar banyak orang disana.

__ADS_1


Mengusap air mata, menyengit bingung ini benar kan ruang kamar yang Kevin dan Dira tempati kenapa sangat terdengar sedang banyak orang di sana.


Pantas suara terdengar sampai ke luar ternyata pintu itu di tutup tidak rapat.


Mendengar Kevin teriak dan suara 1 orang nya lagi tak kalah kencang, suara siapa, ada apa dengan Kevin, kenapa di dalam apartemen nya ini tiba tiba banyak orang.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.......💋


Yoyyy jangan lupa like nya😘🙏

__ADS_1


__ADS_2