
Sampai ke restoran lumayan sepi sebab belum waktunya jam makan siang, kebetulan disana ada Galang dan om Bagas sepertinya baru selesai meeting, berada di ruang vip hanya saja pintunya sedang di buka lebar.
Mengetahui ada Dira dan Kevin Galang langsung bangkit menyapa keduanya.
"Disini?, kalian mau makan?", sedikit bingung belum jam 12 pikir Galang, terus kalau tidak makan mau apa?, tidak mungkin meeting tanpa Raka kan.
Dira langsung menjawab, "Iya mau makan, abang ngapain disini?".
"Baru aja selesai meeting sama om Bagas ayo kesana aja kalau gitu".
"Lo meeting sama siapa?".
"Fadil, gue mau narik dia dulu mau jalannin yang lo saranin kemarin".
"Oke semoga berhasil, gue yakin lo bisa", Kevin menepuk pundak Galang, percayalah pertamakali terjun ke dunia bisnis benar benar pusing dan rasa tidak percaya diri terus menghantui.
"Berkat lo dan terus bantu gue".
Kevin mengangguk, apa yang dirinya gak lakukan demi Galang sebisa mungkin akan tetap mensupport nya.
"Omm", ucapan Dira menggantung, om ini yang selalu membelikan kue es crem dan mainnan tanpa di minta.
"Assalamualaikum om Bagas", menyalaminya.
"Hai cantik Walaikum salam", tersenyum hangat, cantik manis gak kaya dulu, batinnya.
"Om apa kabar?".
"Seperti yang Nadira lihat om sangat sehat apalagi melihat abang sehat, Nadira apa kabar nak?".
"Iya Alhamdulillah, Dira juga Alhamdulillah baik om".
"Sekarang sudah dewasa semakin cantik aja kalau nangis sudah gak ingusan lagi kan?", terkekeh geli, menepuk nepuk tangan Dira.
__ADS_1
"Om jangan bilang di depan orang orang dong", aahh gara gara es jatoh nih dulu batin Dira.
Kevin dan Galang tertawa, "Terus aja ketawain", memanyunkan bibirnya.
"Iya iya maaf itukan dulu beda sama sekarang ya sudah jadi istri CEO muda".
CEO itu apa ya?, maaf banget gak tau apa apa, batin Dira.
"Sayangnya masih sama om kalau nangis ya seperti itu", kurang ajarnya Kevin malah membenarkan lagi, masih ingat kan kemeja yang penuh ingus dan airmata terus Kevin pakai ke kantor bahkan sampai ke meja pengadilan.
Ketiga peria berbeda umur disana tertawa puas.
Dira semakin merasa malu, kesal tapi ya benar apa yang mereka katakan kan, mau marah juga kalau keadaan nya benar gimana.
"Sudah sudah Kev, Lang, nanti ngambek sambil bertolak pinggang", ucap om Bagas lagi.
"Ommmm", kesal Dira.
"Bang", menonjok lengan Galang tidak terasa saking kesalnya, kenapa dirinya di pojokin terus disini padahal niatnya kan kesini mau makan, sudah laper di pojokin terus.
"Yaudah udah mau pesan apa?", Kevin mengelus kepala Dira.
Om Bagas memperhatikan Dira sampai berkaca kaca, karena tidak punya anak jadi siapapun yang dekat dengan nya akan iya anggap anak.
Beruntung sekali anak ini berada di tangan laki laki yang tepat, bahagialah nak sebab masa kecilmu seudah merasakan paitnya dunia.
Galang masih mengusap tangan nya yang lumayan pegal, meskipun begitu tawa nya masih belum berhenti, kenapa tidak dari dulu dirinya menyadari bahwa dunia ini luas dan tidak semua orang tidak berpihak padanya.
"Puasin aja ketawanya terus", ketus Dira.
Kevin melirik Galang dan Galang pun langsung diam, "Maaf ya".
"Hmmm".
__ADS_1
"Jangan ngambek nanti beli moci sepuasnya".
"Suami aku juga bisa beliin banyak", bukan sombong tapi Dira sedang kesal.
Kevin tersenyum merasa di akui oleh istrinya, hatinya bergejolak yes ber oh ria.
"Beda Ra", kekeh Galang.
"Sama sama moci kan, udah deh bang kali ini gak mempan dengan begituan".
"Udah dulu ributnya ayo kita makan", om Bagas menjadi penengah di antara Galang dan Dira percis dulu yang selalu menjadi penengah.
Makan siang mereka di iringi obrolan obrolan ringan, Dira disana menjadi pusat perhatian ketiganya, benar benar di ratukan oleh Kevin dan Galang.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.............💋
Haii semuanya, maaf ya Utor nya beberapa hari ini agak sibuk di dunia nyata, heheee.
Masih pada setia baca disini kan, harus masih dong kasihanilah Utor.
Semoga suka sama karya Utor yang masih banyak belajar.
__ADS_1