KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Lugu Dan Polos


__ADS_3

Part 10


Masyitah memejamkan mata, saat bibir Fadli menyentuh keningnya. Untuk pertama kalinya Masyitah merasakan kecupan seorang lelaki dan Fadli adalah orang pertama yang mengambil darinya.


Sekian detik lamanya Fadli menikmati kecupannya seperti sarapan pagi yang paling spesial baginya, kemudian perlahan dia melepas dan membelai lembut wajah Masyitah.


"Terima kasih, sudah bersedia menjadi makmumku," ujar Fadli


Masyitah mengangkat wajahnya yang sudah bersemu merah, rsa malu bercampur bahagia berbaur menjadi satu dan tak bisa dia ungkapkan lewat kata-kata.


Masyitah hanya mengangguk, kemudian mundur ke belakang lalu melepas mukenahnya dan melipat sajadahnya.


Fadli tersenyum tipis, dalam hati bersorak karena menerima hadiah di pagi hari sungguh di luar dugaannya.


"Pelan-pelan Fadli, jangan main kasar. Sabar kamu layaknya sedang berburu kelinci lucu," gumamnya dalam hati


Setelah merapikan kembali alat shalatnya, Masyitah naik ke atas ranjang lalu kembali berbaring.


"Eh, jangan memancing suasana Ita," geram Fadli


Pikiran Fadli mulai bergerilya, lelaki itu bergegas melepas kopaiahnya dan meletakkan di atas meja kemudian berjalan keluar kamar.


Masih dengan mengenakan sarung dan baju kokonya, Fadli berjalan di sekitar rumah mertuanya untuk menghirup udara pagi yang masih segar.


Dari kejauhan Murni dan Haji Burhan melihat Fadli berjalan sendirian, Murni memyenggol suaminya dan berkata ....


"Pah, bukannya itu menantumu?"


Murni menunjuk dengan bibirnya ke arah Fadli, lalu mata Haji Burhan mengikuti arahan istrinya.


"Iya, tapi kenapa dia hanya sendirian kemana Ita?"


"Apa papa lupa kalau Masyitah itu susah bangun pagi?" Murni justru balik bertanya pada suaminya dengan nada kesal.


"Itu semua karena didikanmu mah, terlalu memanjakan Ita." Murni melotot marah tak terima dengan ucapan suaminya.


"Jangan menyalahkanku pah, papa yang tidak bisa mendidik anak dan istri dengan baik," cecar Murni.


"Baiklah, semua salahku." Haji Burhan mengalah demi menghindari perdebatan dengan istrinya.


Pasangan paruh baya itupun berjalan menghampiri menantu mereka, memgajaknya kembali ke rumah karena hari mulai terang.


"Fadli, kamu sendirian Ita kemana?" tanya Murni berbasa-basi ketika sudah berada di dekat menantunya.


"Masih di kamar mah, setelah shalat tadi dia kembali tidur," jawab Fadli

__ADS_1


"Oh, lain kali ajak dia jangan biarkan seperti itu."


"Iya, hehe." Fadli terkekeh menahan malu.


"Ayo, kita kembali ke rumah. Lebih baik kalian ngopi dulu sembari menunggu mama menyiapkan sarapan." Murni mengajak suami dan menantunya masuk ke dalam rumah.


Ketika sudah di rumah, Murni berjalan masuk ke kamar Masyitah dan berniat membangunkannya.


"Anak ini, kelakuannya memang benar-benar ya," ocehnya sambil menarik handle pintu kemudian masuk ke dalam.


Sesaat Murni berdiri di depan ranjang Masyitah sambil kerkacak pinggang, menatap tubuh anaknya yang masih tertidur lelap di balik selimut.


Murni menarik selimut dan menepuk keras kaki Masyitah, tak cukup sampai di situ dia juga menggoyang-goyang tubuh Masyitah dengan keras.


Sontak Masyitah terperanjat dan langsung melompat turun dari ranjang, tampak wajahnya terkejut dengan rambut acak-acakan.


Menyadari ibunya sebagai pelaku, Masyitah berteriak sekencang mungkin meluapkan kekesalannya.


"Mamaaaa!"


"Kenapa sih? kebiasaannya selalu bikin orang jantungan."


Mendengar teriakan Masyitah, Haji Burhan dan Fadli berlarian saling berebut masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Fadli dengan napasnya yang masih terengah-engah.


Murni dan Masyitah tertegun melihat penampakan dua lelaki di hadapan mereka, masing-masing menunjukkan ekspresi yang berbeda dan terlihat lucu.


Bukannya menjawab, kedua wanita itu malah tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan Masyitah sampai memegang perutnya karena tidak tahan melihat wajah suami dan ayahnya.


Fadli semakin bingung, muncul lagi keanehan baru yang dia temukan di rumah mertuanya. Fadli menoleh pada Ayah Mertuanya meminta penjelasan.


Haji Burhan hanya menggeleng, kemudian berlalu meninggalkan kamar Masyitah.


"Ada apa ini? Sumpah aku bingung melihat kalian," ujar Fadli sedikit kesal


"Justru kalian yang harus ditanya, kenapa berlarian masuk seperti orang yang baru melihat hantu," balas Masyitah yang masih tertawa geli.


"Kami berlari karena mendengar jeritanmu dari kamar," balas Fadli kesal.


"Itu pelakunya, tanyakan Ibu Mertuamu kenapa aku sampai menjerit!" Masyitah tak mau kalah dan menunjuk ke arah ibunya


Murni tersenyum lebar menunjukkan deratan giginya, malu sendiri di depan menantunya.


Fadli menghela napas lalu menggaruk tengkuknya, tingkah mertuanya kadang menggelitik sekaligus menyebalkan pikirnya.

__ADS_1


"Mama tadi membangunkan dia, tapi dia malah berteriak histeris," ujar Masyitah memberi keterangan pada menantunya.


"Tapi jangan begitu caranya mah, bisa-bisa aku mati jantungan padahal belum bulan madu, uupps." Masyitah segera menepuk bibirnya ketika menyadari kata-kata yang baru diucapkannya.


Fadli tercengang, akhirnya dia tahu diam-diam Masyitah juga menginginkannya. Senyum Fadli mengembang saat itu juga.


"Ee ..., eh, aku cuma bercanda yaa jangan ge er kamu!" ujar Masyitah


"Serius juga tidak apa-apa, aku tidak akan keberatan," celetuk Fadli sambil tersenyum penuh arti.


Murni perlahan-lahan melangkah keluar tanpa disadari anak dan menantunya, sebagai orang tua tentunya risih mendengar percakapan pasangan pengantin baru itu.


"Dasarr, anak muda tidak lihat tempat," gerutunya saat sudah berada di luar kamar Masyitah.


"Apa yang barusan kamu katakan Ita? Sungguh memalukan!!" gerutu Masyitah dalam hati


Fadli masih menatap Masyitah dengan tatapan penuh arti, hari ini dia benar-benar merasa beruntung mendapat sinyal kuat dari istrinya.


"Lampu hijau sudah menyala Fadli, tinggal eksekusi," batin Fadli bersorak gembira


Masyitah tak lagi bisa menahan malunya, apalagi Fadli terus menatapnya membuat Masyitah semakin salah tingkah.


Wanita itu bergegas masuk ke kamar mandi, tempat ternyaman untuknya melarikan diri


Dalam kamar mandi, Masyitah terus merutuki kebodohan dan kecerobohannya yang sangat memalukan.


"Aduuuh, kenapa aku jadi sebodoh ini sih? Sampai menyebut kata bulan madu lagi."


Lain halnya dengan Fadli, saat Masyitah masuk ke kamar mandi dia justru tertawa geli mengingat betapa polosnya tingkah Masyitah.


Fadli sepertinya mulai merasa jatuh cinta pada istrinya, Masyitah ternyata gadis yang unik dan lucu dengan kepolosannya.


Sudah satu jam Masyitah mengurung diri di kamar mandi, rasanya dia tak sanggup melihat wajah suaminya itu.


Fadli mulai bosan menunggu, sepertinya Masyitah harus diberi pelajaran biar kapok sembunyi di kamar mandi.


Fadli mengetuk pintu kamar mandi ....


"Ita, buka pintunya aku mau mandi," ucap Fadli di depan pintu.


Masyitah diam tak bersuara, memutar akal agar bisa menghindar dari suaminya.


"Baiklah, kalau kamu tidak mau keluar aku dobrak pintunya dan kita bulan madu di dalam sana!" ancam Fadli.


Mendengar ucapan Fadli, dengan gerakan cepat Masyitah membuka pintu lalu keluar melewati suaminya.

__ADS_1


Fadli tersenyum penuh kemenangan, sejengkal lagi Masyitah akan menjadi miliknya seutuhnya.


__ADS_2