KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Aku Menemukanmu


__ADS_3

Part 38


Gadis bertubuh mungil itu berjalan memasuki salah satu gedung, tanpa dia sadari dua pasang mata sedang mengawasinya dari kejauhan.


"Ris, apa kita akan terus menunggu di sini?"


"Iya, jangan gegabah Yud, apalagi kalau sampai kamu memancing perhatian orang di sekitar bisa gagal misi kita," ujar Haris mengingatkan sahabatnya.


Sembari menunggu Sofia pulang, kedua pemuda itu membicarakan rencana apa lagi yang akan mereka lakukan.


Menjelang siang, Sofia belum muncul juga hingga membuat Yudha mulai gelisah terlebih lagi dia sudah merasa lelah dan lapar. Untungnya mereka bisa berteduh di bawah pohon yang ada di sekitar gerbang kampus.


"Yud, kamu tunggu di sini aku mau beli makanan. Ingat, jangan sampai kamu lengah dan Sofia lolos dari pengawasanmu!"


"Hmm."


Haris mengambil inisiatif untuk membeli makanan karena sejak pagi keduanya memang belum mengisi perut, sedangkan Yudha tetap pada posisinya menunggu dan mengawasi Sofia keluar dari kelasnya.


Sepuluh menit kemudian, mata Yudha menangkap sosok yang dikenalinya berjalan keluar menuju parkiran. Sontak dia panik dan segera bangkit dari duduknya namun, dia menahan diri karena takut Sofia akan melarikan diri.


"Yaa Tuhan, apa yang harus lakukan? Kalau berdiam diri di sini pastinya Sofia akan lolos dan aku tidak bisa menemuinya."


Tanpa berpikir panjang, Yudha segera berjalan cepat menghampiri Sofia yang masih berdiri di dekat motornya.


Sangat hati-hati Yudha mendekati kekasihnya tersebut, sehingga Sofia belum juga menyadari kehadirannya.


Yudha berhenti dan berdiri di belakang Sofia, dia memberanikan diri menyapa meski degup jantungnya berdetak kencang.


"Sofiaa!"


Gleeg ....


Gadis itu menghentikan gerakannya, antara mimpi dan nyata dia mendengar seseorang menyebut namanya dan dia begitu mengenali suara tersebut.


Sofia membeku, detak jantungnya seakan berhenti. Namun, dia belum yakin dengan apa yang didengarnya diam dan menunggu untuk memastikan pendengarannya.


"Sofiaa, sayaaangg!!"


Panggilan kedua, barulah Sofia tersadar dan yakin dengan apa yang didengarnya. Perlahan gadis itu menoleh lalu memutar tubuhnya ke belakang.


Mata Sofia membelalak sambil menutup mulutnya dan bergumam lirih,"astagaaa Yudhaa! dari mana dia tahu aku di sini?"


Tanpa mempedulikan apa pun, Yudha maju dan meraih tubuh gadis di depannya kedalam pelukannya.

__ADS_1


Semula Sofia menahan tubuhnya. Namun, tenaga Yudha jauh lebih kuat hingga membuat Sofia pasrah dan mengikuti keinginan Yudha.


"Sayaaang, aku mencari kemana-kemana," bisik Yudha lirih di telinga Sofia


Gadis itu hanya diam, sesaat dia hanyut dan menikmati suasana bahkan membalas pelukan kekasihnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Yudha.


"Jangan pergi Sof, aku bisa gila karenamu."


Kedua makhluk yang baru bertemu itu tak peduli lagi dimana mereka berada, mereka benar-benar melepaskan rasa rindu yang berapa hari tertahan.


Eheeemmm!!


Deheman keras Haris mengangetkan pasangan kekasih yang saling berpelukan, spontan Sofia melepaskan diri dan menarik tubuhnya mundur dengan wajah bersemu merah menahan malu.


"Acaranya ditunda dulu, waktunya makan siang lapar ini ah!" gerutu Haris


Yudha tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pemuda itu tak ubahnya seekor kucing yang tertangkap basah mencuri makanan.


"Kebiasaan kamu Ris!!" sungutnya


"Makanya lihat tempat, jangan asal nyosor saja," balas Haris sengit.


"Sudah, jangan bertengkar. Lebih baik kita cari tempat untuk makan."


Ketiganya berjalan beriringan dan mereka telah sampai di tempat yang Sofia maksud, Haris menyodorkan sebuah tas kresek kepada Sofia lalu gadis itu mengambilnya dari tangan Haris.


"Ayo, kita duduk dan beristirahat di sini."


Sofia mengajak dua sahabat itu duduk, kemudian dia mengeluarkan bungkusan makanan dari dalam tas dan memberikan pada Yudha dan Haris.


"Ini, makanan kalian,"


"Sof, kamu juga makan dong," ajak Haris. Dia memang sengaja membeli tiga bungkus nasi, yang satunya disiapkan untuk Sofia.


"Iya sayaang, makanlah. Haris membeli tiga bungkus," bujuk Yudha.


"Hmm, baiklah."


Sofia lalu mengambil satu bungkus nasi yang tersisa, ketiganya makan dengan lahap diselingi perbincangan ringan dan juga candaan Haris yang menghangatkan suasana.


"Sof, kamu jangan menghilang lagi ya kasihan Yudha dia hampir gila. Hahhahaha," celetuk Haris sambil tertawa lepas.


Plaakk ....

__ADS_1


Yudha menepuk keras bahu Haris dan berkata,"apa-apaan kamu Ris, bikin malu saja!!"


"Halaahh, jangan menyangkal memang faktanya begitu gkgkgk," ledek Haris.


Sofia hanya tersenyum mendengar perdebatan sengit antara Yudha dan Haris. Namun, jauh di dasar hatinya gundah sebab ada sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan dan cukup menjadi rahasia dalam hatinya sendiri.


Pertemuan mereka kali ini sangat berkesan, bahkan keduanya seakan tak ingin berpisah. Tapi, apa daya waktu tak bisa diajak kompromi mereka harus kembali ke rumah masing-masing.


"Sof, aktifkan nomormu."


Yudha meminta Sofia mengaktifkan kembali nomor ponselnya agar dia bisa saling berkomunikasi lewat telpon.


Sofia mengangguk, kemudian melirik jam di tangannya lalu bepamitan,"aku harus pergi, sudah sore nanti ayah mencariku."


"Iya, hati-hati sayang. Jangan lupa hubungi aku kalau sudah sampai di rumah," pesan Yudha.


Mereka kemudian berjalan menuju parkiran lalu menaiki kendaraan mereka masing-masing, dengan berat hati Yudha melepas kekasihnya pergi karena rasanya belum puas melepas rindu.


Tapi, satu hal yang membuatnya tenang. Dia sudah bisa menemukan Sofia dan bisa memeluknya hingga rasa rindunya sedikit terobati.


Yudha sudah sampai di rumah, setelah sebelumnya dia mengantar Haris pulang lebih dulu.


Baru saja dia memasuki ruang tamu, tiba-tiba suara berat Bagas menyapa dan menahan langkahnya.


"Jam berapa sekarang?"


Yudha terkejut dengan pertanyaan kakaknya, otaknya bekerja cepat mencari alasan apa yang akan dia ucapkan jika nanti Bagas bertanya lebih banyak lagi.


"Dari mana saja kamu Yud, sampai pulang kesorean begini. Hmm?"


"Da ..., daa ..., daari rumah Haris kak." Yudha gugup bahkan sampai tergagap menjawab pertanyaan Bagas yang terdengar pelan. Namun, sangat mengerikan di telinga.


"Yakin, hanya dari rumah Haris?" pancing Bagas lagi.


"Iya kak, yakiin!"


Yudha berusaha menguasai diri dari rasa takut dan gugupnya, dia tahu betul jika Bagas sudah bersuara pelan.Tapi, bahasanya penuh penekanan itu artinya kakaknya sedang menyimpan kemarahan yang teramat besar.


"Kakak harap kamu bicara jujur Yud, karena kamu tahu sendiri apa akibatnya jika sampai ketahuan berbohong," ujar Bagas dengan tenang.


Yudha semakin gusar, ucapan Bagas bagaikan teror yang menyerang dan melumpuhkan pertahanannya. Namun, sebisa mungkin dia harus menyembunyikan pertemuannya dengan Sofia.


"Aku masuk dulu kak, mau mandi gerah seharian tubuhku lengket," ucap Yudha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Tak mau berlama-lama, Yudha bergegas melangkah menuju kamarnya meninggalkan Bagas sendirian di ruang tamu.


__ADS_2