KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Mediasi Gagal


__ADS_3

Part 70


Satu minggu berlalu, Fadli masih berusaha membujuk Masyitah. Namun, hasilnya nihil. Sepertinya hati Masyitah sudah mati bahkan dia berniat menceraikan suaminya.


Tentunya Fadli tidak terima begitu saja, lelaki itu akhirnya meminta orang tua Masyitah memediasi. Mau tidak mau dia harus bicara jujur dan mengatakan penyebab konflik rumah tangganya.


Pagi sekali Fadli datang ke rumah Haji Burhan, tak lupa dia mengajak kedua orang tuanya ikut dan menemaninya.


Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu, Masyitah masih menunjukkan wajah tak suka. Tak ada senyum yang tampak di wajahnya


"Ehmmm."


Haji Salim berdehem untuk mencairkan suasana yang kaku dan dingin, kemudian dia mulai bicara mewakili anak lelakinya.


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf, sebagai orang tua Fadli sekaligus mewakili seluruh keluarga."


"Kami datang ke sini, ingin membicarakan masalah Fadli dan istrinya. Apakah Pak Haji dan Bu Haji sudah tahu?" tanya Haji Salim


Haji Burhan dan Murni saling pandang, sesungguhnya mereka baru mendengar dari besannya. Sebab selama berada di rumah mereka, Masyitah tak pernah bercerita tentang masalah yang dihadapinya.


"Ada masalah apa sebenarnya? Kami belum tahu apa yang sedang terjadi." ucap Haji Burhan


"Selama Ita di sini, tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya bilang kalau suaminya sedang ke luar kota," sambung Haji Burhan.


Fadli menatap dalam wajah istrinya, rupanya Masyitah menyembunyikan semua dari orang tuanya.


"Ada apa ini? Coba kalian jelaskan pada kami Ita." Murni angkat bicara, dia bingung dengan ucapan besannya yang meminta maaf.


Masyitah diam dan tertunduk, mengumpulkan semua kekuatan untuk mengatakan rahasia yang dia sembunyikan dari orang tuanya.


"Itaa, ayo, bilang sekarang!" desak Murni tak sabar.


"Mah, pah, aku minta maaf. Aku mau bercerai dengan Fadli!"


Bagai tersambar petir, Murni kaget dan refleks menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Itaa! Kamu sadar dengan ucapanmu!?" bentak Haji Burhan


"Itaa, apa-apaan kamu? Aku ke sini bersama orang tuaku berniat baik ingin memperbaiki hubungan kita," ucap Fadli yang juga ikut kaget mendengar perkataan istrinya.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau menceraikanmu!" ucap Fadli lantang


Ridha bangkit lalu menghampiri menantunya, duduk di samping kemudian merangkul Masyitah dengan lembut.

__ADS_1


"Itaa, dengarkan mama. Setiap rumah tangga pasti ada masalah. Tapi, harus diselesaikan dengan kepala dingin bukan dengan cara emosi."


Masyitah memutar tubuhnya menghadap Ibu Mertuanya dan berucap,"Fadli sudah berkhianat mah, aku tidak bisa terima itu."


Ridha menatap putranya sambil berkata,"Fadli, apa benar yang istrimu bilang?"


Fadli menggeleng ....


"Aku bisa jelaskan mah, ini hanya salah paham," ucap Fadli memelas.


Fadli mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya, semua memdengarkan dan menyimak kecuali Masyitah. Wanita itu hanya membuang muka tak mau menatap ke arah suaminya.


"Ouw, ternyata perempuan itu ingin merusak rumah tanggamu. Mama tidak akan tinggal diam!" ucap Ridha geram dan wajah memerah.


"Percayalah mah, tidak mungkin aku mengkhianati istriku."


"Kamu dengar Ita? Fadli sudah memberi pengakuan dan semua hanya salah paham," ucap Ridha lagi


Masyitah tak bergeming, hatinya sudah membatu. Bahkan Fadli berulang kali memohon namun, Masyitah teguh dengan pendiriannya ingin berpisah.


"Itaa! Jangan egois, selama ini suamimu sudah berusaha menjadi suami yang baik. Hanya karena masalah sepele lantas kamu seenaknya mengambil keputusan sepihak," ujar Haji Burhan panjang lebar.


"Baiklah, mungkin saat ini Ita belum bisa memutuskan karena dalam keadaan emosi. Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu," kata Haji Salim


"Mah, aku tidak akan tenang kalau seperti ini," sambar Fadli gusar.


Ridha menatap tajam Fadli, mengedipkan mata memberi isyarat agar Fadli diam dan menuruti perkataan mereka.


"Aku tidak mau berceria mah," celetuk Fadli sambil terus menggeleng.


"Fad, mama bilang diam! Istrimu sedang emosi dan keputusannya bisa fatal!" Ridha menekan kalimatnya, karena Fadli masih belum mengerti dengan maksudnya.


Tak berhasil mencapai tirik temu, akhirnya Fadli dan orang tuanya pulang. Dengan terpaksa Fadli harus mengalah dan menuruti kata-kata orang tuanya meski pun hatinya menolak keras.


Sepeninggal besan dan menantunya, Haji Burhan bertanya pada putrinya perihal keinginan Masyitah.


"Ita, kamu sudah memikirkan matang-matang apa yang kamu putuskan?"


"Papa tidak mau, hanya karena salah paham kamu dengan entengnya meminta cerai."


"Pah, sudah. Biarkan dia tenang dulu," ucap Murni setelah lama terdiam dan hanya menjadi pendengar.


"Anakmu ini terlalu egois mah, ini semua karena kamu terlalu memanjakan dia!"

__ADS_1


"Eh, kenapa mama yang disalahkan?!" sambar Murni, protes tak terima demgan ucapan suaminya.


Haji Burhan bangkit dari duduknya, sekilas dia melirik tajam ke arah Masyitah yang tertunduk kaku. Kemudian Haji Burhan melangkah pergi meninggalkan anak dan istrinya di ruang tamu.


Tanpa mengucapkan kata apa pun, masyitah ikut bangkit dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Murni hanya bisa menatap sendu punggung putrinya dengan mata berkaca-kaca.


Murni menyusul suaminya ke kamar, pelan-pelan dia menarik gagang pintu sampai terbuka. Tampak Haji Burhan duduk sambil bersandar di kepala ranjang sambil merenung.


Perlahan Murni melangkah masuk, kemudian menghampiri suaminya.


"Pah, sudah. Jangan banyak pikiran, Ita hanya emosi nanti juga akan reda dan mereka baikan lagi," hibur Murni.


Tanpa menoleh Haji Burhan memjawab,"semoga saja."


Tiga hari kemudian, Fadli datang lagi. Kali ini dia hanya sendirian dan nekad membujuk istrinya pulang.


Bukannya membaik, Masyitah justru semakin marah dan memaki suaminya dengan kata-kata kasar.


"Itaa, kita pulang sekarang. Aku kesepian tanpa kalian," bujuk Fadli.


"Heh, kamu memang laki-laki yang tak tahu malu. Berulang kali aku bilang aku ingin pisah tapi, kamu selalu memaksa!" ucap Masyitah kasar


Fadli masih bertahan dan tak membalas makian istrinya, dia malah semakin memohon bahkan sampai bersimpuh di kaki Masyitah.


"Pergiii! Aku tidak mau melihatmu lagi!" jerit Masyitah.


Fadli tak ingin masalah semakin runyam, akhirnya dia menyerah.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi, ingat Ita. Sampai kapan pun kamu tetap akan menjadi istriku!"


"Jangan mimpi dan berharap aku akan menceraikanmu, ingat ituu!"


Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, Fadli memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan rumah mertuanya.


Rasanya bagai mimpi, rumah tangga yang dia bangun berantakan hanya karena munculnya wanita dari masa lalunya yang sengaja ingin menghancurkan hidupnya.


Tanpa terasa, Fadli menitikkan air mata saat mengendarai motornya. Hilang sudah harapannya dalam sekejap, seandainya saja Masyitah memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan mungkin tidak akan serumit ini.


Fadli sudah sampai, tampak rumah yang begitu berantakan tak terawat sejak ditinggalkan Masyitah.


Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, sambil menerawang menatap langit-langit kamar.


Andai saja waktu bisa diputar, dia akan bertindak tegas pada Ayu yang menjadi penyebab retaknya rumah tangganya bersama Masyitah

__ADS_1


__ADS_2