
Part 8
"Sekarang giliranku yang bertanya, boleh?" Fadli memiringkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Sial, manis juga senyumnya," batin Masyitah
"Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Sebelum menikah denganku, apakah kamu memiliki seorang kekasih?" pancing Fadli
Masyitah menggeleng namun, sedetik kemudian wajahnya langsung berubah.
"Apa kamu ingin kembali dengan kekasihmu itu?" tebak Masyitah
"Waduh, aku salah strategi jadi malah terjebak sendiri." Fadli mengumpat dalam hati
"Bukan begitu maksudku Ita, aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang kehidupanmu," elak Fadli
"Aku belum pernah berpacaran semasa gadis, papa tidak mengizinkanku bahkan aku dilarang bergaul dengan sembarang orang."
Masyitah tertunduk, membayangkan kehidupannya yang begitu tragis menurutnya. Hari-harinya terasa sepi karena harus menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Aku tidak seberuntung kamu, menikmati indahnya masa-masa sekolah bahkan sampai di bangku kuliah dan banyak teman."
Fadli merasa terharu mendengar penuturan istrinya, ternyata Masyitah adalah gadis yang kesepian meskipun orang tuanya memiliki banyak harta tapi tak bisa membuat Masyitah bahagia.
Sebagai seorang lelaki naluri Irwan tergerak, perlahan dia bangkit mendekati Masyitah. Tangannya terulur menyentuh pundak istrinya.
"Aku minta maaf, seharusnya aku menolak perjodohan kita agar kamu tidak merasa tersiksa begini," ujar Fadli.
Masyitah tidak menunjukkan protes ataupun penolakan saat Fadli menyentuh pundaknya, justru sebaliknya, merasakan kenyamanan kebenciannya seketika menguap begitu saja.
Saat keduanya larut dalam suasana, tiba-tiba pintu terbuka dan Murni muncul di balik pintu.
Pasangan suami istri tersebut terperanjat, Fadli spontan mundur dan menarik tangannya.
Murni tersenyum nakal, sepertinya sebentar lagi dia akan memiliki cucu pikirnya.
"Mamaa, jangan aneh-aneh ya."
Masyitah sudah bisa membaca pikiran ibunya, terlihat jelas dari senyuman ibunya.
"Hehe, kamu terlalu sensi Ita, mama kesini cuma mengecek menantu mama."
"Terserah mama saja," celetuk Masyitah
"Hei, dosa kamu ya menuduh mama macam-macam. Iya kan Fadli?" Murni tersenyum miring meminta dukungan menantunya.
Masyitah memutar bola matanya malas, Masyitah sudah sangat mengenal watak dan perilaku ibunya yang seringkali membuatnya kesal.
Fadli tercengang menyaksikan tingkah konyol mertuanya itu, sangat berbeda jauh dari ayah mertuanya.
"Mama mau apa kesini?" tanya Masyitah
"Mengajak kalian makan malam," sahut Murni
"Ayo, kita makan, papa sudah menunggu," ajak Murni.
__ADS_1
"Iya, mama duluan, kami akan menyusul," jawab Masyitah.
"Oke, mama duluan."
Murni berbalik lalu melangkah menuju ruang makan di sana suaminya sudah menunggu.
Setelah ibunya keluar, Masyitah beranjak dari tempatnya. Fadli berbalik kembali menghadap istrinya.
"Pembicaraan kita belum selesai, kita lanjutkan lagi setelah makan malam," ucap Fadli
Masyitah mengangguk, keduanya keluar dari kamar melangkah menuju ruang makan.
Murni sudah ada di depan suaminya, menarik kursi lalu duduk senyum tak lepas dari bibirnya.
"Ada apa mah? Senyum-senyum sendiri."
"Ssstt, jangan berisik. Sebentar lagi kita akan punya cucu," ucap Murni.
"Hehe, angan-anganmu terlalu tinggi mah, Ita baru menikah dan masih proses penjajakan kamu sudah berkhayal memiliki cucu," ujar Haji Burhan sambil terkekeh geli.
"Lihat saja nanti, ucapan mama pasti terbukti."
"Iya, Iyaa ..., papa percaya." Haji Burhan menghentikan perdebatan konyol dengan istrinya.
"Mana anak dan menantumu mah?"
"Masih di kamar, mereka akan menyusul ke sini," jawab Murni kemudian dia mengambil piring dan mengisi makanan lalu menyodorkan pada suaminya.
Tak lama kemudian, Masyitah dan Fadli datang berjalan beriringan menuju meja makan.
"Ayo Ita, ajak suamimu duduk dan ambilkan suamimu makanan, jangan hanya berdiri di situ," ucap Murni." Murni menunjuk dua buah kursi kosong di depan mereka.
Masyitah mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk kemudian menyodorkan pada Fadli, setelah itu dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Makan malam kali ini terasa berbeda, Murni mengamati perubahan yang terjadi pada anak perempuannya. Masyitah sepertinya mulai membuka diri.
Kaki Murni bermain di bawah meja, menyenggol kaki suaminya. Haji Burhan hanya bisa tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya.
"Silahkan, kalian lanjutkan makan, mama dan papa duluan," pamit Haji Burhan.
"Ayo, mah, temani papa nonton." Haji Burhan mengajak istrinya, keduanya meninggalkan anak dan menantunya di meja makan.
Sampai di ruang keluarga, Haji Burhan menasihati istrinya.
"Mah, Ita sedang belajar membuka diri, jangan diledek terus nanti dia berubah pikiran."
"Mama cuma bercanda pah, masa tidak bisa?"
"Masyitah dan Fadli itu menikah karena perjodohan mah, mereka belum saling mengenal satu sama lain," ujar Haji Burhan.
Murni terdiam, ternyata suaminya sangat sulit diajak bercanda.
"Bukannya papa marah, cuma khawatir. Mama tahu sendiri kan sifat anak kita itu bisa berubah-ubah pikirannya sesuai kondisi hatinya."
"Iya, mama minta maaf. Mama hanya terlalu senang melihat perkembangan hubungan mereka," balas Murni.
Keduanya pun diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing meskipun pandangan mereka tertuju pada tayangan televisi.
__ADS_1
Masyitah dan Fadli kembali ke dalam kamar setelah membereskan meja makan, Fadli duduk di tempat semula yaitu ranjang Masyitah.
Begitupun dengan Masyitah duduk kembali di bangku riasnya, menghadap ke arah suaminya.
Fadli menatap dalam wajah Masyitah, perempuan itu tertunduk malu dan salah tingkah mendapat tatapan dari suaminya.
"Kita lanjutkan pembicaraan tadi yang tertunda." Fadli membuka perbincangan mereka.
"Aku lupa, tadi kita membahas apa?" balas Masyitah malu-malu.
"Kehidupan kita sebelum menikah."
"Sekarang giliranmu, ceritakan padaku kisahmu sebelum menikah denganku," ucap masyitah.
"Kamu serius ingin mendengarnya?
"Hmm." Novia mengangguk
"Baiklah, akan aku ceritakan padamu."
Fadli diam sejenak lalu menarik napasnya, mengenang masa lalunya sedikit membuat hatinya kembali bergetar.
"Sebelum menikah denganmu, aku memiliki kekasih. Hubungan kami sudah terjalin hampir enam tahun."
"Sekeras apapun aku berjuang, hubungan kami tak pernah mendapat restu dari orang tuaku," ucap Fadli
Masyitah mulai bereaksi, rasa ingin tahunya muncul begitu saja.
"Boleh aku tahu siapa gadis itu?" tanya Masyitah
"Namanya Ayu Monalisa, aku mengenalnya sejak masuk di universitas."
"Sejak masuk kuliah hingga selesai, kami menjalin hubungan serius bahkan aku berjanji akan menikahinya," sambung Fadli
"Kenapa kamu tidak berjuang untuknya?"
"Aku tidak bisa melawan restu orang tuaku, aku tak mau menjadi anak durhaka."
Masyitah tertegun, Zaman sekarang masih ada seorang lelaki yang rela meninggalkan kekasihnya demi orang tua.
"Aku bingung, harus kagum atau marah padamu?" ucap Masyitah.
Fadli mengerutkan keningnya, bingung dengan jawaban Masyitah.
"Satu sisi, kamu termasuk anak yang berbakti, sisi lainnya kamu juga lelaki yang tidak bisa dipegang ucapannya."Masyitah menyampaikan penilaiannya tentang Fadli dengan gamblang
"Jika boleh jujur, aku sangat merasa berdosa padanya. Membuat waktunya terbuang sia-sia dan meninggalkan dia begitu saja."
"Aku jadi penasaran pada gadis itu, seperti apa rupa dan wujudnya," gumam Masyitah dalam hati
"Ah, sudahlah, jangan membahas lagi masa laluku. Semuanya sudah berakhir sekarang aku telah menikah dan menjadi suami orang," ucap Fadli tersenyum getir.
"Hmm, maaf aku sudah membuatmu sedih," sahut Masyitah.
Setelah mendengar penuturan suaminya, Masyitah baru menyadari betapa egois dirinya. Fadli ternyata jauh lebih menderita darinya.
"Kamu tidak marah kan aku menceritakan tentang kisah percintaanku?" tanya Fadli
__ADS_1
"Tidak." Masyitah menggelengkan kepala lalu tersenyum.
"Eh, bahaya juga senyumanmu ini. Jangan sampai aku jadi khilaf," batin Fadli