KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Bagas Menemui Sofia


__ADS_3

Part 40


Sejenak Sofia diam termangu, kemudian gadis itu pun berkata,"kak, kalau aku tiba-tiba menghilang lagi atau menghindar pasti Yudha akan curiga dan mencari tahu penyebabnya."


"Apa kakak tidak takut ketahuan Yudha?" sindir Sofia.


Bagas tertegun, dia melupakan tentang itu. Kegigihan Yudha memang harus dia akui, lelaki tersebut menghela napasnya menyadari titik lemah rencana yang disusunnya.


"Sofia, seandainya kalian tahu. Aku berbuat seperti ini semua demi kebaikan kalian, bukannya aku tidak setuju dengan hubungan kalian. Tapi, biarkan Yudha fokus dulu untuk sementara waktu."


"Kalau kamu memang sayang dengan Yudha, pasti kamu tidak ingin melihatnya gagal dalam ujian," sambung Bagas


Setelah mendengar penjelasan Bagas, akhirnya Sofia luluh. Awalnya dia begitu marah dengan sikap Bagas yang sengaja memaksanya pindah Universitas bahkan sampai mengancamnya agar Sofia menjauhi Yudha.


Namun, berkat penjelasan dan permohonan Bagas Sofia pun mau bekerja sama.


"Baiklah kak, aku akan menjaga jarak dengan dia untuk sementara waktu. Tapi, aku juga harus menjekaskan padanya agar dia tidak curiga dan bertanya-tanya apa penyebabnya."


Keduanya pun menyepakati hasil pembicaraan, setelah itu Bagas berpamitan dan melanjutkan perjalanannya menuju Rumah Sakit tempatnya bekerja.


Sofia masih tetap di tempatnya, gadis itu merogoh tas dan mengambil benda pipih dari dalam tasnya. Dia memyalakan ponsel dan mencari nama Yudha di daftar kontak lalu mengetik sebuah pesan yang akan dikirimkan pada kekasihnya itu.


"Yud, pulang sekolah bisakah kamu menemuiku? ada hal penting yang ingin aku bicarakan." isi pesan Sofia lalu mengirimkannya pada Yudha.


Hanya dalam waktu sekian detik, ponsel Sofia berbunyi dan pesan balasan dari Yudha masuk lalu dengan senyum mengembang gadis itu membacanya.


"Iya sayaang, apa sih yang tidak buat kamu."


"Dasaarr, kecil-kecil jago gombal," gumam Sofia


Sofia tak lagi membalas, dia bergegas memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan berlari kecil menuju ruangannya.


Sementara itu di dalam kelas, Haris menyenggol Yudha yang terlihat tersenyum saat menatap ponsel di tangannya.


"Kamu sehat Yud?"


"Kamu pikir aku sakit?" sahut Yudha dengan senyum yang masih menyungging


"Yud, pulang sekolah kita ke Rumah Sakit ya. Obatmu pasti sudah habis," ledek Haris.


Wajah Yudha seketika berubah kesal, pemuda itu pun melotot kearah Haris sambil berucap,"sialan kamuu Ris!"

__ADS_1


Di tengah perdebatan kedua sahabat itu, tiba-tiba terdengar suara dari depan,"hei, apa yang kalian bahas di sana?"


Seketika keduanya diam mematung, mulut Yudha langsung terkunci tak bisa berkata saat mendengar guru di depan bertanya pada mereka.


"Eh, anu Bu, Yudha bilang dia pusing dan minta ijin ke ruang UKS!" seru Haris


"Gila kamu Ris!!" bisik Yudha kesal


"Hehe, harusnya kamu berterima kasih padaku," balas Haris terkekeh dan juga ikut berbisik


"Maksudnya?" Yudha bingung dengan perkataan sahabatnya tersebut.


"Sana, pacaran di ruang UKS. Kamu bisa bebas telpon-telponan di sana," ujar Haris lagi masih dengan suara pelan.


Mendengar ucapan Haris, Sang Guru datang menghampiri keduanya untuk memastikan kebenarannya.


"Yud, benar yang Haris bilang? Kamu pusing?" tanya Si Guru khawatir.


Yudha tergagap dan berkata,"ii ...,iiyaa bu."


"Kampreet kamu Ris!" batin Yudha


"Ya sudah, kamu istirahat dulu di ruang UKS. Nanti kalau sudah agak baikan kembali lagi ke sini," perintah Sang Guru.


Sampai di ruangan, Yudha merebahkan tubuhnya di ranjang UKS sambil menerawang. Kemudian mengambil ponsel dari dalam tas dan menyalakan benda tersebut.


Pemuda itu menekan tombol panggil pada ponselnya, hingga dua kali panggilan tidak ada jawaban dari nomor tujuan. Akhirnya Yudha menyerah dan memasukkan kembali ponselnya lalu meletakkan tas di atas nakas.


Di kampus, ponsel Sofia berdering. Namun, gadis itu mengabaikan karena masih mengikuti perkuliahan. Dia tidak mau mendapat teguran dari dosennya sehingga berpura-pura tak mendengar bunyi yang berasal dari dalam tasnya.


"Siapa sih? apa tidak tahu aku sedang belajar," sungut Sofia.


Satu jam kemudian, setelah dosen keluar kelas Sofia segera mengambil ponselnya dan membuka benda tersebut. Tampak nama Yudha tertera di layar ponsel yang melakukan panggilan.


"Mau apa dia, bukannya dia tahu aku sedang belajar?" gumamnya.


Karena penasaran, Sofia menekan panggilan pada nama Yudha. Beberapa saat kemudian terdengar suara dari seberang.


"Halo sayang."


"Ya, halo. Sayang kamu tadi menelponku?" tanya Sofia

__ADS_1


"Iya, kebetulan tadi gurunya tidak masuk." jawab Yudha berbohong.


"Oh, aku kira ada hal penting," balas Sofia.


"Eh, penting sayaang! Kamu itu penting bagi aku," ujar Yudha dari seberang.


"Hahahha, dasaarr gombal!" Sofia hanya menanggapi dengan candaan diselingi tawa lepasnya.


"Ya sudah, siang aku ke sana." Yudha mengakhiri obrolan dan menutup telponnya.


Setelah selesai berbincang dengan kekasihnya lewat telpon, sofia masuk kembali ke dalam kelas karena masih ada mata kuliah yang harus dia ikuti.


Siang harinya, sesuai janji Yudha datang ke kampus Sofia untuk menemui gadis tersebut.


Keduanya bertemu di taman dekat kampus, Sofia mengajak Yudha ke sana agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian mahasiswa yang lainnya karena Yudha menggunakan seragam sekolah.


"Ada apa sayaang?" tanpa berbasa-basi Yudha langsung membuka pembicaraan saat keduanya sudah duduk di bangku taman.


"Yud, sebulan lagi kamu ujian ya?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Yudha sambil menautkan kedua alisnya.


"Sayaang, aku minta kamu fokus dulu belajar dan untuk sementara kita kurangi intensitas pertemuan kita," ujar Sofia memasang wajah serius.


"Maksudnya?" tanya Yudha bingung.


"Kamu kan harus banyak belajar sayang, kalau waktumu hanya digunakan untuk pacaran, aku takut nilaimu anjlok," jawab Sofia


Yudha memiringkan wajah sambil menatap tajam wajah kekasihnya, ditatap seperti itu Sofia menjadi salah tingkah dan menggeser tubuhnya menjauh.


"Jangan menatapku seperti itu!" ujar Sofia dengan wajah bersemu merah.


Yudha tidak menanggapi ucapan Sofia, dia justru bertanya penuh curiga,"kamu tidak sedang menghindari aku kan sayang?"


"Apa-apaan sih kamu? kalau aku menghindar bukan begini caranya, aku akan menghilang dan menjauh darimu," jawab Sofia kesal.


"Aku hanya memberi ruang untukmu, agar kamu lebih fokus lagi belajar. Aku tidak ingin kamu gagal dalam ujian dan membuat kakakmu juga ikut kecewa nanti," sambung Sofia.


"Oh, karena itu. Baiklah aku ikuti permintaanmu. Tapi, aku tidak mau putus komunikasi walaupun hanya lewat telpon," pinta Yudha sekaligus menerima permintaan kekasihnya.


"Pasti sayaang, jangan khawatir. Nomor telponku akan selalu aktif kecuali kalau dalam kelas aku pasti akan mengabaikan pesan atau telpon darimu."

__ADS_1


Mendengar jawaban Sofia, akhirnya Yudha menjadi tenang. Sebelumnya dia merasa curiga dan takut tiba-tiba Sofia memintanya menjaga jarak serta mengurangi waktu pertemuan mereka.


__ADS_2