KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Terusir


__ADS_3

Part 69


Buuugh ....


Mata Masyitah membola, tadinya dia sedang menangis sesegukan seketika berhenti dan sontak berdiri.


"Mamaaa?!" teriak Masyitah.


Terkejut dan geli bercampur jadi satu. Namun, Masyitah berusaha menahan tawanya karena kasihan melihat ibunya.


"Hmm, orang tua ini, selalu saja bertindak di luar nalar," batin Masyitah


Murni bergegas bangun lalu perlahan berdiri, tersenyum menahan malu mengabaikan rasa sakitnya.


Masyitah berjalan cepat mendekati ibunya, memeriksa semua bagian tubuh ibunya dengan wajah khawatir.


"Mama tidak apa-apa? Apa yang sakit mah?"


"Eh, tidak apa-apa Ita, sudah jangan khawatir."


Masyitah diam, sepertinya kekonyolan ibunya kambuh lagi. Masyitah menatap ibunya sedangkan Murni hanya tersipu karena merasa tertangkap basah mengintip.


Masyitah menggeleng dan berucap,"lain kali, kalau mau nguping hati-hati mah."


"Siapa bilang mama nguping? Mama cuma kebetulan lewat, ternyata pintunya tidak tertutup rapat," elak Murni tak mau kalah.


"Hmm, sudahlah mah, Ita capek mau istirahat."


Masyitah memutus obrolan, sebab dia sedang tak ingin berdebat dengan ibunya.


"Ya, sudah. Kamu istirahat saja, mama mau ke dapur," ujar Murni dan berlalu meninggalkan kamar Masyitah.


"Apa yang terjadi dengan Ita? Jelas-jelas tadi dia menangis."


Murni berjalan ke dapur dengan penuh tanda tanya di kepalanya, biasanya Masyitah akan bercerita jika ada masalah. Tapi, kali ini sepertinya dia lebih memilih menyembunyikannya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Masyitah kembali menghampiri putranya yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan nenek dan ibunya tanpa tahu apa yang terjadi.


"Mama, nenek kenapa?" tanya Daffa polos


"Nenek terpeleset dan jatuh," jawab Masyitah.


"Ayo, sini peluk mama." Masyitah meraih tubuh mungil Daffa ke dalam pelukannya.


Sementara itu, di tokonya Fadli sedang frustasi memikirkan cara menjelaskan kejadian pada istrinya. Tapi, Masyitah menutup komunikasi bahkan melarangnya untuk pulang.


"Aaargh, semua ini gara-gara perempuan jahat ituu! Apa maumu Ayu, kamu ingin menghancurkan rumah tanggaku?"


"Persetan, apa pun resikonya aku akan ke sana sekarang."


Tanpa berpikir panjang, Fadli memutuskan datang ke rumah mertuanya menyusul Masyitah. Lelaki tersebut tak mau masalahnya jadi berlarut-larut dan semakin rumit.


Satu jam kemudian, Fadli sudah ada di depan rumah mertuanya. Suasana tampak sepi karena penghuninya semua berada di dalam.


Fadli berjalan ke arah pintu, sedikit gemetar dia mengetuk pintu. Tak lama Ibu Mertuanya keluar dan berdiri di depannya menampakkan wajah heran.


"Loh, Fadli? Kamu kayak orang lain saja. Biasanya juga langsung masuk, ini malah bertingkah seperti tamu," ucap Murni.


"Emm, anu, cuma iseng mah hehe," balasnya sambil terkekeh.


"Ya, sudah masuk. Ita dan Daffa ada di kamar," ucap Murni lagi lalu berbalik dan melangkah masuk.


Langkah Fadli terasa begitu berat, rasa was-was tak bisa dia sembunyikan. Bahkan dia takut membayangkan bagaimana nanti reaksi Masyitah jika melihatnya datang.


"Ya Allah, kuatkan aku. Semoga Ita berubah pikiran dan kemarahannya sudah reda," gumamnya penuh harap, sembari meneruskan langkahnya.


Fadli berdiri di depan pintu kamar, tak ada suara dari dalam. Suasana sepi semakin membuatnya gugup, ingin rasanya berbalik dan mengurungkan niatnya. Tapi, dia juga harus menuntaskan masalah yang mereka hadapi. Jalan satu-satunya harus bertemu istrinya dan menjelaskan semuanya.


Suara ketukan pintu, Masyitah menajamkan pendengarannya hingga ketukan yang kedua.


"Siapa di luar?"

__ADS_1


Hening, tak ada jawaban.


"Siapa!?" teriaknya lagi.


"Aku, buka pintunya."


Seketika Masyitah membeku, tubuhnya terasa kaku. Emosi yang mulai mereda muncul kembali saat memdengar suara yang sangat dikenalinya.


Dengan cepat Masyitah turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu, wanita tersebut membuka kasar pintu kamarnya dan berdiri menghadap suaminya dengan wajah memerah.


"Mau apa kamu ke sini!?" bentak Masyitah.


"Menemui istriku," jawab Fadli santai.


"Bukannya sudah aku bilang, jangan pernah datang mencariku dan Daffa."


Suara Masyitah bergetar menahan isaknya. Namun, sekuat tenaga wanita itu berusaha terlihat tegar.


"Aku ke sini ingin menjelaskan semuanya, tolong dengarkan aku sayang," bujuk Fadli sambil memelas.


"Tak ada lagi yang perlu dijelaskan, semuanya sudah terjadi dan nyata di depan mataku!"


Lagi-lagi Masyitah masih bersikap dingin, tak mau memberi celah dan kesempatan pada suaminya untuk menjelaskan.


"Pergi dari sini!" usir Masyitah.


"Itaa, dengarkan aku." Fadli memohon bahkan sampai maju mendekati istrinya.


"Aku bilang pergii!" suara Masyitah meninggi


Fadli mengalah, tak ingin istrinya lepas kendali dia memilih diam, terlebih lagi Fadli tak mau orang tua Masyitah tahu permasalahan mereka.


Dengan lemas Fadli memutar tubuhnya, tanpa berkata-kata dia melangkah pelan meninggalkan Masyitah.


Hatinya teriris pilu, kesalahan yang dilakukan orang lain. Tapi, dia yang menanggung akibatnya.

__ADS_1


Tanpa berpamitan, fadli berjalan keluar rumah mertuanya. Lelaki tersebut tidak tahu harus kemana, rumahnya pun tak mungkin membuatnya nyaman apalagi pulang ke rumah orang tuanya.


Frustasi, itulah yang dialami Fadli saat ini. Satu-satunya tempat yang bisa dia datangi adalah ke toko dan menginap di sana tanpa harus diketahui orang tuanya.


__ADS_2