
Part 18
Masyitah memutar tubuhnya membelakangi suaminya. Namun, Fadli tak mau menyerah dan menarik tubuh Masyitah menghadap ke arahnya.
"Mumpung aku sedang berbaik hati, jadi puaskan matamu memandang tubuhku yang seksi ini."
"Heh, dasar mesum. Bangga sekali kamu dengan tubuhmu itu," umpat Masyitah geram
"Oh, ayolah, tak usah malu mengakuinya aku juga paham kok," goda Fadli
Masyitah semakin kesal dibuat Fadli, wajahnya berubah garang dan hendak berteriak. Dengan cepat Fadli membungkam mulut Masyitah dengan bibirnya.
"Eemm, mmmh." Teriakan Masyitah tertahan oleh ciuman suaminya.
Semakin lama ciuman mereka semakin dalam, Fadli menuntun Masyitah ke atas ranjang dan permainan panas pun terjadi.
Sekesal apapun Masyitah pada Fadli, entah kenapa dia tak bisa menolak dicumbui suaminya dan anehnya lagi, tubuhnya selalu merespon setiap sentuhan yang Fadli berikan.
Pergulatan ranjang pun berakhir, Fadli terkulai lemas di samping istrinya yang juga masih terbaring tanpa sehelai benangpun.
"Aku mau mandi," ucap Masyitah sembari bangun dan bangkit dari tempat tidur.
"Eh, kita mandi berdua, sebentar lagi maghrib." Fadli ikut beranjak dari tempatnya dan menyusul langkah Masyitah.
"Iih, apaan sih kamu, bukannya tadi sudah mandi?" Masyitah mendorong tubuh Fadli agar menjauh
"Astagaa Ita, kamu lupa apa yang kita lakukan tadi di ranjang," ucap Fadli menaik turunkan alisnya menggoda Masyitah.
"Mesum!" gerutu Masyitah
"Hahaha, tapi kamu suka kan? Buktinya ikut menikmati." jawaban telak Fadli tak bisa dibantah lagi oleh Masyitah.
Masyitah bersungut dan mengoceh tak jelas lalu masuk ke dalam kamar mandi, wanita itu kesal karena selalu kalah debat dengan suaminya.
Fadli tergelak, kemudian menyusul istrinya masuk ke kamar mandi. Keduanya bergegas mandi karena berburu waktu shalat maghrib yang sudah tiba.
Selesai shalat maghrib, pasangan itu belum beranjak dari tempatnya. Mereka mengisi waktu dengan mengaji sembari menunggu waktu Isya.
Setelah shalat Isya, Masyitah merapikan kembali sajadah dan mukenah yang dia pakai kemudian mengajak suaminya makan malam.
Sebelum keluar kamar, Fadli bertanya terlebih dahulu pada istrinya,"Ita, siapa yang memasak?"
"Mama, aku bagian membereskan rumah dan mencuci piring," jawab Masyitah.
__ADS_1
"Sesekali aku ingin makan masakanmu," ucap Fadli dengan wajah penuh harap.
Masyitah terdiam, sebenarnya dia juga ingin memasak makanan kesukaan suaminya. Tapi, sayangnya dia tidak belum bisa melakukan itu karena Masyitah tahunya hanya menanak nasi dan merebus mi.
"Ehmm, Fad, kamu tidak menyesal menikah denganku? Aku tidak masak," ucap Masyitah sambil menundukkan wajahnya
"Kenapa harus menyesal? Kamu kan bisa belajar dari mama. Waktu kita masih banyak jangan khawatir aku akan menunggu suatu saat mencicipi masakanmu," ujar Fadli tersenyum tipis.
"Ayo, kita ke ruang makan. Mama dan papa pasti sudah menunggu disana," ajak Masyitah menutup obrolan mereka.
Mereka sudah ada di ruang makan, benar saja Murni dan suaminya sudah menunggu disana.
"Kenapa lama? Papa sudah kelaparan menunggu," tanya Murni
"Baru selesai shalat Isya mah," jawab Masyitah
Mereka makan malam diselingi obrolan-obrolan kecil, Haji Burhan bertanya pada menantunya tentang usaha yang di jalankannya karena dia tahu persis Haji Salim sangat ahli dalam berdagang.
"Bagaimana usaha toko ayahmu nak, masih lancar?" tanya Haji Burhan
"Alhamdulillah pah, pelanggan semakin ramai."
"Papa sudah memilih beristirahat, jadi sekarang aku yang mengelolah usaha papa," ucap Fadli
Di sela makan malam mereka, Haji Burhan menyelipkan pesan-pesan kepada anak dan menantunya.
Usai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Masyitah sekarang jadi lebih betah di kamar ditemani suaminya.
Pasangan itu kini sedang menikmati masa-masa bulan madu yang manis, hubungan mereka semakin hangat.
Masyitah juga lebih sering ikut suaminya ke tempat kerja, tentu saja hal itu membuta Fadli semakin semangat mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi mewujudkan keinginan dan cita-cita istrinya.
Pagi ini, pasangan tersebut berangkat ke toko lebih pagi dari biasanya. Sebab hari ini Fadli sedang menunggu kedatangan seorang taman yang ingin menjalin kerja sama dengannya
"Kami berangkat, mah, pah," pamit keduanya pada Haji Salim dan istrinya.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut kamu Fadli jaga anak mama," jawab Murni
"Hahhaa, Iya mah, anak mama aman bersamaku," balas Fadli sambil tergelak.
Fadli menyalakan mesin motornya, kemudian perlahan bergerak meninggalkan rumah mertuanya.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di toko, Masyitah turun dan berdiri menunggu suaminya memarkir motornya.
__ADS_1
"Ayo, kita masuk." Fadli merangkul istrinya masuk ke dalam tak peduli tatapan mata iri dari pegawainya.
"Fad, lepas malu sama mereka," ucap Masyitah sambil melirik beberapa orang pegawai yang sedang berbisik-bisik.
"Biarkan saja mereka, siapa suruh hidup menjomblo," balas Fadli sekenanya
Masyitah pasrah dengan perlakuan suaminya, di toko Fadli memang sering berbuat sesuka hatinya. Mungkin saja karena dia adalah pemilik toko dan juga seorang Bos jadi bebas melakukan apapun.
Satu jam kemudian, orang yang ditunggu telah tiba. Masyitah keluar dari ruangan suaminya dan meminta kepada pegawai untuk menyuguhkan minuman.
Setelah itu Masyitah masuk kembali ke dalam, dan duduk di bangku yang agak jauh dari suaminya.
"Sayaang, kenapa duduk disitu? ayo, pindah kesini." Fadli menepuk ruang kosong di sampingnya.
Masyitah berjalan ragu-ragu mendekati suaminya, kemudian duduk tenang menyimak percakapan antara suami dan tamunya.
"Perkenalkan, ini Masyitah istriku," ucap Fadli dengan bangga mengenalkan Masyitah.
Tamu tersebut tersenyum, Masyitah mengangguk sopan dan balas tersenyum pula.
seorang pegawai mengetuk pintu lalu masuk membawa makanan dan juga minuman, kemudian Masyitah menyueuhnya meletakkan di atas meja.
"Silahkan pak, diminum dulu," ucap Masyitah
"Iya, terima kasih," sahutnya.
Mereka bertiga menikmati hidangan yang disuguhkan, diselingi obrolan dan candaan ringan dari Fadli yang membuat suasana menjadi cair.
"Baiklah, Pak Fadli. Kerja sama kita akan dimulai hari ini saya sangat senang dengan sambutan Bapak dan istri," ucap Tamu tersebut.
Fadli tersenyum lebar, tak sia-sia usahanya kali ini yang bekerja keras mencari mitra untuk melebarkan jaringan usahanya dan akhirnya berhasil.
"Terima kasih Pak, semoga kerja sama kita bisa membuahkan hasil yang maksimal," ucap Fadli sembari melirik istrinya.
Masyitah balas melirik suaminya dan melempar senyum, rasa bangga sekaligus kagum melihat kelihaian suaminya yang dengan mudah menarik rekan bisnisnya
Setelah membuat kesepakatan dan kontrak kerja, tamu tersebut pamit pulang. Fadli mengantarnya sampai ke parkiran.
Tamunya sudah pergi, Fadli masuk kembali ke ruangannya menemui Masyitah. Tanpa aba-aba dia memeluk istrinya dan mengecup seluruh wajah Masyitah.
"Apa-apaan kamu ini, lupa tempat," sungut Masyitah.
"Jangan menolak, aku sedang berbahagia Ita," ucapnya.
__ADS_1
Fadli menarik tangan Masyitah dan menuntunnya ke kursi, senyum bahagia tak hilang dari wajahnya semua ini tak lepas dari keberuntungan dan doa istrinya begitu pikir Fadli.