
Part 60
Tujuh bulan kemudian ....
Semua penghuni rumah panik, terlebih Fadli. Masyitah yang pingsan karena tak kuat menahan sakitnya kontraksi harus dilarikan ke rumah sakit.
Fadli mengangkat istrinya dengan langkah cepat masuk ke dalam mobil ayahnya, Murni dan Haji Burhan menyusul naik.
"Ayo, pah. Kita berangkat sekarang!" seru Fadli
Tanpa berkata-kata, Haji Salim menginjak pedal gas. Mobil melesat laju memecah aspal menuju rumah sakit.
Mereka sudah tiba di rumah sakit, dengan sigap Fadli turun dari mobil dan berlari masuk ke ruangan Instalasi Gawat Darurat.
Tak lama, Fadli muncul disusul dua orang perawat yang mendorong brankar mendekati mobil.
Masyitah diangkat ke atas brankar lalu dua perawat tersebut mendorongnya masuk ke dalam, Fadli berlari mengikuti. Namun, ditahan oleh salah seorang perawat.
"Maaf pak, silahkan menunggu di luar. Biarkan kami melakukan penanganan awal," ujarnya.
Fadli mundur, kemudian berbalik melangkah menghampiri ayah, ibu, dan kedua mertuanya yang tampak cemas.
"Kok kamu malah ke sini sih Fad?" ujar Ridha.
"Hanya dokter dan perawat yang boleh ke dalam mah," jawab Fadli.
"Sudah, jangan berdebat. Kita menunggu di sini saja." sambar Haji Salim sambil melirik istrinya.
Sepuluh menit kemudian, seorang perawat datang. Fadli bangkit lalu bergegas menghampiri tak ketinggalan orang tua mereka pun ikut berdiri.
"Suami Ny. Masyitah?"
"Saya sus."
"Pak, kami harus melakukan tindakan operasi sesar karena kondisi istri bapak sangat lemah."
Fadli tertegun, otaknya seakan buntu dan tak bisa berpikir dengan baik.
"Lakukan yang terbaik untuk menantuku sus!" sambar Haji Salim tanpa menunggu persetujuan dari Fadli.
Fadli menoleh pada ayahnya dengan wajah pucat, kemudian berkata,"pah, istriku baik-baik saja kan?"
"Tentu saja, percayakan pada tim medis yang menanganinya," balas Haji Salim menenangkan putranya.
Tak beda dengan Fadli, Murni panik lalu melangkah maju mendekati perawat tersebut sambil bertanya,"kenapa harus operasi sus, apa tidak bisa lahir secara normal?"
"Kondisi Ny, Masyitah begitu lemah, sangat tidak mungkin untuk lahir normal tentunya dia tidak akan kuat mengejan."
__ADS_1
"Sehingga dokter memutuskan mengambil tindakan operasi sesar, demi keselamatan ibu dan bayinya," sambung Si Perawat tersenyum tipis.
Murni pun mengangguk pasrah, mendengar penjelasan perawat setidaknya bisa sedikit memberi rasa lega. Tapi, ketegangan belum serta merta hilang sebab Masyitah masih harus menjalani proses operasi.
"Maaf, suami Ny. Masyitah, ikut saya ke dalam," ucap perawat tersebut sambil berbalik dan melangkah masuk.
Fadli mengikuti dari belakang, dengan perasaan was-was dan juga cemas dia memasuki ruangan.
"Silahkan duduk pak, ini surat pernyataan yang harus bapak tanda tangani sebagai bagian dari prosedur saat melakukan operasi."
Tangan Fadli bergetar meraih kertas di atas meja, membaca pelan isinya lalu membubuhi tanda tangan. Kemudian dia menyodorkan kertas tersebut pada perawat di depannya.
Seakan memahami isi hati Fadli, perawat itu tersenyum sambil berkata,"jangan khawatir pak, operasi sesar termasuk operasi ringan."
"Ii, iiyaa, sus. Ini pertama kalinya saya mendampingi istri apalagi baru anak pertama," ucap Fadli tergagap.
"Terima kasih pak, kami akan membawa istri bapak ke ruang operasi. Bapak serta keluarga yang lain bisa menunggu di depan ruangan," ucap Sang Perawat tersenyum ramah.
Fadli berjalan sempoyongan keluar, Murni berlari kecil menyambut menantunya menyusul Ridha dan Suaminya, tak ketinggalan Haji Burhan pun ikut menghampiri.
"Bagaimana nak, kapan operasinya?" tanya Murni beruntun
"Ita sudah dibawa ke ruang operasi."
"Ayo, kita ke sana sekarang!" ajak Fadli.
Fadli berjalan ke sana ke mari untuk mengurangi rasa stresnya, tentu saja hal itu membuat Murni menjadi ikut gelisah.
"Duduklah di tempatmu Fad, mama pusing melihatmu!" seru Ridha
"Aku takut mah," sahut Fadli menampakkan wajah khawatirnya.
"Kamu pikir kami tidak khawatir? Kalau kamu mondar-mandir begitu, otomatis ayah dan ibu mertuamu makin gelisah," omel Ridha.
Fadli pun menuruti ucapan ibunya, duduk merenung di samping ayahnya sambil memainkan jarinya. Sesekali mengusap kasar wajahnya lalu bersandar di bangku.
Satu jam kemudian, ketika keluarga Masyitah menunggu dengan perasaan tegang, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan.
Mereka yang menunggu di luar saling pandang, rasa penasaran menyelimuti hati keluarga Masyitah.
Seorang perawat keluar masih menggunakan pakaian medicalogy, Fadli segera bangkit demikian juga dengan yang lainnya.
"Keluarga Ny. Masyitah, bayinya lahir dengan selamat!" ujarnya.
"Ibunya sus?" celetuk Fadli
"Ibunya juga dalam keadaan baik pak," jawab Si Perawat tersenyum tipis.
__ADS_1
Sontak mereka berlima berucap sukur,"Alhamdulillah."
"Pah, cucuku sudah lahir!" seru Murni girang
"Cucu kitaa!" sambar Ridha seolah tak terima ucapan Murni.
"Hahahhaa, belum apa-apa kalian sudah berebut cucu," ucap Haji Burhan tergelak.
Kedua wanita paru baya tersebut pun tersenyum malu, mereka tak ubahnya anak kecil yang sedang mendapat mainan baru.
Fadli tak lagi menganggapi tingkah ibu dan mertuanya, dia memilih masuk ke dalam ruangan untuk melihat bayi yang baru saja lahir.
"Sus, boleh saya menggendongnya?" tanya Fadli ketika sudah ada di dalam ruangan.
"Silahkan pak, putranya ganteng sekali pak."
"Wah, ternyata kamu penerus keluarga Haji Salim nak. Jagoan kecil jangan rewel ya," gumam Fadli.
Dia baru menyadari, karena terlalu senang sampai lupa menanyakan jenis kelamin anaknya yang baru lahir.
Dengan sangat hati-hati, Fadli memgambil bayinya dari gendongan perawat. Tubuh bayi mungil itu masih sangat ringkih, Fadli perlahan mendekatkan bibirnya ke telinga bayi kemudian mengumandangkan adzan.
Tanpa Fadli sadari, ayah, ibu, dan kedua mertuanya sudah berdiri di belakangnya. Menyaksikan dirinya yang sedang mengadzani bayi kecil di gendongannya.
Rasa haru tak dapat lelaki itu sembunyikan, air matanya menetes ketika melantunkan adzan di telinga bayinya. Satu fase baru telah Fadli masuki, yaitu menjadi ayah dari seorang bayi laki-laki.
"Selamat nak, kamu sudah menjadi ayah," ucap Ridha dari belakang.
Fadli menoleh, tersenyum tipis dan berucap,"terima kasih mah."
Murni tak mau kalah, wanita paru baya itu maju dan mendekati menantunya.
"Wiiih, ganteng sekalii kamu nak. Mirip nenek yaa!" serunya tanpa beban.
"Ehemm." Haji Burhan mendehem, memberi sinyal pada istrinya jangan sampai Murni bertingkah aneh lagi seperti biasanya.
"Hehe, iyalah. Dua orang neneknya cantik tentu saja cucunya ganteng," ucap Fadli melirik ke arah ibunya.
"Kamu sudah menyiapkan nama Fad?" tanya Ridha mengalihkan pembicaraan.
"Belum mah, tunggu Ita pulih dulu," sahutnya.
Kehebohan Murni sedikit tertahan, karena Haji Burhan terus mengawasi istrinya. Terlebih lagi mereka sedang berada di ruangan bayi yang pastinya tidak boleh bising.
Fadli menyerahkan kembali bayinya pada perawat, kemudian dia mengunjungi istrinya yang sudah di pindahkan ke ruangan lain.
Sepertinya Masyitah hanya mendapatkan bius lokal, sehingga kesadarannya tidak sepenuhnya hilang. Keluarga besar Masyitah berkumpul di dalam ruang rawat inap tempat Masyitah.
__ADS_1