KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Kisahmu


__ADS_3

Part 30


Karena tak kunjung ada jawaban dari Yudha, Sofia memutuskan esok hari akan mrncari Yidha ke sekolahnya.


Gadis itu tidak akan membiarkan Yudha menghilang begitu saja, pemuda itu harus bertanggung jawab pada perbuatannya.


Sofia pun beristirahat di dalam kamarnya, karena dia harus menyiapkan diri untuk menemui Yudha esok hari.


Besok paginya, Sofia bangun lalu bergegas mandi dan memakai pakaian yang rapi. Kemudian gadis itu berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat kuliah.


Sampai di depan rumah, Sofia berdiri sembari menunggu taksi yang lewat. Ketika sedang melamun tiba-tiba sebuah mobil me dekat kearah Sofia dan berhenti tepat di depannya.


Sofia kaget dan mundur dua langkah ke belakang, kaca jendela mobil terbuka tampak wajah Yudha di dalam tersenyum nakal.


"Naik," ujar Yudha sambil membuka pintu mobil.


Tanpa banyak bicara lagi Sofia naik dan duduk di sebelah Yudha. Namun, tatapan Sofia menelisik kearah pemuda di sebelahnya yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Yud, mobil siapa ini?" tanya Sofia dengan wajah heran.


"Mobil Kak Bagas," jawab Yudha singkat


Sofia menautkan kedua alisnya, begitu banyak yang belum dia ketahui tentang kekasihnya ini bahkan Sofia tidak mengenali siapa saudara Yudha dan orang-orang terdekatnya.


"Kamu terlalu asing bagiku, masih banyak yang belum aku ketahui tentang dirimu," batin Sofia


"Kenapa bengong, kamu bingung ya?" tanya Yudha.


Sofia mengangguk, berharap Yudha mau menjelaskan dan menceritakan sedikit tentang kehidupan pribadinya.


Yudha terdiam, pemuda itu pun menginjak gas mobilnya dan perlahan bergerak membelah jalan raya.


"Kak Bagas itu, saudaraku satu-satunya." Yudha memulai percakapan saat mobil sudah berjalan.


Sofia diam dan menyimak kelanjutan cerita Yudha, dia ingin mendengar lebih detail lagi penjelasan kekasihnya itu tanpa menyela ataupun bertanya.


"Orang tua kami sudah meninggal sejak aku masih di bangku SD, kak Bagas lah yang membesarkan aku hingga sekarang." sambung Yudha


Pandangan Yudha lurus ke depan, genggaman tangannya mencengkram kuat kemudi mobil seolah mengumpulkan kekuatannya lalu menghela napas panjang.


"Jarak usiaku dan Kak Bagas cukup jauh, waktu di tinggal orang tua kami dia lah yang mengambil alih tugas dan kewajiban orang tua untuk merawat dan membesarkan aku," lanjutnya


Wajah Yudha berubah pias, mengingat kembali masa sulit yang dia lewati bersama dengan Bagas sejak kehilangan orang tua.

__ADS_1


"Dia kakak yang hebat Sof, bahkan dia memilih hidup sendiri sampai saat ini dan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan kami," ucap Yudha dengan suara berat.


Refleks tangan Sofia mengelus bahu Yudha, gadis itu ikut terharu mendengar kisah hidup kekasihnya yang dia sembunyikan selama ini.


"Aku kagum pada kakakmu, dia rela berkorban untuk adiknya," ucap Sofia sambil terus mengelus bahu Yudha.


"Tapi, aku selalu membuatnya kesal dan marah. Kadang aku juga merasa bersalah," balas Yudha


Seketika Sofia melupakan tujuan utamanya menemui Yudha, karena pembahasan yang cukup serius dan mengharukan membuat keduanya sejenak larut dalam suasana.


"Yud, turunkan aku di depan kampus ya," pinta Sofia saat Yudha mulai tenang kembali.


"Iya," sahut Yudha


Mobil pun melaju ke arah kampus Sofia, beberapa saat kemudian mereka sampai dan Yudha menepikan Mobil di pinggir trotoar.


Saat Mobil berhenti, Sofia bersiap untuk turun namun, dengan cepat Yudha menarik tubuh Sofia dan menyambar bibir gadis itu.


"Emmm." Sofia menggumam dan membalas ciuman panas kekasihnya.


Beberapa menit mereka menikmati adegan itu, hingga Yudha melepas ciuman karena kehabisan udara untuk bernapas.


"Gila kamu Yud," sungut Sofia sembari merapikan rambut dan menyeka bibirnya.


Wajah Sofia merah menahan malu, karena sesungguhnya dia juga begitu menikmati ciuman panas kekasihnya itu.


"Aku turun sayaang," pamit Sofia.


Yudha mengangguk, kemudian turun dan berjalan memutar membuka pintu untuk Sofia.


"Pulang aku jemput lagi," ucap Yudha.


Sofia hanya memberi isyarat dengan kedipan matanya lalu bergegas melangkah masuk dan meninggalkan Yudha, pemuda itu masuk krmbali ke dalam mobil sambil tersenyum tipis.


Mobil Yudha melaju menuju sekolahnya, semangat kembali muncul setelah bertemu dengan Sofia.


Setelah memarkir mobilnya, Yudha langsung berjalan masuk ke dalam kelas tanpa menoleh sedikitpun pada orang-orang yang dilewatinya.


Hubungan Yudha dan Haris sedikit merenggang. Yudha marah dan menyalahkan sahabatnya karena sudah melaporkan tindakannya pada Bagas.


Di kela, Haris mencoba menyapa Yudha dan duduk di sebelahnya. Tapi, pemuda itu mengabaikan kehadiran Haris di dekatnya dan berpura-pura tidak mengenalnya.


"Yud, tindakanmu ini kekanak-kanakan. Hanya karena masalah sepele lantas kamu tidak mau menegurku," ujar Haris

__ADS_1


Yudha masih diam, dia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf pada sahabatnya itu.


"Baiklah, aku tidak akan mengusikmu lagi dan akan menjauhimu maafkan aku jika selama ini pernah berbuat salah padamu."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Haris mengambil tasnya lalu mencari kursi kosong dan bertukar tempat dengan teman sebangkunya.


Sementara Yudha sekilas melirik punggung Haris yang berjalan meninggalkan bangkunya, ada rasa sesal dalam dirinya tapi, dia akan menunggu waktu yang tepat untuk mengajak Haris berbaikan.


"Maaf Ris, aku hanya kesal padamu tidak berniat untuk memusuhi apalagi menjauh darimu," gumam Yudha dalam hati.


Siang hari, ponsel Yudha di dalam tas berdering. Pemuda itu segera merogoh tasnya dan mengambil ponsel, tampak nama Sofia muncul di layar ponsel.


"Halo, sayang," sapa Sofia di seberang


"Iya, sayang sebentar lagi aku akan kesana," balas Yudha


"Oke, aku tunggu di depan kampus ya," jawab Sofia


"Iya, dah sayaangg," ucap Yudha kemudian menutup telpon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas


Yudha bergegas keluar kelas menuju parkiran, tak sabar ingin bertemu Sofia dan melepas rindu setelah penat dengan aktifitasnya di sekolah.


Bunyi klakson seiring dengan mobil Yudha yang mendekat, membuyarkan lamunan Sofia yang sudah menunggu sejak tadi.


Yudha menghentikan mobilnya lalu membuka pintu, Sofia bergegas naik lalu duduk dan memasang sabuk pengaman. Kemudian mobil pun perlahan bergerak melaju di jalanan.


"Sudah lama menunggu?" tanya Yudha


"Lumayan, sejak telponku ditutup tadi hehe," jawab Sofia terkekeh.


"Hmm, padahal cuma selang berapa menit. Rupanya kamu tak sabar ingin bertemu denganku sayaang," goda Yudha sambil menyentuh dagu kekasihnya.


Sofia hanya menyunggingkan senyum termanisnya, gadis itu benar-benar sudah terpikat dan memyerahkan hati dan dirinya pada Yudha.


Bahkan Sofia tak lagi enggan atau malu ketika Yudha datang menjemputnya di kampus, dia seperti sudah menutup telinga pada cibiran dan cemooh teman-teman kuliahnya.


"Kenapa sayang, kamu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Yudha memiringkan kepalanya.


"Ah, aku hanya sedang mengingat candaan dosen tadi di kelas," elak Sofia.


"Candaan dosen, atau panasnya ciumanku hmm?"


Sofia tersipu malu, kemudian menggeser tubuhnya dan bersandar di bahu Yudha yang sedang mengemudi.

__ADS_1


__ADS_2