KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Aktifitas Baru


__ADS_3

Part 48


Dari hasil bertanya pada orang-orang yang mereka temui, akhirnya kedua kakak beradik itu pun sampai pada sebuah apotek yang menjadi satu-satunya toko obat di daerah tempat tinggal Pak Herman.


"Astagaa kak, mana bisa aku hidup dan betah di kota kecil ini," ucap Yudha sembari memutar kepalanya mencari tempat duduk.


"Jangan banyak omong Yud, kakak capek," balas Bagas kesal.


"Pantas saja bibi hanya merawat paman seadanya, bahkan untuk membeli obat saja harus ribet begini," sambung Bagas.


Yudha tak lagi berkomentar, pemuda itu malah sibuk memijat betisnya yang teras pegal.


"Masih lama kak?" tanya Yudha.


"Sebentar lagi, giliran kita setelah wanita di depan itu."


Bagas sudah mendapatkan obat yang dia inginkan, kemudian dia mengajak Yudha pulang. Mobil angkutan umum yang mereka tumpangi, tak bisa mengantar langsung ke depan rumah sehimgga mereka harus turun di depan lorong dan berjalan kaki ke rumah Pak Herman.


Pak Herman pun mendapat penanganan dari Bagas, walaupun dengan alat medis seadanya dia berusaha maksimal merawat pamannya.

__ADS_1


"Yud, tolong bantu kakak memandikan paman," ucap Bagas saat keluar dari kamar pamannya dan menemui Yudha di ruang tamu.


Yudha mengangkat wajahnya sambil berucap,"iya."


Bagas membopong Pak Herman ke kamar mandi, sedangkan Yudha mengganti seprei dan selimut serta merapikan kasur. Setelah itu dia membersihkan kamar tersebut sembari menunggu pamannya selesai mandi.


Bagas melongok dari balik pintu lalu berkata,"Yud, tolong ambilkan handuk paman."


Yudha segera keluar kamar untuk bertanya pada bibinya, sebab dia tidak melihat handuk di dalam kamar pamannya.


"Bi, handuk paman di mana?" tanya Yudha.


Yudha berbalik dan bergegas kembali ke kamar, sesuai perkataan bibinya, Yudha mengambil handuk bersih dari dalam lemari lalu menyerahkan pada Bagas.


Selesai mandi, Bagas memakaikan pamannya baju yang bersih dan membopongnya dibantu oleh Yudha. Mereka membawa Pak Herman ke teras agar bisa menghirup udara segar.


Napas Bagas terengah-engah, lelaki itu menyeka keringat di dahinya. Meskipun tubuh Pak Herman sudah sangat kurus. Tapi, masih saja berat ketika di angkat karena tak lagi memiliki keseimbangan.


"Waduh, ternyata paman berat juga ya," ucap Yudha sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

__ADS_1


"Iya, karena tubuh paman sudah tidak punya keseimbangan. Otomatis akan terasa berat jika di angkat."


Bagas menjelaskan kepada Yudha tentang kondisi pamannya, sebagai informasi dasar untuk Yudha merawat pamannya jika dia sudah kembali dan meninggalkan adiknya di rumah paman mereka.


"Yud, nanti setelah kakak pulang. Lakukan hal ini kepada paman setiap pagi, mandi dengan air hangat dan berjemur biar paman merasa segar," pesan Bagas.


"Mana kuat aku sendirian kak, berdua saja kita kewalahan," jawab Yudha lalu melengos.


"Kalau tidak bisa setiap hari, minimal dua hari sekali asalkan paman harus tetap mandi dan bajunya diganti."


"Hmmm," sahut Yudha.


Hari ketiga, Bagas harus pulang dan kembali bekerja. Banyak pesan dan petuah yang dia sampaikan pada adiknya, terutama fokus serta serius merawat paman mereka.


Yudha mengantarkan kakaknya ke pelabuhan, dengan berat hati dia melepas kepergian Bagas, Ingin rasanya dia ikut. Namun, bagas mencegah dan membujuknya untuk tetap bertahan sementara waktu.


Kapal perlahan meninggalkan dermaga, Yudha berdiri sambil melambaikan tangannya sampai kapal tersebut menjauh barulah Yudha beranjak dari tempatnya dan kembali ke rumah pamannya.


Dengan langkah gontai dia berjalan menuju rumah pamannya, Bagas tak memberinya banyak uang saku. Malah dia disuruh berhemat dan tidak membelanjakan uang tersebut untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

__ADS_1


"Berapa lama aku bisa bertahan di sini? Kota hantu, Semua fasilitas susah dijangkau mana sepi lagi kaya kuburan. Huuuft ," umpat Yudha sepanjang perjalan pulang.


__ADS_2