KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Menantu Idaman


__ADS_3

Part 23


Fadli sepertinya melupakan sesuatu, untungnya Masyitah segera mengingatkan suaminya.


"Fad, kamu sudah menyiapkan makanan untuk mama dan papa kalau mereka ke sini?"


"Waduuh, aku lupa!" seru Fadli sambil menepuk keningnya


"Bisa-bisanya kamu melupakan hal sepenting itu, sudah dipastikan mama akan meledekmu habis-habisan," ucap Masyitah


Fadli mengambil kunci di atas meja dan mengajak Masyitah keluar, tentuny akan mencari berbagai macam jajanan yang akan disajikan untuk orang tua mereka.


Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, keduanya kembali ke rumah. Masyitah menata makanan di atas meja dibantu oleh suaminya.


Tak lama kemudian, terdengar bunyi klakson mobil di depan, Fadli bergegas keluar untuk menyambut orang tua mereka.


Haji Salim sengaja menjemput besannya sesuai pesan Fadli, dua pasangan suami istri itupun turun dari mobil.


Murni menoleh pada Ridha lalu berkata,"ini rumah siapa?" Ridha hanya memgangkat bahunya sebagai jawaban bahwa dia juga belum tahu siapa pemiliknya.


Fadli berdiri di pintu dengan senyum mengembang, orang yang ditunggu sudah datang. Lelaki itu berjalan menghampiri orang tua dan mertuanya.


"Ayo, mah, pah, kita masuk ke dalam," ajaknya



Mereka sudah berdiri di pintu, Murni kembali menoleh. Tapi, kali ini tatapannya tertuju pada Haji Burhan lalu beralih menatap Fadli.


"Fad, ini rumah siapa?" tanya Murni


"Hehhee, ini rumah Masyitah," jawab Fadli tersenyum tipis.


"Jangan bohong kamu, dosa tahuu," ujar Murni tak percaya.


"Iya, serius mah. Ini rumah Masyitah hadiah ulang tahunnya," balas Fadli.


Murni dan Ridha saling pandang, kedua wanita paruh baya itu menatap kagum pada Fadli. Sebagai ibu, tentu saja Ridha merasa bangga atas pencapaian anak sulungnya.


Pandangan Murni menyapu seluruh ruangan, tampak beberapa pigura yang terpajang di dinding ruang tamu, foto masa kecil Fadli terlihat sangat imut


"Silahkan duduk, masa kita akan berdiri terus sampai malam hehe," ucap Fadli terkekeh


"Ita, tolong gelar karpetnya untuk kita. Biar mereka duduk di kursi," ujar Fadli pada istrinya

__ADS_1


Sore itu suasana di rumah baru Masyitah dipenuhi canda dan tawa sambil menikmati hidangan yang tersaji di atas meja, kebahagiaan menyelimuti keluarga mereka.


Haji Burhan dan Murni merasa sangat bersyukur, pilihan mereka ternyata tidak salah menjadikan Fadli sebagai menantu karena terbukti, betapa lelaki itu begitu mencintai Masyitah sepenuh hati.


"Kapan kalian pindah ke sini Fad?" tanya Ridha di sela obrolan mereka.


Seketika yang lainnya terdiam, begitu pula dengan Masyitah. Wanita itu melirik suaminya, kemudian dia membuka suara.


"Kami belum tahu mah, sebab belum ada pembicaraan tentang rencana itu karena aku juga baru tahu hari ini kalau Fadli membeli sebuah rumah," jawab Masyitah


"Oh, jadi ini kejutan ya? maaf, mama tidak tahu hehe," ucap Ridha lagi.


Obrolan kembali berlanjut, sekaligus membahas rencana kepindahan Fadli dan Masyitah ke rumah baru mereka.


Haji Burhan mempunyai rencana sendiri, begitupun dengan Haji Salim. Akhirnya Fadli menengahi dan menentukan waktu sendiri agar kedua belah pihak tidak merasa kecewa.


Fadli memutuskan dua bulan lagi mereka akan pindah, tentu saja dia meminta pendapat istrinya terlebih dahulu dan Masyitah menyetujuinya.


"Dua bulan lagi kami akan pindah ke sini, aku harus mengumpulkan uang dulu untuk acara sukuran kecil-kecilan," ucap Fadli sambil melirik istrinya di samping.


"Iya, papa setuju dengan rencanamu. Nanti kami juga akan memberi sedikit bantuan dana untuk tambahannya," timpal Haji Salim


"Waah, terima kasih pah," balas Fadli dengan senyum mengembang


"Kami juga akan memberi sesuatu sebagai hadiah untuk Ita, semoga bisa bermanfaat untuk kalian," ujar Haji Burhan.


Suasana menjadi riuh, karena masing-masing orang tua mereka mulai unjuk kemampuan dan perhatian pada anak mereka.


Hal ini membuat Masyitah menjadi sangat terharu, di hari ulang tahunnya dia mendapat kado istimewa dari suami dan juga orang tua serta mertuanya.


"Kamu senang?" bisik Fadli.


"Hmm," sahut Masyitah


"Bukan senang lagi. Tapi, aku sangat bahagia," sambungnya lagi sambil berbisik.


Menjelang Maghrib, mereka kembali ke rumah. Haji Salim memgantar besannya pulang sedangkan Fadli dan Masyitah berboncengan mengikuti mobil Haji Salim dari belakang.


Malam Hari, setelah makan malam. Masyitah dan Fadli masuk ke kamar mereka, sedangkan Haji Burhan dan istrinya memilih mengobrol dulu di ruang keluarga.


"Pah, beruntung sekali Ita mendapatkan suami seperti Fadli," ucap Murni sembari menonton tayangan televisi.


"Papa kan sudah bilang, akan memberikan yang terbaik untuk Ita. Tapi, mama malah mengancam papa. Apa mama masih ingat?" ledek Haji Burhan

__ADS_1


"Sebagai ibu, wajar mama khawatir pada pilihan papa." Murni memanyunkan bibir.


Obrolan panjang mereka berakhir karena rasa ngantuk yang mulai menyerang, keduanya pun masuk ke kamar untuk beristirahat.


Keesokkan harinya, seperti biasa Fadli kembali bekerja dan melakukan aktifitasnya di toko. Masyitah tidak lagi merengek pada suaminya meminta ikut. Tapi, dia lebih memilih berdiam diri di rumah membantu pekerjaan ibunya.


Setelah mengantar suaminya sampai ke pintu pagar, Masyitah masuk kembali ke dalam rumah lalu menemui ibunya di dapur.


"Sedang apa mah?" tanya Masyitah ketika sudah berada di dekat ibunya.


"Lagi masak kuah asam kesukaan papa, semalam papa minta dibuatkan ini," jawab Murni


"Mah, aku ingin belajar masak," ucap Masyitah secara tiba-tiba membuat ibunya terperangah.


"Mimpi apa kamu semalam?" ledek Murni


"Iiih, mama menyebalkan!"


Seketika suasana hati Masyitah berubah, awalnya dia begitu antusias namun, mendengar ucapan ibunya membuat berubah pikiran dan memutar tubuhnya berlalu meninggalkan ibunya di dapur.


"Heh, dasaar labil, begitu saja langsung merajuk!" sungut Murni.


Perasaan Masyitah memang susah untuk di tebak, dalam waktu sekian detik bisa berubah sesuai keadaan di sekitarnya.


Untungnya Fadli mulai memahami sifat Masyitah dan lebih banyak mengalah, sehingga lebih mudah meluluhkan hati istrinya.


Sementara itu di rumah Haji Salim, Fadli mendapat pertanyaan beruntun dari orang tuanya.


"Fad, kenapa tidak bilang pada kami kalau kamu membeli rumah?" tanya Ridha.


"Kalau aku bilang, bukan kejutan lagi namanya mah," sahut Fadli.


"Kamu yakin Masyitah mau pisah rumah dari orang tuanya?"


"Yakin mah, Ita itu istri penurut dan tidak banyak tuntutan pada suami," balas Fadli lagi.


"Ya, semoga saja seperti itu. Mama harap kamu menjadi suami yang bisa membimbing istri," ujar Ridha.


Ridha sedikit punya keraguan pada menantunya, mengingat Masyitah adalah seorang anak tunggal yang tentunya memiliki sifat manja.


Fadli bisa membaca gelagat ibunya, dengan tenang dia meyakinkan ibunya bahwa istrinya bisa diatur dan mau menuruti ucapan suami.


Haji Salim menimpali ucapan istrinya,"sudah mah, Fadli jauh lebih mengenal istrinya dari pada kita."

__ADS_1


__ADS_2