
Part 47
Pemeriksaan awal sudah Bagas lakukan, seperti ucapan bibinya, Paman Herman mengalami stroke yang ringan hanya saja karena tidak tertangani dengan baik, sehingga penyakitnya semakin parah.
Dengan hati-hati Bagas menyimpan alat-alat medisnya ke dalam kotak penyimpanan, kemudian merapikan kembali selimut pamannya lalu dia mundur beberapa langkah dan mengamati sosok lelaki tua yang terbaring itu.
Di dalam kamar, Yudha terbangun. Matanya melihat ke sekeliling ruangan mencari Bagas.
"Jam berapa sekarang, kemana kak Bagas?"
Yudha mengambil arloji di atas nakas, kemudian bergegas turun dari ranjang untuk membersihkan diri.
"Perjalanan yang sangat melelahkan, kenapa juga paman memilih tinggal di kota seperti ini?" gumamnya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Yudha keluar dari kamar. Rumah tampak sepi hanya terdengar suara seseorang yang sedang berdendang dari arah dapur.
Aroma masakan yang wangi memancing rasa lapar Yudha, perlahan dia melangkah menuju dapur. Disana tampak bibinya sedang menggoreng telur balado.
"Hemm, wangi sekali. Pasti rasanya enak," ucap Yudha.
Istri Pak Herman sontak menoleh dan berkata,"eh, Yudha sudah bangun?"
"Eh, iya bi," sahut Yudha kikuk.
"Kak Bagas kemana bi?" tanya Yudha mengalihkan pembicaraan.
"Di kamar bersama paman, tadi dia bilang mau periksa pamanmu," jawab Bibinya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Oh, saya kesana dulu ya bi." Yudha meminta ijin pada bibinya menyusul Bagas.
Tanpa menoleh, istri Pak Herman menyahuti,"iya."
Yudha sudah sampai di kamar pamannya, dia masuk dan melihat Bagas yang sedang berdiri di depan ranjang pamannya.
"Kak," sapa Yudha.
Bagas hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap ke arah pamannya. Namun, tangannya melambai ke arah Yudha yang masih berada di dekat pintu.
Yudha mendekat, ikut memandangi sosok lelaki tua di depan mereka.
"Yud, nanti siang kita cari apotek di dekat sini. Paman butuh pengobatan yang serius," ujar Bagas.
__ADS_1
"Ijin dulu sama bibi kak, takutnya nanti tersinggung," balas Yudha.
"Tadi kakak sudah bilang dan bibi setuju, kasihan paman kalau dibiarkan terus seperti ini," ucap Bagas lagi dengan wajah prihatin.
"Kak, bagaimana kalau paman kita bawa ke tempat kita dan berobat di rumah sakit tempat kakak bekerja." Yudha memberi saran kepada Bagas dan berharap Bagas mau menyetujuinya.
"Tidak perlu seperti itu, paman juga masih punya anak-anak yang lebih berhak. Kakak hanya akan mengurusnya ketika kakak di sini."
Yudha tertegun, andai saja Pak Herman tidak memiliki anak mungkin mereka sudah membawanya dan merawat paman mereka hingga sembuh pikirnya.
Bagas pun berpikir demikian. Tapi, dia tidak mau mengambil resiko sebab tujuan utamanya datang hanya untuk mengantar adiknya.
Kakak beradik itu kini dihadapkan pada sebuah kondisi yang jauh dari dugaan, awalnya Bagas mengira kehidupan pamannya baik-baik saja. Namun, ternyata perkiraannya salah.
Tak lama, istri Pak Herman muncul lalu mengajak kedua ponakan suaminya sarapan di dapur sednagkan dirinya membawa semangkuk bubur untuk suaminya.
"Ayo, Bagas ajak adikmu sarapan. Bibi sudah menyiapkan di atas meja."
"Ah, iya bi. Terima kasih," ucap keduanya bersamaan.
Bagas dan Yudha keluar dari kamar pamannya, keduanya berjalan ke dapur lalu menyantap makanan yang di hidangkan di atas meja dengan lahap.
"Kak, masakan bibi enak ya," ucap Yudha sambil mengunyah makanan.
"Kakak malah kasihan sama mereka, usianya sudah senja masih harus bekerja dan mengurus diri sendiri," sambung Bagas
"Apa sebaiknya kita kabari anak-anaknya?" saran Yudha lagi.
"Yud, kakak juga belum tahu dimana anak-anak paman tinggal. Lagi pula, kakak di sini hanya tiga hari sesuai ijin dari atasan kakak," ujar Bagas menjelaskan pada adiknya.
"Oh, iya. Satu lagi, sekarang kamu dapat tugas baru dari kakak. Uruslah paman dan bibi dengan baik dan tetap ingat tujuan awal kamu kesini."
Bagas mengingatkan Yudha perihal tujuannya membawa adiknya ke rumah paman mereka, inilah saat yang tepat untuk Yudha menunjukkan kesungguhannya merubah diri.
Yudha hanya bisa tertunduk lesu, membayangkan sulitnya hidup di perantauan apalagi harus mengurus dua orang tua yang sudah berusia senja sekaligus.
"Yaa Tuhan, seberat inikah?" gumamnya dalam hati.
Keduanya sudah selesai sarapan, mereka keluar menuju beranda depan. Rumah Pak Herman juga terbilang bagus di antara tetangga sekitar, karena dulunya Pak Herman bekerja sebagai salah satu karyawan di perusahaan milik pemerintah.
Pak Herman memilih menetap di kota tempat tugasnya yang terakhir sebelum pensiun, sebelum terserang penyakit, dia adalah seorang pekerja keras dan suka mengumpulkan harta. Hanya saja di usianya yang sudah lanjut, anak-anaknya memilih tinggal di kota lain dan berpisah dari mereka.
__ADS_1
"Yud, kakak harap kamu betah tinggal di sini." Bagas memulai perbincangan ketika keduanya sedang duduk di bangku yang ada di teras.
Yudha diam, pemuda itu termenung seakan kehabisan kata-kata. Dia tidak berani berharap banyak, bahkan juga tidak mau menjanjikan sesuatu yang akan membuatnya terjebak sendiri nantinya.
"Yud, kamu mendengar kakak?"
"Iya, kak."
"Kenapa diam, hmm?"
"Aku tidak tahu lagi harus bilang apa kak, aku juga belum berani berjanji pada kakak, sebab kakak lihat sendiri kan bagaimana keadaan Paman Herman?"
Yudha sengaja memprovokasi Bagas tentang keadaan pamannya, tidak mungkin dia harus berlama-lama tinggal di rumah pamannya dengan situasi yang seperti sekarang ini.
"Tiga bulan lagi kakak akan menjemputmu. Ingat, kamu jangan membuat ulah disini Yud."
Yudha hanya mengangguk lemah, tatapannya lurus ke depan memandangi suasana di sekitar rumah pamannya. Tempat yang akan dia tinggali untuk tiga bulan ke depan.
Lama keduanya berbincang, sampai akhirnya Bagas mengajak adiknya mencari apotek terdekat untuk membeli obat.
"Ayo, Yud. Ikut kakak," ajak Bagas sembari bangkit dari duduknya.
"Kemana?"
"Kamu lupa? tadi kakak bilang mau mencari apotek di sekitar sini," jawab Bagas.
"Pamit dulu sana." Bagas menyuruh Yudha berpamitan pada bibi mereka di dalam kamar.
Dengan langkah berat, Yudha masuk ke kamar pamannya kemudian pamit pada bibinya setelah itu dia kembali ke teras.
Keduanya pun berjalan melewati jalan yang belum teraspal, Rumah Pak Herman memang terletak di sebuah lorong dan di sekitarnya masih banyak semak-semak dan tumbuhan liar.
Mereka berjalan hingga keluar dari lorong, di jalan raya belum banyak kendaraan yang berlalu lalang seperti di kota tempat mereka tinggal.
"Kota macam apa ini? Sepi seperti kota hantu," sungut Yudha sepanjang perjalanan.
"Diamlah Yud, nanti ada yang mendengar dan membuat orang tersinggung."
"Aku capek kak."
Yudha tak henti-hentinya mengeluh, pemuda itu merasa sangat tersiksa dengan situasinya sekarang.
__ADS_1
"Yud, kamu bisa diam?!" nada suara Bagas sedikit meninggi karena mulai kesal dengan adiknya yang terus saja mengumpat di sebelahnya.