
Part 56
"Siaall, cuma masalah kecil malah disuruh tidur di sofa. Nasibmu benar-benar malang Fadli!!" sungut Fadli sambil berjalan menuju sofa.
Masyitah masuk kembali ke dalam kamar, Namun, entah mengapa dia tak bisa memejamkan matanya. Mungkin karena sudah terbiasa tidur ditemani Sang Suami, rasanya ada yang kurang ketika tidur terpisah.
"Apa sebaiknya aku suruh pindah ya? ah, nanti malah melunjak!" gumam Masyitah
Akan tetapi Masyitah justru malah gelisah, dengan berat hati dia keluar kamar menghampiri Fadli di sofa.
Fadli yang menyadari kehadiran istrinya, berpura-pura terlelap sambil menahan tawa.
"Sudah kuduga, kamu pasti tidak bisa tidur tanpa aku di sampingmu hehe," batin Fadli
Masyitah berdiri mematung menatap suaminya, tangannya terulur namun, ditariknya kembali hingga berulang kali.
"Ah, masa bodoh!" Masyitah mengabaikan rasa gengsinya lalu menyentuh bahu Fadli.
"Fad, ayo, pindah ke kamar."
"Huumm."
"Fad, banguun. Pindah ke kamar!"
Lelaki muda itu menggeliat seakan terusik dari tidurnya, perlahan membuka mata sambil menahan tawanya.
"Kenapa, hmm?"
"Aku tidak bisa tidur, temani aku di dalam," rengek Masyitah
Fadli tak dapat lagi menahan tawanya.
"Hahahha, makanya jangan sok begitu kalau masih butuh suami!" pungkas Fadli diselingi gelaknya
"Aauuh, sakiitt," ringis Masyitah memegang perutnya.
"Hmm, rasakan balasanku!" gumam Masyitah dalam hatinya
"Eh, kenapa sayaangg? apa yang sakit?" Fadli panik dan segera bangkit mendekati istrinya
"Perutkuu, huu sakiitt," ringis Masyitah lagi.
Dengan gerakan cepat, Fadli menggendong tubuh Masyitah masuk ke dalam kamar lalu membaringkan di atas ranjang.
"Aku panggil mama ke sini!" ujar Fadli dengan wajah khawatir.
"Tidak usah! Sudah larut malam begini," tolak Masyitah.
__ADS_1
"Itaa, aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu tahu sendiri kan? aku belum punya pengalaman menghadapi wanita hamil."
Masyitah tertawa puas dalam hati, merasa berhasil mengerjai suaminya dan bisa menghindari olok-olokan Fadli.
"Aku cuma butuh istirahat Fad, besok pagi juga pasti akan hilang sakitnya."
Fadli mengernyitkan dahinya, kenapa bisa Masyitah tahu kapan rasa sakitnya hilang. Aneh pikirnya. Tapi, tak mau membahasnya dalam situasi sekarang.
"Ya, sudah. Kamu tidur duluan," ucap Fadli sembari menutup tubuh istrinya dengan selimut.
Masyitah memejamkan matanya sambil berkata dalam hati,"syukur tidak ketahuan, aku selamat sekarang hehe."
Pagi menjelang, suara ayam berkokok bersahutan. Pasangan suami istri tersebut masih meringkuk di atas kasur.
Cahaya sinar matahari masuk melalui ventilasi, menyilaukan mata hingga membuat Fadli terbangun. Lelaki itu melirik jam di atas nakas.
"Astagaa, aku kesiangan dan melewatkan shalat subuh!"
"Itaa, banguun," ucap Fadli sambil menggoyang tubuh istrinya yang masih terlelap.
Karena tak ada reaksi apapun dari Masyitah, Fadli bergegas turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian dia sudah selesai dengan mandinya lalu berpakaian.
"Gara-gara begadang semalam aku jadi kesiangan begini," sungut Fadli.
Lelaki itu pun kembali membangunkan istrinya, karena dia ingin berpamitan berangkat kerja dan tak mau meninggalkan istrinya dalam keadaan tidur tetapi pintu rumah tidak terkunci.
"Hummm," gumam Masyitah sambil menggeliat.
"Aku masih ngantuk Fad," sahut Masyitah malas.
"Aku berangkat, kunci pintunya dan kamu lanjutkan tidurmu."
Masyitah berjalan sempoyongan mengikuti langkah suaminya, sampai di pintu, Fadli berbalik kemudian memgecup kening istrinya dan berlalu pergi dengan mengendarai sepeda motornya.
Wanita muda itu pun kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya, hingga hampir siang barulah dia terbangun karena merasakan lapar.
"Aku lapar, tidak apa pun yang di makan. Apa aku ke rumah mama saja ya?" gumamnya sambil memgetuk-ngetuk kening dengan telunjuknya.
"Eh, Tapi, Fadli kan belum pulang. Bagaimana mungkin aku pergi tanpa pamit dulu padanya."
Masyitah lalu berjalan ke dapur, wanita itu membuka pintu kabinet mungkin saja ada mie instant yang tersimpan di dalam.
Benar saja, Masyitah menemukan satu bungkus mie kemudian dia membuka kulkas dan mengambil satu buah telur lalu memasaknya bersama mie.
Makan siang seadanya, yang penting perut terisi begitu pikir Masyitah. Namun, baru saja dia selesai makan, tiba-tiba perutnya serasa diaduk rasa mual menyerangnya hingga memuntahkan kembali semua makanan di wastafel.
Bukan hanya mual, pusing pun datang melanda dan akhirnya Masyitah tak tahan lagi lalu berlari masuk ke dalam kamar dan segera berbaring.
__ADS_1
"Apa ini? Kenapa denganku? mamaa," rintih Masyitah di tengah kesakitan
Sementara itu, di tokonya entah kenapa Fadli merasa gelisah dan ingin segera pulang. Pikirannya terus tertuju pada istrinya di rumah.
Tanpa pikir panjang, Fadli pamit pada pekerjanya dan ayahnya yang juga ada di situ.
"Pah, aku pulang. Perasaanku tidak enak, tolong papa awasi mereka," pamitnya.
"Ada apa nak?"
"Aku juga belum tahu pah, nanti aku kabari kalau sudah sampai di rumah."
Fadli pun bergegas pulang, dengan kecepatan tinggi Fadli memacu kendaraannya agar cepat sampai di rumah.
Fadli sudah ada di depan pintu rumahnya, dia mengetuk pintu dan berkali-kali memanggil Masyitah, akan tetapi tak ada jawaban. Seketika Fadli panik dan mengambil kunci cadangan di sakunya lalu membuka pintu dan merangsek masuk.
Tujuan utama Fadli adalah kamar tidur mereka, benar saja, di dalam kamar tampak Masyitah terbaring lemah dengan wajah pucat pasi dan mata yang sayu.
Fadli berjalan cepat mendekati ranjang lalu meraba kening istrinya dan berkata,"kamu kenapa sayang?"
Masyitah hanya terdiam lemah, wanita iti menggapai tubuh suaminya memberi isyarat dengan matanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Masyitah menggeleng menolak ajakan suaminya, dia hanya ingin ditemani suami dan ibunya saja tetapi karena terlalu lemah sehingga dia tak bisa mengucapkan kata-kata.
"Jangan membantah! aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu."
"Aah, siaaall. Bagaimana mungkin aku bisa membawanya hanya dengan naik motor!"
Baru saja Fadli hendak keluar, terdengar suara mobil masuk ke halaman. Rupanya Haji Salim menyusul anaknya karena merasa ada sesuatu yang akan terjadi dan dugaannya benar.
"Papa?!"
"Iya, papa menyusulmu ke sini khawatir ada apa-apa dengan kalian."
"Kebetulan sekali pah, Ita sedang sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit."
Tanpa banyak berkomentar lagi, Fadli masuk kembali ke kamarnya dengan gerakan cepat membopong tubuh istrinya lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Haji Salim bergegas membuka pintu, kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi lalu memacu mobilnya menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, mobil berhenti tepat di pintu ruang IGD. Seorang perawat datang menyapa Fadli.
"Tolong istri saya," ujar Fadli panik.
"Iya, tenang Pak, akan kami tangani," sahut perawat tersebut kemudian masuk kembali memgambil brankar.
__ADS_1
Masyitah diangkat ke atas brankar dan didorong masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Sementara Fadli dan ayahnya menunggu di luar dengan perasaan cemas.