
Part 63
"Assalamualaikum, taraaa kejutaaan!!" seru Masyitah sambil berjalan pelan masuk ke dalam rumah dengan menggendong bayinya.
Murni tergopoh-gopoh datang menghampiri anak dan cucunya, Haji Burhan pun tak kalah hebohnya menyambut kedatangan Masyitah.
"Kenapa tidak mengabari dulu?" ucap Haji Burhan
"Iya, kalian ini seenaknya membawa pulang cucuku hanya dengan naik taksi," sambar Murni memasang wajah cemberut.
Fadli dan Masyitah saling pandang lalu tersenyum, mendapat sambutan hangat dari orang tua membuat hati mereka sangat bahagia.
"Sengaja mah, pah. Kalau dikabari bukan kejutan namanya hehe," balas Masyitah terkekeh geli.
Murni segera mengambil cucunya dari gendongan Masyitah, kemudian menyuruh anaknya beristirahat.
Fadli membawa masuk barang serta pakaian anak dan istrinya ke dalam kamar, memilah-milah pakain kotor kemudian memasukkan ke dalam keranjang.
Selesai mengurus semua kebutuhan anak dan istrinya, Fadli keluar lalu bergabung bersama keluarga yang lain.
"Fad, mama dan papamu sudah tahu kalian pulang hari ini?" tanya Murni
"Belum mah."
"Astagaa, bagaimana kalau mereka ke rumah sakit hari ini?"
"Tidak usah khawatir mah, paling juga perawat akan memberi tahu mereka," celetuk Masyitah.
"Kalian ini, selalu saja berbuat sesuka hati. Hmm," sungut Murni.
Masyitah dan Fadli hanya terkekeh, bahkan Fadli sudah bisa membayangkan bagaimana kesal ibunya nanti jika sampai di rumah sakit dan tidak menemukan mereka di sana.
Benar saja, rupanya Ridha dan suaminya sudah ada di rumah sakit dan mencari keberadaan cucu serta menantunya. Mereka bertanya pada petugas medis dan mendapat informasi kalau Masyitah dan bayinya sudah pulang.
"Pah, anak dan menantumu benar-benar yaa kelakuannya. Masa kita tidak dikabari kalau mereka mau pulang!"
"Sabar mah, ingat kita lagi di rumah sakit sekarang. Dari pada mama marah-marah lebih baik kita susul mereka," ajak Haji Salim meredakan kekesalan istrinya.
"Aah, kalau tidak ingat cucu, mama tidak akan datang ke sana menyebalkan sekali!"
"Sudahlah, mah. Bukan waktunya ngomel-ngomel, ayo, kita ke sana sekarang."
Ridha akhirnya mengikuti ajakan suaminya, sepanjang jalan wanita paru baya itu tak hentinya mengoceh kesal merasa diabaikan dan tak dihargai sebagai orang tua.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Haji Burhan. Ridha turun dari mobil masih dengan wajah kesalnya, kemudian Haji Salim pun menggandeng tangan istrinya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Daffaa! Itu nenekmu datang," ucap Murni sambil tersenyum.
"Nah, kaan, benar tebakanku. Pasti kalian dari rumah sakit dan langsung ke sini," sambung Murni lagi.
Ridha hanya tersenyum masam, berjalan ke arah besannya yang duduk memangku cucunya. Matanya melirik Fadli dengan tatapan tajam. Namun, malah terlihat lucu bagi Fadli.
Haji Salim mengikuti langkah istrinya, seperti biasa dia akan menghampiri ayah Masyitah dan memilih berbincang dengan besannya tersebut.
"Fad, tega kamu yaa sama mama!" ucap Ridha dengan nada kesalnya.
"Hehe, maaf mah. Kami sengaja bikin kejutan." Fadli mendekati ibunya sambil tersenyum.
"Iya, tapi, caranya keliru. Mama dan papa jadi panik tadi karena mencari anak dan istrimu."
"Tenang mah, tidak akan ada yang mau menculik Ita."
"Eh, maksudnya?" sambar Masyitah sambil mengangkat alisnya.
"Iya, mana ada yang mau menculikmu jalan saja masih susah. Bakal merepotkan hehe," canda Fadli.
"Oh, jadi aku merepotkanmu begitu? Hmm?"
"Eh, bukan begitu maksudku Ita, aku cuma bercanda jangan diambil hati," bujuk Fadli panik.
Masyitah membuang pandangannya ke sembarang arah, ingin rasanya dia menjambak Fadli saat itu juga. Sayangnya ada orang tuanya dan juga orang tua Fadli bersama mereka.
"Sudah, sudah. Hentikan perdebatan aneh kalian, ada hal yang lebih penting untuk dibahas." Ridha menghentikan drama kecil antara Fadli dan Masyitah.
"Sebaiknya kita bicarakan rencana aqiqahan Daffa," ucap Ridha.
"Oh, iya. Itu yang harus kita bahas sekarang," balas Murni.
Mereka pun berunding, mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan acara sukuran sekaligus aqiqahan cucu pertama di keluarga mereka.
Dari hasil pembicaraan, mereka sepakati acaranya dilaksanakan hari ahad. Tepatnya satu minggu ke depan, sehingga masih ada waktu untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Fadli juga sebenarnya ingin segera kembali ke rumah mereka sendiri, sebab dia sudah menyiapkan kejutan untuk anak dan istrinya. Karena itu dia berharap Masyitah bisa cepat pulih dan mengajaknya pulang.
Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba, acara aqiqah dilaksanakan dengan meriah. Mengundang kerabat, tetangga, juga teman kerja Fadli.
Berbeda halnya dengan Masyitah, wanita itu enggan mengundang teman-temannya terlebih lagi teman pada saat kuliah. Jauh dilubuk hatinya, Masyitah merasa kecewa sekaligus merasa gagal meraih impiannya. Namun, apa daya Tuhan berencana lain dia diberi hadiah indah seorang bayi yang sedikit menghiburnya.
__ADS_1
Sore harinya, acara selesai semua tamu undangan pulang. Rumah kembali sepi, hanya ada keluarga Fadli dan Masyitah yang masih tetap tinggal membereskan beberapa pekerjaan.
Fadli menghampiri istrinya yang duduk termenung di sudut ruangan, pandangan Masyitah kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sayaang, kamu di sini rupanya. Dari tadi aku mencarimu," sapa Fadli kemudian duduk di samping istrinya.
Masyitah hanya menoleh sekilas, kemudian pandangannya kembali lurus ke depan. Bahkan gerak tubuhnya seakan terusik kehadiran suaminya.
"kamu kenapa, hmm?" tanya Fadli pelan.
Masyitah masih diam, Fadli semakin penasaran dengan tingkah istrinya yang tidak seperti biasanya.
"Ita, ada apa denganmu?"
"Jangan membuatku khawatir, kalau capek aku antar ke kamar."
"Kamu tidak mengerti perasaanku," ucap Masyitah tanpa menoleh.
"Bagaimana aku bisa mengerti kalau kamu hanya diam, tak mau bicara padaku," balas Fadli lagi.
Dada Masyitah seakan sesak, ingin rasanya dia menjerit menumpahkan semua beban dalam hatinya. Tapi, dia tak bisa melakukannya karena dia sendirilah yang bersikukuh dengan pendiriannya.
Fadli meraih tangan Masyitah lalu berkata,"kapan pun kamu bercerita, aku akan mendengarkannya."
Usai membujuk istrinya, Fadli mengajak Masyitah bergabung kembali dengan keluarga besar mereka yang masih bercengkerama di ruang keluarga.
"Dari mana kalian?" tanya Murni dengan tatapan curiga.
"Ita tadi sakit perut mah," jawab Fadli berbohong.
"Daffa belum empat puluh hari yaa!" seru Murni asal.
Seketika orang-orang yang hadir di dalam ruangan tergelak, celetukan Murni mengundang tawa bahkan ada yang sampai meledek Fadli dan Masyitah.
"Iiih, mama! Apa-apaan sih!" gerutu Masyitah kesal.
"Salah mama apa?" tanya Murni dengan polosnya.
"Astagaa mamaa! Barusan mama sudah menuduh kami," ucap Masyitah geram.
"Oh, ituu. Memang Daffa belum empat puluh hari kan, jadi kalian jangan dulu curi-curi kesempatan!"
Masyitah semakin kesal dengan ucapan ibunya, seakan tak kenal situasi Murni selalu saja berkata seenaknya bahkan bertingkah konyol di depan orang-orang yang membuat Masyitah menjadi malu.
__ADS_1