KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Tak Ingin Membahasnya


__ADS_3

Part 58


Dua hari Masyitah mendapat perawatan di rumah sakit, karena merasa sudah membaik dia meminta pulang ketika dokter datang melakukan pemeriksaan.


"Selamat pagi bu."


"Pagi juga dok," sahut Masyitah.


"Dok, apa saya sudah boleh pulang?"


"Sudah, nanti akan dikasih vitamin dan tablet penambah darah. Jangan lupa Bu, tetap mengkonsumsi makanan yang bergizi ya," ujar Sang Dokter lagi.


Fadli bergegas mengemasi barang istrinya, kemudian menemani istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap pulang.


Haji Burhan dan istrinya muncul dan menghampiri Masyitah, mereka sengaja datang untuk menjemput anak perempuannya.


"Fadli, saran mama bagaimana kalau kalian pulang dulu ke rumah kami? nanti kalau Ita sudah sembuh total baru kalian kembali ke rumah kalian," ujar Murni


Fadli diam sambil merenung, menimbang saran Ibu Mertuanya yang dirasa ada benarnya. Tak mungkin dia meninggalkan istrinya sendirian di rumah dalam keadaan belum pulih sepenuhnya.


"Gimana Fad, kamu setuju?"


"Iya, mah. Untuk sementara kami akan menginap dulu di rumah mama menunggu Ita sembuh total."


Setelah menemukan titik temu, mereka pun meninggalkan ruangan. Fadli mendorong istrinya ke parkiran menggunakan kursi roda, di parkiran Haji Salim sudah menunggu bersama istrinya.


Tiga keluarga tersebut sudah ada di dalam mobil dalam perjalanan pulang, menuju rumah Haji Burhan.


Sampai di rumah, Fadli menggendong istrinya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sementara pasangan Haji Burhan dan Haji Salim duduk di ruang keluarga.


"Ita, aku keluar sebentar ya. Tidak enak kalau aku ikut mengurung diri di kamar, sedangkan orang tua kita di luar."


"Hmmm. Tapi, kalau aku butuh kamu bagaimana?"


"Aku kan cuma di ruang keluarga bersama mereka Ita, tentu saja kalau aku akan mendengar suaramu memanggil jika kamu ingin sesuatu," sambung Fadli lagi.


Masyitah pun memberi ijin suaminya keluar kamar, setelah suaminya pergi wanita itu memilih tidur.


Fadli sudah bersama orang tua istrinya juga ayah dan ibunya, obrolan hangat diselingi candaan khas Murni menambah suasana semakin ramai.


"Loh, Fadli kamu kenapa ke sini?" tanya Ridha ketika anak lelakinya datang.


"Harusnya kamu menemani Ita di kamar," sambungny lagi.

__ADS_1


"Ita sedang istirahat mah, kalau aku di sana nanti malah mengobrol dan tidurnya terganggu," jawab Fadli


"Iya, biarkan dia istirahat dulu agar cepat pulih," ujar Haji Salim


Masyitah sangat beruntung, dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya. Begitu pun Fadli, menjadi menantu satu-satunya tentu tak perlu bersaing untuk memdapatkan perhatian mertua.


Satu jam kemudian, di tengah obrolan Fadli bersama orang tua dan mertuanya. Sekonyong-konyong Masyitah muncul dengan langkah lemah mendekati mereka.


Sontak Fadli berdiri dan berjalan cepat menjemput istrinya, kemudian memapah Masyitah lalu duduk di antara Haji Burhan dan istrinya.


"Astagaa Itaa! Kenapa tidak memanggilku. Hmm?"


"Aku sudah memanggil. Tapi, kamu tidak mendengar," balas Masyitah dengan wajah cemberut


"Oh, iya, maafkan aku. Kami terlalu asyik mengobrol hingga tak mendengar teriakanmu."


Obrolan berlanjut kembali, bahkan pembahasan melebar sampai menanyakan tentang kuliah Masyitah.


Tampak jelas wajah Masyitah terlihat tidak nyaman, saat Ridha, Ibu Mertuanya menanyakan hal tersebut.


"Mah, Ita masih sakit. Nanti saja kita bahas itu," ujar Fadli menyadari perubahan air muka istrinya.


"Maaf, mama hanya ingin tahu perkembangannya."


Masyitah mulai menunjukkan reaksi tak suka, kemudian berkata,"Fad, antar aku ke kamar. Kepalaku pusing!"


Tak menunggu lama, Fadli bangkit lalu memegang tangan istrinya. Keduanya berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan orang tua mereka.


"Aku tidak suka membahas masalah kuliah Fad!" Masyitah protes pada suaminya ketika sudah ada di dalam kamar.


"Iya, sayaang. Sudah, jangan diambil hati."


"Mama kan belum tahu rencanamu, lagi pula mama hanya bertanya," kilah Fadli mencoba bersikap netral.


Masyitah membanting tubuhnya ke atas kasur, suasana hatinya seketika berubah. Untuk saat ini, dia tak ingin mendengar atau membahas apa pun mengenai perkuliahannya.


Sejujurnya Masyitah juga masih dilema, bingung harus memilih. Mau melanjutkan studinya atau berhenti di tengah jalan.


"Sudah, kamu istirahat saja di sini. Aku temani ya?" bujuk Fadli.


Masyitah diam lalu membuang muka, dengan tatapan nanar dia membelakangi suaminya.


Fadli pun ikut diam, tak ingin membahas apa pun yang akan menambah beban pikiran istrinya. Meskipun dalam hati, masih belum menerima keputusan Masyitah.

__ADS_1


Haji Salim dan istrinya berpamitan pulang, karena hari sudah sore mereka kembali ke rumahnya.


"Kami pamit Pak Haji, Bu Haji. Insyaa Allah besok ke sini lagi," ucap Ridha sambil bangkit dari duduknya, diikuti Haji Salim yang juga berdiri di samping istrinya.


"Iya, terima kasih. Hati-hati di jalan," balas Murni sambil tersenyum ramah dalam mode kalem.


Kedua pasangan orang tua padu baya tersebut berjalan beriringan keluar, Haji Burhan mengantar besannya sampai ke mobil.


Perlahan mobil bergerak, mereka saling melambaikan tangan. Mobil pun menjauh Haji Burhan bersama istrinya masuk kembali ke dalam rumah, sungguh kehidupan yang penuh damai.


Malam harinya, Masyitah masih berbaring di ranjangnya. Murni datang memanggil menantunya untuk makan malam.


"Fad, ayo, makan dulu. Papa sudah menunggu di sana," ajak Murni


Fadli melirik Masyitah, kemudian berucap,"mama dan papa duluan saja, nanti aku makan di kamar bersama Ita."


Fadli menolak halus ajakan mertuanya, sebab dia tak ingin meninggalkan Masyitah dalam keadaan tertidur. Khawatir Masyitah terbangun dan membutuhkan sesuatu. Tapi, dia tak ada di kamar.


"Ya, sudah. Nanti mama bawakan makanan ke sini."


"Eh, tidak usah mah. Aku bisa sendiri, nanti mama temani Ita di sini kalau aku makan," tolak Fadli.


"Ya, sudah. Kita gantian kalau begitu," ujar Murni lalu berbalik dan keluar dari kamar Masyitah.


Sampai di ruang makan, Haji Burhan mengangkat wajahnya dan bertanya,"mana menantumu mah?"


"Kita disuruh duluan, nanti mama dan Fadli gantian pah," jawab Murni sambil menarik kursi di depannya kemudian duduk di sebelah suaminya.


Masyitah membuka pelan matanya, perutnya sudah terasa lapar sebab sejak siang tak ada makanan yang masuk.


"Fad, aku lapar."


Dengan sigap Fadli berdiri dari duduknya, kemudian membantu Masyitah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Mau makan apa?"


"Apa saja, asal yang berkuah," jawab Masyitah sekenanya.


Fadli menggaruk kepalanya, jawaban Masyitah ambigu dan sedikit menjebak. Salah sedikit bisa jadi bumerang untuk dirinya nanti.


"Makanan yang berkuah banyak sayaang, sebutkan saja apa yang kamu inginkan," ucap Fadli.


"Yang penting berkuah Fad, aah kamu ini susah diajak bicaraa!" Masyitah mulai kesal.

__ADS_1


Fadli semakin Frustasi dengan perkataan istrinya, Masyitah tak mau menyebutkan makanan apa yang dia inginkan dan itu cukup membingungkannya.


__ADS_2