
Part 54
Di sebuah rumah, sepasang suami istri sedang termenung. Masyitah bingung, apakah harus bahagia atau bersedih tentang kehamilannya. Sementara dia baru mulai mengikuti perkuliahan.
Keduanya duduk di ruang tamu mungil rumah mereka, Fadli melirik Masyitah di sampingnya yang hanya diam dan menatap lurus ke depan.
"Ita, pikirkan baik-baik keputusanmu," ucap Fadli dengan suara pelan.
Masyitah menoleh sekilas, kemudian tersenyum getir sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Kamu menyesal?" tanya Fadli
Masyitah hanya menggeleng. Namun, matanya berkaca-kaca dan Fadli sangat paham apa yang istrinya rasakan.
Sangat hati-hati Fadli kembali berkata,"kumohon Ita, tetap lanjutkan kuliahmu jangan berhenti di tengah jalan."
"Banyak kok, wanita yang sama sepertimu tetap kuliah walau dalam keadaan hamil," bujuk Fadli
"Kamu juga harus mengerti perasaanku Fad, kalau aku memaksakan diri lalu bagaimana dengan anak kita nanti?"
Banyak hal yang Masyitah khawatirkan yang tak bisa dia ungkapkan, salah satunya mengenai biaya ketika kuliah pasti akan membengkak ditambah lagi jika sudah memiliki anak.
Fadli menarik tubuh istrinya agar lebih merapat lagi, lelaki itu mengusap lembut kepala Masyitah agar lebih tenang.
"Ita, jangan terlalu banyak berpikir. Ingat kandunganmu yang masih muda, jangan juga membayangkan sesuatu yang belum terjadi nanti akan menambah beban dan rasa khawatir yang berlebihan."
"Kamu bisa mengambil cuti pada saat melahirkan nanti, jadi aku harap jangan cepat-cepat mengambil keputusan," sambung Fadli.
"Iya, nanti aku pikirkan lagi," sahut Masyitah, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Masyitah diam, sesaat kemudian dia mendongak dan berkata,"besok pagi aku ke rumah mama."
"Iya, nanti aku antar," balas Fadli.
Pembicaraan mereka belum mendapat titik temu, hanya saja Fadli tak mau memaksakan kehendaknya pada Masyitah. Dia ingin memberi ruang pada istrinya untuk berpikir lebih dalam lagi tentang keputusan yang akan dia ambil.
"Ayo, kita ke kamar," ajak Fadli.
Keduanya pun berjalan masuk, Fadli merangkul istrinya hingga ke dalam, kemudian naik ke atas ranjang dan merebahkan diri.
Karena terlalu lelah seharian bekerja, tak menunggu lama Fadli terlelap di samping istrinya. Lain halnya dengan Masyitah, sepanjang malam dia hanya gelisah berpikir keras menentukan pilihan mana tang akan dia putuskan.
Perlahan Masyitah turun dari ranjang, kemudian berjalan menuju dapur. Duduk merenung di meja makan sambil menikmati sepotong chocolate cake.
"Fad, kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan," gumamnya seorang diri.
__ADS_1
Perasaan yang berkecamuk sulit untuk diutarakan, terlebih rasa kecewanya terhadap diri sendiri. Baru saja dia meniti masa depan, tiba-tiba harus tersandung lagi karena telah mengandung buah cintanya dengan Fadli.
Tak ada yang harus disalahkan. Tapi, Masyitah hanya belum siap saja memasuki fase baru dalam kehidupannya yaitu akan menjadi seorang ibu.
Di dalam kamar, Fadli terjaga lalu meraba sisi di sebelahnya dan ternyata kosong. Dengan panik dia bangun dan mencari ke semua sudut kamar. Namun, tak menemukan istrinya.
"Itaa!" teriak Fadli
Belum ada jawaban, hanya detak jarum jam yang terdengar di keheningan malam. Fadli bergegas keluar kamar.
"Itaa, kamu dimana?! Teriaknya lagi.
"Aku disini," jawab Masyitah.
Fadli menghela napas lega, kemudian berjalan cepat menghampiri sumber suara dan ternyata Masyitah sedang berada di dapur.
"Sayaaang, apa yang kamu lakukan tengah malam begini?" tanya Fadli
"Aku haus, kulihat ada cake di dalam kulkas sekalianlah aku makan hehe," jawab Masyitah enteng disertai kekehannya.
"Hmm, lain kali jangan seperti ini yaa. Bikin panik saja," ucap Fadli sambil menggaruk tengkuknya
"Iya, maaf ya. Ayo, duduk sini!" ajak Masyitah menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Bukannya mendekat, Fadli malah menyuruh istrinya bergegas dan mengajaknya masuk kembali ke kamar.
"Iissh, kamu pikir aku betah di kamar dengan otak seperti benang kusut ini haa!" sungut Masyitah dalam hati
"Ayolah, sayaang aku mau lanjut tidur," paksa Fadli
Masyitah bangkit lalu menghentakkan kaki kesal, sambil menggerutu dia mengikuti langkah suaminya masuk ke kamar.
Tak mau berlama-lama, Fadli segera naik ke atas kasur dan kembali merebahkan tubuhnya. Masyitah masih berdiri di tempatnya, sampai Fadli mengangkat sedikit kepalanya.
"Kenapa masih di situ? Naiklah!" ujar Fadli
Wanita itu masih tak bergeming, melihat tingkah istrinya Fadli bangun lalu duduk dan menatap ke arah Masyitah.
"Sepertinya kamu ingin sesuatu, bilang saja jangan malu-malu!"
Fadli memainkan kedua alisnya menggoda Masyitah sembari tersenyum nakal, sontak Masyitah bergegas naik dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Dasaar, kamu pikir aku lagi inginkan itu?! Gerutu Masyitah di balik selimut.
"Hahhaa, kenapa hmm?" goda Fadli sambil tergelak.
__ADS_1
Otak Masyitah memang sangat cepat merespon kalimat suaminya, hingga dia segera menghindar dengan cara berpura-pura tidur.
Setelah drama kecil terlewati, pasangan suami istri itu pun akhirnya tertidur hingga pagi.
Fadli membangunkan istrinya, karena dia harus berangkat kerja. Belum lagi dia mengantar Masyitah lebih dulu ke rumah mertuanya.
"Ita, bangun kita sudah kesiangan!"
Masyitah menggeliat lalu membuka pelan matanya, cahaya matahari yang masuk melewati jendela meyilaukan matanya.
"Hmmm, jam berapa?" tanya Masyitah sambil meregangkan ototnya.
"Jam 07.00 pagi. Ayolah, nanti aku terlambat. Katanya mau diantar ke rumah mama?"
Masyitah bergegas turun dan langsung melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti piyamanya dengan pakaian yang rapi.
"Sudah siap? Kita berangkat sekarang," ucap Fadli bangkit dari duduknya
Masyitah mengikuti langkah suaminya, keduanya menaiki motor dan berboncengan menuju rumah orang tua Masyitah yang jaraknya tak jauh dari rumah mereka.
Mereka sudah sampai, Masyitah turun dari motor sedangkan Fadli masih di atas kendaraannya.
"Aku tidak bisa mampir, sudah terlambat. Salam sama mama dan papa yaa," ujar Fadli lalu memutar motornya dan berlalu pergi.
Masyitah menatap punggung suaminya sampai menghilang, kemudian dia berjalan masuk ke dalam rumah orang tuanya yang tampak sepi.
Wanita tersebut terus berjalan masuk. Tapi, kedua orang tuanya belum juga tampak.
"Kemana mereka? Kebiasaan pintu rumah dibuka lebar dan penghuninya entah kemana," omel Masyitah.
Saat memasuki dapur, sayup terdengar suara orang yang sedang berbincang. Masyitah sangat mengenali pemilik suara tersebut, dengan langkah pelan bahkan hampir mengendap-endap Masyitah menghampiri.
"Hoo, disini rupanya kalian!"
Hampir saja piring di tangan Murni terlepas karena terkejut, Haji Burhan pun tak kalah kagetnya sebab tak menyangka kehadiran Masyitah.
"Dasaarr kamu yaa, kebiasaan suka bikin orang tua kaget!" ucap Murni kesal.
"Mama dan papa itu yang kebiasaan, pintu depan dibuka lebar dan kalian malah duduk manis disini."
"Untungnya aku yang masuk, coba kalau maling? Bisa habis perabot rumah mama!" sambung Masyitah.
Haji Burhan dan istrinya saling tatap, kemudian Sang Ayah pun berkata,"apa iya, pintu depan terbuka?"
Murni hanya mengangkat bahunya dan berucap,"bukannya papa tadi yang duduk di teras? mama kan sejak tadi disini."
__ADS_1
Hal seperti inilah yang selalu Masyitah rindukan setiap pagi ketika berada di rumah orang tuanya, suasana konyol. Tapi, sangat menghibur.