KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Ayu Monalisa


__ADS_3

Part 6


"Ita, panggil suamimu sarapan," ucap Murni saat mereka bertiga di meja makan.


"Masih tidur," jawab Masyitah ketus


"Anak ini, sana bangunkan dan ajak ke sini." Murni mulai kesal, Masyitah memang susah diatur.


"Itaa, mama hitung sampai tiga!!"


"Eh, memangnya aku anak TK bisa diancam," gerutu Masyitah dalam hati.


"Iya, huufh." Masyitah beranjak dari kursi melangkah masuk ke kamarnya.


"Heran ya, anak itu?" Murni terus mengoceh di samping suaminya, Haji Burhan hanya diam tak mau berkomentar karena ini pemandangan setiap pagi yang dia lihat di rumahnya.


Di dalam kamar, Masyitah hanya berdiri mematung menatap suaminya tidur tak berniat membangunkannya.


"Enak ya, tidur di rumah orang bangun kesiangan. Dasar tidak tahu diri," Novia mengoceh namun dia tidak menyadari lelaki yang berbaring di depannya tersenyum tipis menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Awas kamu gadis nakal, hehe," Fadli terkekeh dalam hati dan tiba-tiba menarik kaki Masyita, refleks saja Masyitah berpegangan pada meja rias di sampingnya.


"Aaauuuh, dasarr gilaa!!!" teriaknya.


"Sssst, jangan teriak nanti orang-orang curiga." Fadli meletakkan telunjuk di bibirnya.


"Haahh, masaa bodoh!!" umpatnya, Masyitah memutar tubuh dan membanting kakinya di lantai lalu melangkah pergi meninggalkan Fadli di kamar.


"Hahaha, dasar bocah." Fadli tergelak melihat reaksi istrinya kemudian dia bangun lalu masuk ke kamar mandi.


Masyitah sudah ada di ruang makan, wajahnya tampak kesal dia menarik kursinya duduk dan memasukkan makanan ke piringnya.


Murni menatap heran, "mana suamimu?"


"Mama, aku lapar jangan membahas apapun," ujar Masyitah lalu mengunyah makanannya.


"Panggil menantumu mah." Haji Burhan membuka suara, Murni beranjak dari kursi kemudian berjalan ke kamar Masyitah.


Sampai di depan kamar, Murni mengetuk pintu.


Tok ... Tok ... Tok


"Fadli, ayo sarapan dulu," ucap Murni di balik pintu.


"Iya, mah." Fadli melangkah ke arah pintu dan membukanya. Tampak Ibu Mertuanya berdiri di situ menunggunya keluar.

__ADS_1


"Ayo, ikut mama." Murni berjalan menuju ruang makan menyusul Fadli di belakangnya.


Tiba di ruang makan, Fadli masih berdiri di tempatnya dia bingung duduk di mana.


"Duduk di situ Fad." Murni menunjuk kursi kosong di samping Masyitah.


Masyitah memutar bola matanya malas, tetap fokus dengan piring makannya.


"Ayo, duduk malah berdiri terus," desak Murni.


"E ... Eh iya, mah." Fadli maju lalu menarik kursi di samping istrinya kemudian duduk.


"Ita, ambil makanan untuk suamimu," ucap Murni.


"Sudah besar mah, bisa ambil sendiri. Iya, kan Fadli?" Masyitah menoleh pada suaminya dengan wajah mengejek.


Fadli hanya mengangguk sambil melirik ke arah Masyitah, baru saja tangannya terangkat namun dicegah Ibu Mertuanya.


"Sini piringmu, biar mama ambilkan." Murni mengambil piring dari tangan menantunya lalu mengisi dengan makanan dan menyerahkan kembali pada Fadli.


Sarapan pagi ini penuh dengan drama, selesai makan Masyitah bangkit dan meninggalkan suami dan orang tuanya di meja makan.


Murni menatap menantunya dan dibalas senyuman tipis dari Fadli, ada rasa iba yang terselip di hatinya melihat perlakuan Masyitah pada Fadli.


"Makan yang banyak Fad, nanti kamu sakit."


"Eh, kamu kan baru dua hari menikah," ucap Murni agak panik takut menantunya kabur.


"Maksudnya?" Fadli memicingkan mata bingung dengan perkataan mertuanya.


"Kamu mau kabur dan pulang ke rumah orang tuamu kan?" cecar Murni.


"Astaga, ternyata sifat konyol Masyitah menurun dari mamanya." Fadli menunduk sesaat menahan gelak tawanya.


"Aku tidak kabur mah, hanya mengambil sesuatu yang tertinggal di sana," jelas Fadli.


"Ouhw,"


Murni membulatkan bibirnya membentuk huruf O, begitu khawatirnya dia sampai terlihat bodoh di depan menantunya.


Selesai sarapan mereka meninggalkan ruang makan, Fadli kembali ke kamar. Ingin berpamitan pada istrinya tapi dia ragu sepertinya Masyitah juga tidak akan peduli.


Fadli mengambil dompet dari dalam tas pakaiannya, sementara itu Masyitah berpura-pura tidur dan membelakangi suaminya.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, Fadli melangkah keluar kamar meninggalkan istrinya. Mengurangi interaksi dan percakapan mungkin bisa menjaga kondisi hatinya pikir Fadli.

__ADS_1


Kata-kata yang terlontar dari bibir Masyita tekadang membuat telinga sakit, oleh karena itu, hari ini Fadli memilih pulang ke rumah orang tuanya menenangkan hati dan pikiran di sana.


Sepeninggal Fadli, Masyitah bangun dan melihat sekeliling kamar, "apa yang dia cari? Sepertinya tadi membuka tas."


Masyitah turun dari ranjang, membuka jendela kamar berdiri mematung di depan jendela.


"Berapa lama pernikahan ini akan bertahan? Aku tidak mencintainya Ya Allah, tapi aku juga tidak tega menyakitinya." Batin Masyitah mulai berperang, sebagai manusia tentu saja dia juga punya hati nurani.


Lama dia merenung, tapi tidak menemukan jawaban apakah harus melawan atau menyerah dengan taqdir. Baginya, Fadli juga adalah korban yang sama seperti dirinya.


Rasanya tidak adil, jika dia menyakiti dan melampiaskan kemarahan pada Fadli.


Masyitah naik ke atas ranjangnya, berbaring menatap langit-langit kamar. Putus asa, mungkin itu yang dia rasakan tak terasa bulir bening mengalir di pipinya kecewa dengan keadaan.


Masyitah larut dalam perasaannya, hingga akhirnya tertidur pulas.


Fadli sudah ada di rumah orang tuanya, rumah tampak sepi dia melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.


"Aku merindukan kamar ini." Fadli membuka pintu dan berjalan masuk mendekati ranjangnya.


Fadli menatap sekeliling kamar, matanya menangkap sebuah pigura di atas meja tampak gambar seorang gadis yang tersenyum manis.


Fadli melangkah pelan, mengambil pigura tersebut di atas meja lalu berbaring di atas ranjang sambil memeluk pigura.


"Kamu di mana dan sedang apa sekarang? Maafkan aku yang sudah menyakitimu, mungkin aku terlalu lemah hingga tidak sanggup menentang keinginan orang tuaku dan mengorbankan hubungan kita."


Kata sesal meluncur begitu saja dari bibir Fadli, kenangan selama 5 tahun hubungan mereka tidak bisa dilupakan begitu saja.


Fadli begitu mencintai Ayu, gadis yang dipacarinya sejak di bangku kuliah namun perasaan itu harus terkubur demi keinginan orang tua, sungguh egois dan kejam.


Saat Fadli tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba Ridha masuk dan merebut pigura dalam pelukan Fadli.


Sontak Fadli terkejut, hampir saja dia mendorong ibunya namun kesadarannya kembali dan mengusap wajahnya kasar.


"Kembalikan pigura itu mah," pinta Fadli.


"Tidak, mama akan membuangnya perempuan ini hanyalah masa lalu jadi tidak perlu menyimpan fotonya," Balas Ridha sinis.


"Kumohon mah, jangan membuang fotonya hanya itu satu-satunya yang tersimpan," ucap Fadli sembari memegang tangan ibunya.


"Ingat!! Kamu sudah menikah dan punya istri, jangan coba-coba bermain api. Istrimu jauh lebih cantik dari dia." Ridha berbalik dan akan meninggalkan Fadli, namun dengan sigap Fadli menarik tangan ibunya.


"Mamah, kumohon kembalikan atau mama akan menyesal nanti," ancam Fadli dan usahanya berhasil, Ridha menyerahkan pigura itu pada anaknya.


"Percayalah, aku tidak akan bermain api kecuali Masyitah yang meminta ingat itu!!" Fadli menekan setiap kata yang terlontar memberi penegasan pada ibunya.

__ADS_1


"Aku sudah menuruti keinginan kalian, Ayu tidak bersalah apa-apa pada keluarga ini dia gadis yang baik mah, justru aku yang telah menyakiti dia dengan memberikan harapan palsu dan membuat waktunya terbuang sia-sia." Suara Fadli bergetar.


"Baiklah, mama hargai pengorbananmu tapi mama minta jangan sakiti Masyitah." Ridha menyudahi perdebatan dan meninggalkan kamar Fadli.


__ADS_2