
Part 43
Plaakkk ....
Satu tamparan keras mendarat di wajah Yudha, pemuda itu tak bisa menghindar dan hanya bisa mengusap bekas tangan di pipinya.
"Kalau sudah seperti ini kamu mau bilang apa haah?!" bentak Bagas
Yudha tertunduk lesu, dia pasrah. Apapun yang akan Bagas lakukan padanya, sebab dia pun menyadari jika kesalahan yang diperbuatnya telah berakibat fatal.
Karena tidak mendapat jawaban, Bagas memutar tubuhnya lalu keluar dan membanting pintu dengan keras.
Emosi Bagas memuncak, hal yang selama ini dia khawatirkan akhirnya terjadi dan tentu saja membuatnya sangat kecewa.
Lelaki itu mengambil kunci mobil kemudian berjalan ke garasi dan masuk ke dalam mobilnya, sesaat dia diam dan menenangkan diri lalu mengusap kasar wajahnya.
"Maafkan kakak. Tapi, kalau dibiarkan kamu akan semakin melunjak," gumamnya sambil menyalakan mesin mobil.
Bagas menginjak pedal gas, mobil pun perlahan bergerak keluar dari halaman dan berlalu membelah jalanan.
Tujuan utama perjalanan Bagas adalah ke tempat penjualan tiket, keputusannya sudah bulat. Dia akan mengirim Yudha ke tempat pamannya untuk sementara waktu sebagai hukuman karena telah melanggar janji dan berharap Yudha bisa jera dengan kelakuannya.
Bagas rela merogoh kantong mengeluarkan dana yang cukup besar, asalkan Yudha bisa berubah dan bisa belajar bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
Setelah menentukan tanggal keberangkatan, tiket pun sudah di tangan Bagas lalu dia segera pulang untuk menyiapkan dokumen penting milik Yudha.
Sementara itu, di dalam kamarnya Yudha masih menahan sakit bekas tamparan di wajahnya.
"Siaal!, mimpi apa aku semalam dapat bogem gratis dari kak Bagas," umpatnya sambil meringis
Berulang kali Yudha menatap lembaran kertas di tangannya, menyesal pun tiada guna semua sudah terjadi pikirnya.
Suara mesin mobil masuk, Yudha segera menyimpan lembaran Ijazah ke dalam laci nakas kemudian dia langsung berbaring dan berpura-pura tertidur.
Pintu kamar Yudha disentak kuat, Bagas melangkah masuk menghampiri ranjang Yudha kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh adiknya.
"Banguun!, kakak tahu kamu berpura-pura tidur," bentak Bagas
"Ada apa kak?" tanya Yudha dengan posisi yang masih berbaring.
"Makanya bangun, kakak mau bicara."
Yudha bangun dan tetap duduk di ranjangnya, sedangkan Bagas berdiri menghadap ke arah Yudha.
Bagas mengambil sesuatu dari saku jaketnya, kemudian menunjukkan pada Yudha sambil berkata,"dua hari lagi, kamu berangkat ke rumah paman. Ini tiketnya sudah siap!"
__ADS_1
Bagai disambar petir, mata Yudha melotot kaget lalu menyambar tiket di tangan kakaknya.
"Kak ...."
Yudha tak sanggup melanjutkan ucapannya, tatapan matanya tertuju pada kertas di tangannya.
"Kakak sudah kehabisan cara, mungkin dengan begini kamu bisa menyadari kesalahanmu dan merubah sikap serta perilakumu," ujar Bagas dingin.
"Aaiish. Tapi, bukan begini caranya kak." Yudha protes bahkan berusaha menolak.
"Yud, kakak sudah memikirkan matang-matang. Kamu tidak bisa menolak dan harus berangkat sesuai jadwal yang tertulis di tiket itu."
"Kumohon kak, jangan mengirimku ke rumah paman. Biarkan aku di sini bersama kakak," ucap Yudha dengan suara bergetar
Bagas tak menanggapi, lelaki itu malah memutar tubuhnya meninggalkan kamar Yudha. Berlama-lama di depan adiknya bisa membuatnya berubah pikiran sehingga dia bergegas pergi.
Yudha turun dari ranjang, pemuda itu setengah berlari mengejar langkah Bagas dan menarik tubuh kakaknya agar berhenti.
"Ada apa lagi Yud?"
"kak, tolong batalkan rencana kakak," ucap Yudha memohon sambil memeluk kaki Bagas.
"Yudha, ini bukan pertama kalinya kamu membuat kesalahan. Selalu saja kakak memberi kesempatan tapi, kamu malah menyia-nyiakan."
"Sudah Yud, keputusan kakak tidak akan berubah. Siapkan saja dirimu, kakak yang akan mengantarmu kesana," balas Bagas kemudian berlalu pergi.
Yudha tertegun, untuk beberapa saat otaknya terasa belum bisa berpikir dengan baik. Namun, sedetik kemudian bayangan Sofia muncul membuatnya tersadar dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Pemuda itu mengambil ponsel dan menghubungi Sofia, hingga panggilan ketiga barulah terdengar suara dari seberang.
"Halo, ada apa sayang?" tanya Sofia pelan.
"Sof, aku ingin bertemu. Sekarang!"
Sofia menautkan kedua alisnya heran lalu berkata,"kenapa denganmu?"
"Jangan banyak bertanya, dimana posisimu? Aku kesana sekarang!"
"Aku di kampus," jawab Sofia singkat masih penuh tanda tanya.
"Baik, tunggu aku disana." Yudha menutup telpon dan segera meraih kunci motornya.
Dengan langkah cepat, Yudha keluar dari kamarnya dan berjalan menuju garasi laku menaiki motornya.
Tanpa peduli apa pun Yudha memacu motornya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera bertemu Sofia dan mengatakan apa yang sedang dialaminya barusan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Yudha sudah ada di kampus Sofia. Keduanya bertemu di taman dekat kampus tempat biasa mereka bertemu.
"Ada apa sayaang, mukamu kusut begitu, hmm?" tanya Sofia.
Bukannya menjawab, Yudha malah menarik tubuh kekasihnya dan lengsung memeluknya erat.
Sofia berontak, gadis tersebut berusaha melepas pelukan Yudha. Tapi, dekapan Yudha begitu kuat membuatnya sulit bernapas.
"Lepas Yud, aku sesak napas!" ucap Sofia
Yudha mengurai pelukannya, tatapannya sayu ke wajah Sofia.
"Tenang Yud, bilang padaku ada apa?" ucap Sofia dengan suara pelan agar Yudha bisa lebih rileks.
"Sof, nilai ujianku anjlok. Kak Bagas marah besar dan akan mengirimku ke rumah paman di luar kota," ucapnya lesu.
Sofia menggeleng tak percaya, matanya membola dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Sof, kita kabur saja. Kumohon ikutlah denganku," ucap Yudha
"Itu bukan solusi sayang, akan banyak yang tersakiti," tolak Sofia dengan suara bergetar.
"Ikutlah denganku Sofiaa," bujuk Yudha.
Sofia menggeleng lagi,"Tidak, aku tidak bisa menyakiti orang tuaku."
Tangis Sofia akhirnya pecah juga, gadis itu seperti kehilangan harapan. Apalagi Yudha memaksanya kabur ke suatu tempat yang dia sendiri belum tahu bagaimana keadaan disana.
Sofia sesegukan dan menundukkan wajahnya sambil berkata,"pergilah, aku akan menunggumu disini kapan pun kamu pulang."
Yudha masih bersih kukuh pada ucapannya, dia tak mau menyerah dan terus memaksa Sofia ikut dengannya.
"Aku tidak mau berpisah denganmu!" ucap Yudha tegas.
"Sayaang, kamu harus mengerti kak Bagas. Dia ingin kamu menjadi laki-laki tangguh dan kuat."
"Selama ini, kak Bagas sudah banyak berkorban untukmu. Sekarang waktunya kamu berbakti padanya," bujuk Sofia di sela isak tangisnya.
Lama keduanya terdiam, Yudha mencerna semua ucapan Sofia. Meski pun berat. Tapi, apa yang Sofia katakan memang benar adanya.
Yudha pasrah, bahkan terlihat sangat putus asa. Niat awalnya ingin membawa kabur Sofia. Tapi, malah ditolak mentah-mentah dan dia harus berbesar hati menerima keputusan Sofia.
"Baiklah, aku turuti keinginanmu. Tapi, berjanjilah akan tetap menungguku," ucap Yudha sambil menggenggam tangan Sofia.
"Jaga dirimu baik-baik," bisiknya lirih di telinga Sofia.
__ADS_1