
Part 59
Drama ngidam yang membingungkan akhirnya terlewati, susah payah Fadli mencari makanan yang diinginkan istrinya. Namun, begitu sampai di rumah Masyitah malah meminta mie instan.
"Huufh, kalau tahu dari tadi maunya cuma mie kenapa juga harus bikin teka-teki yang melelahkan," sungut Fadli.
"Fad, perutku rasanya begah," keluh Masyitah.
Fadli menoleh dan bertanya,"maksudnya?"
"Tadi kamu bilang lapar, sekarang malah begah aku jadi heran," ucap Fadli menatap istrinya.
"Entahlah, aku juga bingung. Setiap kali ada makanan yang masuk pasti akan merasa seperti ini," balas Masyitah.
"Coba kamu tanyakan pada mama, mungkin mama bisa menjelaskan," saran Fadli yang diangguki Masyitah.
Masyitah meminta Fadli memanggil ibunya, ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya. Sebagai pasangan muda, mereka masih sangat buta dan awam tentang kehamilan.
Fadli keluar memanggil mertuanya, ayah dan ibu Masyitah sedang berada di ruang keluarga seperti biasa, suami istri itu selalu menghabiskan waktu menyaksikan tayangan televisi favorit mereka.
"Eh, Fadli. Ada apa?" tanya Murni saat Fadli berdiri di samping kursi.
"Anu, Masyitah ingin bicara mah."
"Kenapa lagi dengan istrimu Fad?"
"Katanya perutnya begah setelah habis makan," jawab Fadli polos.
"Sana temui anakmu mah," ujar Haji Burhan saat mendengar percakapan istri dan menantunya.
__ADS_1
"Ya, sudah. Kamu duluan Fad, nanti mama menyusul."
Fadli mengangguk dan memutar tubuhnya, kemudian berjalan kembali ke kamar. Sedangkan Murni dan suaminya saling pandang lalu tersenyum geli.
"Pah, mereka masih lugu yaa hehe," ujar Murni
"Namanya juga masih rumah tangga baru, pasti bingung kalau ada apa-apa," balas Haji Burhan.
"Sudah mah, anakmu menunggu sana temui dulu," sambungnya lagi.
Murni pun bangkit dan melangkah menuju kamar anaknya, Masyitah sudah menunggu ibunya dengan rasa penasaran.
"Kenapa lagi Ita?" tanya Murni sambil berjalan mendekat.
"Mah, kenapa dengan perutku ini? setiap kali makanan masuk pasti rasanya begah dan aku jadi ingin muntah."
Masyitah menjelasakan apa yang dialaminya pada ibunya, Murni mendengarkan sambil tersenyum tipis menunggu anaknya selesai berbicara.
"Benarkah? dulu mama juga seperti ini?"
"Bahkan mama jauh lebih parah dari kamu, sepanjang hari hanya terbaring lemah di balik selimut."
Masyitah menatap ibunya dengan pandangan sayu, kemudian wanita muda itu bergidik ngeri membayangkan situasi yang terjadi pada ibunya.
"Maafkan Ita mah." kalimat yang lolos begitu saja dari bibir Masyitah.
Mendengar penuturan ibunya, hati Masyitah seakan tergores. Rasa bersalah muncul dalam benaknya ketika menyadari dan mengingat dia sering kali mendebat ibunya.
Masyitah termenung, ternyata perjuangan seorang ibu sangatlah besar, pantaslah jika surga terletak di bawah kakinya.
__ADS_1
"Kenapa lagi sih Ita?" tanya Murni membuyarkan lamunan Masyitah.
"Eh, tidak apa-apa mah, Ita hanya membayangkan betapa tersiksanya mama dulu waktu mengandungku."
"Itu sudah menjadi fitrahnya kita sebagai wanita, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Sungguh istimewanya wanita."
Murni berbicara sambil menatap langit-langit kamar Masyitah, seolah dia kembali terbang ke masa lalunya ketika mengandung anak satu-satunya buah cintanya dengan Haji Burhan, yang kini sudah menjadi istri orang.
"Sudah, jangan terlalu banyak pikiran. Obatnya juga harus tetap diminum ya," ucap Murni sambil mengusap punggung anaknya.
"Iya, mah," sahut Masyitah haru.
"Seiring waktu, masa ngidam itu nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Istirahatlah, mama mau ke kamar dulu papa sudah menunggu."
Murni meninggalkan kamar Masyitah lalu menemui suaminya, saat sudah ada di dalam kamar Murni menceritakan pada Haji Burhan keluhan Masyitah.
"Kenapa dengan anakmu?" tanya Haji Burhan
"Dia mengeluh, perutnya begah kalau habis makan. Biasalah, wanita hamil pasti mengalami masa-masa seperti itu," jawab Murni.
"Kamu juga mengalami itu mah?" ucap Haji Burhan menggoda istrinya.
"Heh, jangan pura-pura lupa ingatan pah!"
"Aku dulu malah lebih parah dari anakmu itu, hanya saja, bedanya aku jauh lebih kuaat." Murni mengangkat wajah membanggakan dirinya.
"Hahahha, iya, saking kuatnya sampai harus ditemani sepanjang hari," ledek Haji Burhan
Murni cemberut, kemudian membelakangi suaminya. Sementara itu Haji Burhan tertawa cekikikan di belakangnya.
__ADS_1
"Awas saja besok, jangan harap aku masak untukmu biar kelaparan sekalian," gumam Murni.