
Part 50
"Siapa di luar!"
Istri Pak Herman berteriak dari arah belakang rumah, dia sama sekali belum mengetahui rancana Yudha yang akan kabur saat itu.
Yudha diam tak bersuara sambil membekap mulutnya, beberapa detik kemudian hening kembali. Sepertinya istri Pak Herman hanya memastikan suara yang didengarnya.
Yudha melanjutkan langkahnya menuju pintu, kemudian bergegas dengan setengah berlari ke arah gerbang lalu berjalan cepat menuju rumah tetangga Pak Herman.
Dengan napas memburu, Yudha memasuki halaman rumah tetangga untuk bersembunyi. Begitu yakin semuanya aman, dia memberanikan diri mengetuk pintu.
"Ya, sebentar!"
Terdengar suara teriakan dari dalam saat Yudha mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu di buka. Muncul seorang wanita berusia sekitar 40 tahun berdiri di ambang pintu.
Wanita itu langsung menyapa,"eh, Yudha. Ada yang bisa dibantu?"
Yudha tertunduk lesu sambil berucap,"bisakah saya menumpang tidur disini untuk sementara? Menunggu kakak ku datang menjemput."
Wanita tersebut tidak menjawab pertanyaan Yudha, sebaliknya dia mengajak pemuda itu masuk terlebih dahulu. Karena dia meyakini pemuda di depannya sedang dalam masalah.
"Ayo, masuklah dulu," ajak Si tetangga
"Iya, terima kasih bu," sahut Yudha pelan.
"Tunggu disini sebentar ya," ucap wanita tersebut, dia masuk kembali untuk memanggil suaminya.
Tak lama kemudian, muncul sepasang suami istri menghampiri Yudha yang duduk di ruang tamu. Mereka pun duduk di kursi panjang menghadap ke arah Yudha sambil tersenyum.
"Yudha kan, ponakan Pak Herman?" Si suami memulai perbincangan.
"Ii - iiya pak," sahut Yudha gugup
"Ada masalah apa, sehingga kamu kabur dari rumah? Paman dan bibimu pasti akan mencari," ujar lelaki setengah baya itu
Yudha termenung, rasanya tidak mungkin dia menceritakan semua keburukan dan aib istri pamannya. Tapi, dia juga tak mau dianggap ponakan yang tidak tahu diri.
Karena tak ada jawaban dari Yudha, lelaki setengah baya itu pun melanjutkan ucapannya.
"Bukannya kami tidak mau memberimu tempat. Tapi, kami juga harus tahu masalahnya apa? Karena saya pribadi tidak mau hubungan baik dengan pamanmu menjadi rusak."
"Bisa-bisa kami diaanggap menghasut," sambungnya lagi.
__ADS_1
Setelah lama merenung, akhirnya Yudha memutuskan untuk menceritakan kronologi yang menjadi penyebab dia kabur dari rumah pamannya.
"Bisakah bapak dan ibu menjaga rahasia ini?" tanya Yudha pelan.
Pasangan suami istri tersebut mengangguk bersamaan, mereka penasaran dan ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sepanjang pengetahuan mereka, tidak ada keributan di rumah Pak Herman lalu tiba-tiba ponakannya kabur.
Yudha mulai menceritakan awal kedatangannya secara detail, sampai pada penyebab dia mengambil keputusan meninggalkan rumah paman dan bibinya.
Wajah Yudha tampak begitu putus asa, memang sangat dilema. Satu sisi dia harus menjaga rahasia keluarganya. Namun, sisi yang lain dia juga harus menceritakan sisi gelap istri dari pamannya tersebut.
"Saya sudah berusaha bersabar pak. Tapi, hati kecilku berontak dan tidak bisa menerima perlakuan bibi," ucap Yudha dengan nada sedih.
Pasangan suami istri itu saling pandang, dalam hal ini mereka benar-benar harus bersikap bijak agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu di dalam, besok kita bicarakan lagi," ucap wanita pemilik rumah.
Yudha beristirahat di kamar anak lelaki dari pasangan suami istri itu, usianya hanya selisih setahun dari Yudha. Kebetulan mereka juga juga sudah saling mengenal dan sering mengobrol jika bertemu di masjid.
"Ayo, Yud, kita ke kamar," ajaknya.
"Iya," sahut Yudha
Kedua pemuda itu pun masuk ke dalam kamar, Yudha tak banyak berbicara dan memilih merebahkan tubuhnya.
"Yud, tunggu disini sebentar ya," ucap Firman, nama pemuda tersebut.
Lima menit kemudian, Firman muncul membawa sepiring nasi dan lauk ke dalam kamar.
"Makanlah dulu, pasti seharian kamu belum makan Yud," ucapnya sembari menyodorkan piring kepada Yudha
Yudha bangun, ditatapnya wajah Firman dengan pandangan sendu. Ternyata orang lain jauh lebih peduli padanya pikir Yudha.
Awalnya Yudha menolak keras. Namun, Firman memaksa dengan sedikit mengancam akan mengadukan dan memberi tahu paman dan bibinya kalau Yudha sekarang sedang berada di rumahnya.
Yudha akhirnya luluh, kemudian mengambil piring di tangan Firman dan berucap,"terima kasih Man."
Selesai Yudha makan, Firman membawa kembali piring dan gelas kotor bekas makan Yudha. Kemudian menyuruh Yudha untuk beristirahat.
"Istirahatlah Yud, hari ini kamu pasti sangat lelah," ujar Firman.
"Iya," sahut Yudha pelan
"Kenapa nasibku jadi begini? miris sekali hidupku," batin Yudha
__ADS_1
Lama pemuda tersebut termenung, terlintas di pikirannya untuk kembali ke kota asalnya. Tapi, dia bingung karena tidak memiliki biaya bahkan uang tabungannya pun juga sudah habis.
Seminggu sudah Yudha bersembunyi di rumah tetangga pamannya, tak ada yang mencari atau menanyakan keberadaannya, mungkin ini yang diinginkan bibinya.
Pagi-pagi sekali, Yudha menemui ayah Firman. Memberanikan diri bicara dan meminta bantuan meminjaminya uang untuk membeli tiket pulang.
Yudha menghampiri ayah Firman di sofa sambil berdiri dan tertunduk, pemuda tersebut mengumpulkan kekuatan untuk memulai pembicaraan.
"Yudha," sapa ayah Firman.
"Saya ingin bicara sebentar pak," balas Yudha gugup
"Boleh, silahkan duduk dulu," jawab ayah Firman tenang.
Yudha duduk mengambil posisi berhadapan, dengan perasaan gelisah takut kalau permintaannya tidak berhasil.
"Ada apa Yud? bicaralah,"
"Emm, anu pak, saya ingin meminta bantuan," ucap Yudha. Namun, dia belum melanjutkan perkataannya.
"Bantuan apa? Selagi bisa, bapak akan membantumu."
"Bisakah bapak meminjamiku uang, aku akan membeli tiket pulang. Nanti kalau sudah sampai disana aku akan mengembalikan uang bapak dan mengirimkannya," ujar Yudha penuh harap.
Ayah Firman terdiam, sepertinya sedang berpikir. Melihat keadaan Yudha sebenarnya dia juga merasa iba. Tapi, tentu saja dia harus minta ijin dulu pada istrinya apalagi mengenai perkara uang seperti permintaan Yudha.
Yudha harap-harap cemas menunggu jawaban, jika permintaannya ditolak maka, pupus sudah harapannya untuk segera pulang.
"Begini Yud, bapak bilang dulu pada ibunya Firman. Sabar ya." ayah Firman membuka suara.
"Kamu tunggu disini sebentar," ucapnya lagi.
Ayah Firman melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan Yudha sendirian di ruang tamu. Yudha terus malafalkan doa dalam hati, semoga orang tua Firman mau menolongnya.
Tak lama kemudian, ayah dan ibu Firman keluar berjalan beriringan dari kamar dan menghampiri Yudha. Keduanya duduk bersebelahan tepat di depan Yudha membuat Yudha semakin gugup dan bertambah kalut.
"Yud, kamu mau pulang?" tanya Ibunya Firman memecah keheningan.
Yudha mengangkat wajah, kemudian mengangguk sembari tersenyum. Namun, gurat kesedihan terpancar di wajahnya.
"Ayah Firman sudah bilang pada ibu, katanya kamu mau meminjam uang untuk membeli tiket."
"Kami sudah bicara di dalam, sebentar sore ajak Firman ke pelabuhan untuk melihat dan mengecek berapa harga tiketnya," sambung Si Ibu lagi.
__ADS_1
Ingin rasanya Yudha melonjak girang, ucapan orang tua Firman bagaikan lelehan es yang sangat menyejukkan hatinya.
"Terima kasih Ya Allah, aku dipertemukan dengan orang baik," gumam Yudha dalam hati berucap syukur.