KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Sesal Tiada Guna


__ADS_3

Part 29


Sebelum meninggalkan kamar resort, Sofia berdiri di pintu lalu sekilas melirik kembali kearah ranjang. Hati gadis itu teriris ngilu membayangkan kembali adegan panas mereka.


Sebagai pemuda yang baru beranjak dewasa, Yudha sama sekali belum peka terhadap apa yang dirasakan pasangannya. Di benaknya hanyalah kesenangan dan kepuasan dirinya semata


"Ayo, sayang kita pulang sudah sore," ajak Yudha lalu merangkul Sofia berjalan meninggalkan kamar.


Sofia hanya bisa pasrah dan tak bisa berucap apapun, rasa sesal menyeruak dalam dirinya tapi, apa daya semua sudah terjadi.


Setelah menyerahkan kunci ke resepsionis, keduannya berjalan keluar resort menuju parkiran.


Sofia berjalan lambat karena masih merasakan nyeri pada pangkal pahanya, akibat pergumulan mereka tadi.


"Sayaang, aku antar pulang sekarang," ujar Yudha karena melihat kondisi Sofia yang meringis menahan sakit.


"Iya, aku ingin cepat sampai di rumah," balas Sofia.


Keduanya sudah dalam perjalanan pulang, motor Yudha melaju membelah aspal. Sofia memeluk erat tubuh kekasihnya dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yudha.


Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya pasangan kekasih itu tiba di depan rumah Sofia. Gadis itu bergegas turun tanpa menoleh dia berlari masuk ke halaman.


Sedangkan Yudha memutar motornya lalu melaju di jalanan, pemuda itu mencari SPBU terdekat untuk memgganti baju dan memakai kembali seragam sekolah yang dia simpan di dalam tas.


Sampai di rumah, Yudha sudah di sambut omelan kakaknya karena membawa kabur motor milik kakaknya itu.


"Dari mana saja kamu Yud?"


"Dari sekolah," jawab Yudha santai.


"Jangan bohong! Kakak tadi siang dari sekolahmu, Haris bilang kamu tidak masuk hari ini."


"Siaall, apa-apaan Haris? Pake acara ngadu segala," umpat Yudha dalam hati.


Baru saja kakaknya mau melanjutkan kalimatnya, Yudha melengos pergi dan masuk ke dalam kamarnya.


"Heii, mau kemana kamu kakak belum selesai bicara!" teriak Sang kakak.


Kakak lelaki Yudha yang bernama Bagas adalah seorang dokter, dia bertugas di salah satu rumah sakit swasta di kota tersebut.


Kakak beradik itu kini hidup berdua, setelah menjadi yatim piatu keduanya tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka.

__ADS_1


Bagas meremas rambutnya, sikap Yudha sekarang sudah sangat sulit dia kendalikan bahkan sering kali berbuat semaunya.


"Maafkan Bagas mah, pah, tidak becus menjaga adik dengan baik. Tapi, Bagas juga harus berjuang untuk kelangsungan hidup kami," gumam Bagas dalam hati.


Lelaki itu berjalan lemas memasuki kamarnya, duduk termenung di ranjang menyesali kelalaiannya yang tak bisa mendidik Yudha.


Di dalam kamarnya, Yudha merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menerawang.


"Sofia sedang apa ya sekarang?"


Pemuda itu bahkan tidak memikirkan tentang Bagas yang marah dan kesal padanya, dia justru membayangkan adegan manisnya bersama Sofia di kamar resort.


Tak lama kemudian pemuda itu pun tertidur, hingga melewatkan makan malamnya


Keesokkan paginya, Yudha keluar dari kamar dan sudah berpakaian rapi namun, ketika melewati Bagas di ruang tamu Bagas langsung menodongnya dengan pertanyaan.


"Kamu belum menjawab pertanyaan kakak kemarin, kemana kamu seharian?"


Yudha menghentikkan langkah kakinya, kemudian berbalik menghadap ke arah kakaknya sambil tersenyum


"Main sama teman," jawabnya.


"Yud, dengar baik-baik. Mama dan papa sudah meninggal maka kamulah satu-satunya keluarga terdekat kakak."


Yudha mengangkat wajahnya, pemuda itu merasa kakaknya menyudutkan dirinya dan seolah meremehkan.


"Aku tahu kak, jangan khawatir aku pasti akan menjaga nama baik kalian. Aku pergi dulu," balas Yudha sambil memutar tubuhnya meninggalkan Bagas seorang diri di ruang tamu


"Ya Allah, anak itu!" gerutu Bagas


Yudha sudah tiba di sekolah, sengaja dia mencari dimana keberadaan sahabatnya Haris. Sudah pasti dia akan meminta penjelasan pada temannya itu.


"Ris, aku mau ngomong. Kita ke belakang!" ucap Yudha dengan nada dingin.


Haris sudah paham maksud Yudha, tentu saja sahabatnya itu akan meminta penjelasan tentang kedatang Bagas ke sekolah.


"Woles Bro, kita bicara di belakang kelas," ajak Haris cengengesan


"Ris, kemarin Kak Bagas kesini? Kamu bilang apa padanya?"


"Dia cuma bertanya, aku bingung mau jawab apa Yud habisnya kamu juga tidak bilang apa-apa sebelumnya padaku," ujar Haris

__ADS_1


"Tapi kamu kan bisa berbohong, misalnya kamu bilang aku lagi ke toilet atau kemana. Bukannya malah memberi laporan kalau aku tidak masuk sekolah," ucap Yudha geram


Haris terdiam, dia kebingungan menghadapi Yudha yang menyalahkan dirinya. Padahal dia sendiri juga tidak tahu apa-apa dan kemana perginya Yudha.


"Yud, kok kamu malah menyerang dan menyalahkan aku? harusnya kamu introspeksi diri kenapa kakakmu sampai datang ke sekolah dan marah padamu," ujar Haris sinis


Yudha seperti tertampar dengan ucapan Haris, pemuda itu terdiam mematung tak bisa berkata-kata. Seharusnya memang dia tidak menyalahkan sahabatnya itu.


Sedetik kemudian, Yudha berbalik lalu pergi meninggalkan Haris dan berjalan menuju kelasnya.


"Dasar sialan, dia yang melakukan kesalahan malah melempar kesalahan padaku," gerutu Haris


Sorenya, Yudha pulang ke rumah hari ini dia tidak menemui Sofia kekasihnya dan lebih memilih pulang.


Tiba di rumah, Bagas sudah menunggunya di ruang tamu dan menahan Yudha agar tidak masuk ke dalam kamar.


"Yud, duduk dulu kakak mau bicara padamu penting!"


"Hmm, bicara apa kak?" tanya Yudha


"Dengan berat hati, kakak akan mengurangi jatah uang jajanmu. Sepertinya sekarang kamu sulit terkontrol dan berbuat sesuka hati."


Yudha tercengang, ingin melakukan protes tapi, percuma saja karena Bagas tidak akan merubah keputusannya itu.


"Kamu itu adik ku satu-satunya dan aku bertanggung jawab penuh atas dirimu," lanjut Bagas.


"Iya, terserah kakak saja," balas Yudha pasrah.


"Ya, sudah sana masuk kamar dan ganti bajumu."


Yudha berjalan gontai menuju kamarnya, sambil menggerutu dalam hati.


"Huufh, nasib cuma numpang hidup dari kakak ya begini!"


Sementara itu di rumah Sofia, gadis itu mengurung dirinya di kamar dan tidak masuk kuliah. Perasaannya kalut sebab berulang kali dia menghubungi Yudha tapi, tidak tersambung.


Rasa khawatir mulai muncul, pikiran-pikiran negatif silih berganti memenuhi otaknya bahkan dia curiga jika Yudha telah menghindar dan akan meninggalkan dirinya.


"Ya Allah, bagaimana nasibku mana ada lelaki mau menerima diriku yang sudah tidak suci lagi. Yudha pasti akan menghilang,"


Sofia merutuki kebodohannya, penyesalan yang begitu besar hinggap dalam dirinya andai saja dia bisa menjaga diri mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang merugikan dirinya.

__ADS_1


Sekali lagi Sofia mencoba memencet tombol telponnya untuk memanggil. Tapi, lagi-lagi tak ada jawaban dari seberang bahkan nomor Yudha tidak aktif.


Gadis itu semakin gelisah, melempar bantal ke sembarang arah. Siapa yang harus disalahkan? Semua terjadi akibat kecerobohannya sendiri.


__ADS_2