KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Pesan Perpisahan


__ADS_3

Part 44


Usai berpamitan, Yudha berjalan menuju parkiran kampus tanpa menoleh lagi ke belakang. Hati dan pikirannya sedang kacau, ditambah lagi Sofia menolak ikut dengannya.


Yudha memacu motornya kembali ke rumah, sia-sia sudah perjuangannya mendapatkan Sofia. Pada akhirnya dia harus pergi meninggalkan kekasihnya tersebut.


Tiba di rumah, Yudha masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Protes pun rasanya tak ada gunanya lagi karena Bagas tidak akan merubah keputusannya.


Bagas muncul di pintu kamar Yudha, dia berdiri mengamati sosok adiknya yang tampak putus asa. Namun, sebisanya menahan diri dan tetap bersikap tenang meskipun sebenarnya dalam hatinya juga sedih.


"Kemasi barang-barangmu, besok pagi kita berangkat." Bagas membuka suara.


Yudha hanya menoleh sekilas tanpa mengucapkan apa pun, pupus sudah segala harapannya dan tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah.


"Kak, bisakah memberi waktu padaku untuk beberapa hari saja?" ujar Yudha lemah.


Bagas berjalan mendekati adiknya, kemudian duduk disebelah Yudha.


"Tiketnya sudah siap Yud, tidak mungkin kakak membatalkannya."


"Harusnya, kakak juga memikirkan keadaan keluarga paman Herman disana," ucap Yudha lagi.


"Paman sudah tua kak, hidup mereka disana juga pas-pasan. Aku tidak mau menjadi beban mereka nanti," sambungnya lagi.


Bagas menghela napas lalu berkata,"itulah alasan kakak membawamu kesana, biar kamu tahu bagaimana sulitnya hidup di rantau apalagi harus menumpang dengan saudara."


Perasaan Yudha semakin kalut, dia membayangkan bagaimana nanti keadaannya jika jauh dari Bagas.


"Kamu istirahat saja, kakak mau berkemas karena pagi-pagi sekali kita sudah harus ada di pelabuhan."


Bagas mengusap lembut kepala adiknya, seandainya saja Yudha bisa memenuhi janjinya mungkin Bagas tidak akan membawa adiknya jauh darinya. Bagaimana pun rasa sayang Bagas sangat besar pada adik lelakinya tersebut.


Sebelum shalat subuh, kakak beradik itu sudah siap dan Bagas memesan taksi untuk mengantar mereka.


Jarak rumah mereka dan pelabuhan cukup jauh, dibutuhkan waktu satu jam bisa sampai kesana. Tentu saja mereka harus tiba lebih cepat dari jadwal keberangkatan.


Bagas mengecek seluruh sudut rumah, memastikan pintu dan jendela sudah terkunci dan aman untuk ditinggalkan.


Tak lama, taksi yang Bagas pesan tiba, keduanya naik dan mobil pun bergerak meninggalkan rumah menuju pelabuhan.


Sepanjang perjalanan, Yudha diam membisu hanya sesekali mengusap kasar wajahnya frustasi. Sedangkan Bagas duduk bersandar sambil memejamkan mata dan berpura-pura tidur.


Mereka sudah sampai di pelabuhan, Yudha turun dari taksi sambil menenteng tas. Bagas membayar ongkos taksi kemudian turun menyusul adiknya dengan membawa tas pakaiannya.


"Ayo, kita ke loket untuk registrasi," ajak Bagas.

__ADS_1


Yudha mengikuti langkah kakaknya, pemuda itu tetap diam seribu bahasa layaknya orang bisu.


Apa pun yang dilakukan Bagas, Yudha hanya mengikuti tanpa mengucapkan sepata kata pun. Terlalu sakit rasanya, ketika dia harus dipaksa menjauh dari kehidupan yang dijalaninya.


Bunyi sirene kapal sudah berbunyi, suara pengumuman terdengar dari pengeras yang meminta penumpang agar segera naik.


Yudha menoleh ke ruang tunggu, berharap Sofia datang menemuinya dan meminta ikut. Namun, hanya angan belaka, karena faktanya sampai dia keluar dari ruang tunggu sosok yang diharapkannya tak kunjung terlihat.


Yudha berjalan gontai mengikuti langkah Bagas, keduanya naik ke dalam kapal dan mencari kamar yang tertera di lembaran tiket.


"Ini kamar kita, masuklah," ucap Bagas melirik adiknya.


Yudha membuka pintu, tampak ranjang susun yang tersedia di dalam. Kemudian dia meletakkan tasnya ke sembarang tempat sementara Bagas berdiri di belakangnya mengamati tingkah Yudha.



"Untuk tiga hari ke depan, kita akan menempati kamar ini sampai tiba di kota Paman Herman."


Bagas memberi informasi lama perjalanan yang akan mereka tempuh, karena kota yang akan mereka datangi memang berada di seberang pulau yang jauh dari kota mereka.


Yudha menghela napas, akan sangat membosankan tiga hari berada di dalam kapal pikirnya.


"Kak, aku lapar," ujarnya tiba-tiba, karena memang keduanya belum sarapan.


"Baiklah, tunggu sebentar. Kakak pesan makanan dulu," balas Bagas kemudian memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Yudha di dalam kamar.


Tak lama kemudian, Bagas muncul sambil membawa nampan makanan.


"Nasi goreng," gumam Yudha lirih


Bagas menyerahkan nampan tersebut pada adiknya, Yudha mengambilnya lalu meletakkan di atas pangkuannya.


"Makanlah," ucap Bagas.


"Kakak tidak makan?" tanya Yudha mengangkat wajahnya menatap Bagas.


"Nanti saja, kakak masih capek. Kalau sudah selesai, letakkan saja di situ," tunjuk Bagas pada nakas yang ada di dekat ranjang.


"Hmm."


Yudha mengangguk, kemudian menyantap nasi goreng yang ada di depannya dengan lahap.


Sembari menikmati makanannya, Yudha merogoh tasnya dan mengambil ponsel dari dalam. Dengan hati-hati dia menyalakan benda pipih tersebut.


Ting ..., ting.

__ADS_1


Baru saja ponselnya menyala, tiba-tiba pesan masuk berbunyi dan tertera nama Sofia di layar ponsel.


"Selamat jalan sayang, semoga selamat sampai tujuan."


Seketika selera makan Yudha menghilang, dia melirik Bagas yang berbaring di atas kasur sambil memejamkan mata.


Pemuda itu kembali menatap layar ponselnya, membaca pesan kedua yang belum terbuka.


"Seperti janjiku, aku akan menunggumu pulang kapan pun kamu kembali. Berjanjilah padaku, untuk tetap setia dan menjaga hatimu untukku."


Tangan Yudha bergetar, pesan menyayat hati yang Sofia kirimkan seakan meruntuhkan pertahanannya.


Andai saja kapal masih bersandar di dermaga, mungkin Yudha akan nekad turun dan membatalkan perjalanannya.


Yudha mengetik pesan balasan, sayangnya signal sudah tidak tersedia sehingga pesannya gagal terkirim.


Pemuda itu meremas rambutnya, kemudian melirik lagi ke arah ranjang. Bagas masih pada posisinya tidur terlentang bahkan sangat nyenyak.


Ingin rasanya Yudha berteriak kencang melampiaskan kekesalannya. Tapi, dia takut Bagas terbangun. Akhirnya dia hanya bisa menahan amarah dalam hatinya.


Hari kedua di perjalanan, Yudha keluar dari kamar dan berjalan menuju dek penumpang ekonomi. Di sana tampak ramai jauh berbeda dengan kamar yang mereka tempati.


Yudha mendekati salah seorang penumpang yang sedang duduk, pemuda itu mencoba menyapa dan bertanya kepada orang di sebelahnya.


"Mau kemana pak?"


"Ke kota X," jawab penumpang tersebut sambil mengulas senyum.


"Oh, tujuan kita sama," sambung Yudha.


"Adik berasal dari sana?" tanya Si Penumpang


"Tidak, hanya mengunjungi paman yang tugas di sana," jawab Yudha tersenyum tipis.


Orang tersebut menatap wajah Yudha seksama, kemudian dia kembali bertanya.


"Sudah berapa kali kesana?"


"Baru pak, ini pertama kalinya saya kesana."


Keduanya pun berbincang cukup lama, bahkan mulai akrab dan membahas banyak hal hingga pembicaraan mereka terhenti ketika Bagas datang mencari Yudha.


"Kamu di sini Yud, kakak mencarimu kemana-mana," ujar Bagas.


"Iya, kak. Aku bosan di dalam kamar makanya main kesini dan ternyata di sini jauh lebih seru."

__ADS_1


Yudha mendapat kenalan baru sekaligus pengalaman baru dari penumpang yang diajaknya berbincang, setelah Bagas datang menjemput Yudha berpamitan kembali ke kamarnya.


Sejenak Yudha melupakan kegundahannya. Tapi, begitu memasuki kamar bayangan Sofia kembali menghantuinya.


__ADS_2