KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Ujian Kesabaran


__ADS_3

Part 73


Ternyata, pertemuan Yudha dengan Seila menyisakan kenangan tersendiri bagi lelaki tersebut.


Setiap malam dia selalu terbayang wajah wanita yang sudah tidur dengannya walau pun hanya semalam.


Di sisi lain, hubungan Yudha bersama Sofia yang terjalin diam-diam masih terus berjalan.


Tinggal selangkah lagi, Sofia menyelesaikan kuliahnya. Sering kali dia membahas mengenai hubungan mereka. Tapi, sepertinya Yudha masih nyaman dengan statusnya


Siang ini, Yudha menjemput Sofia di kampus dan mengajaknya berkencan. Keduanya tak lagi sungkan, bahkan setiap kali bertemu mereka selalu melakukan aktifitas layaknya suami istri.


Itulah sebabnya, kenapa Sofia selalu menanyakan tentang kepastian kepada Yudha, karena dia khawatir Yudha berubah pikiran atau bosan dan meninggalkan dirinya.


Yudha sudah sampai di kampus, lelaki itu menunggu kekasihnya di parkiran sambil memainkan ponselnya.


Tak berselang lama, Sofia muncul sambil berlari kecil menghampiri kekasihnya.


"Sudah lama?" tanya Sofia


"Lumayan," jawab Yudha singkat.


"Kita mau ke mana?" tanya Sofia lagi.


"Tempat biasa, aku kangen," jawab Yudha santai


Sofia tertegun dan berkata dalam hati,"kamu datang mencariku hanya pada saat membutuhkan tubuhku."


Sofia menatap wajah Yudha yang masih duduk di atas motor, sedangkan Yudha membalas tatapan kekasihnya dengan wajah heran.


"Yud, bisakah kita mengurangi melakukannya? Aku takut hamil," Ucap Sofia


"Hehe." Yudha hanya terkekeh sambil terus menatap Sofia.


"Sayang, aku ini lelaki normal, begitu pun denganmu. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa menghindari hasrat kita saat bertemu," ujar Yudha


"Sudah, jangan membahasnya di sini."


Sofia naik ke atas motor, tanpa banyak berkomentar Yudha menyalakan mesin motornya dan perlahan bergerak meninggalkan area kampus.


Yudha dan Sofia sudah sampai di tempat biasa mereka bertemu, di dalam kamar, Sofia melanjutkan lagi topik dan pembahasan yang mereka bicarakan di kampus.


"Yud, kita harus bicara!"


"Apa lagi sih? Bukannya tadi sudah jelas jawabanku, aku ini laki-laki normal mana bisa menahan hasrat," ucap Yudha kesal.


"Aku takut hamil Yud, tolong mengertilah!"


"Jangan merusak suasana hatiku Sof," balas Yudha tegas.

__ADS_1


Tanpa peduli ucapan Sofia, Yudha langsung saja mendorong tubuh Sofia hingga terbaring di ranjang.


Untuk kesekian kalinya, mereka kembali melakukan hubungan suami istri. Walau dengan terpaksa Sofia tetap melayani keinginan kekasihnya.


Ada yang berbeda dari sikap Yudha saat melakukan hubungan intim, lelaki tersebut jauh lebih agresif dari biasanya dan Sofia merasakan itu.


"Sepertinya kamu berbeda, ini bukan dirimu Yud. Ada apa denganmu?" batin Sofia


Sorenya, mereka pulang. Yudha mengantar Sofia pulang ke rumahnya karena malam hari dia harus masuk kerja lagi seperti biasa.


Sampai di rumah, Yudha bergegas mandi karena setelah maghrib akan berangkat ke tempat kerjanya.


Baru saja Yudha selesai berpakaian, Bagas muncul di balik pintu dan berdiri menatap adiknya.


"Dari mana seharian?"


Suara Bagas mengagetkan Yudha, dengan cepat Yudha memutar tubuhnya.


"Kak Bagas bikin kaget saja," ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jawab dulu pertanyaanku," ucap Bagas lagi.


"Dari rumah Haris," jawab Yudha berbohong.


"Hmm."


Melihat mimik wajah Bagas, Yudha curiga pasti ada sesuatu yang kakaknya ketahui dan sengaja memancingnya.


"Wah, gawat ini. Jangan-jangan kak Bagas membuntutiku tadi?"


"Ada apa kak? tumben kakak bertanya begitu," ucap Yudha


"Tidak ada apa-apa, kakak cuma mau bilang, lain kali kalau berbohong harus hati-hati hehe," balas Bagas terkekeh dan berlalu pergi.


"Siaall, aku ketahuan lagi begini. Apa kak Bagas punya telepati atau dia seorang cenayang yang tahu semua gerak-gerik ku?" sungut Yudha.


Tak ingin rahasianya terbongkar, Yudha segera keluar dari kamar dan berjalan ke luar menuju garasi.


Saat melewati ruang tamu, tanpa menoleh Yudha berpamitan pada Bagas.


"Kak, aku berangkat dulu nanti terlambat."


Bagas tidak memberi jawaban apa pun, sambil menggelengkan kepala lelaki itu hanya memandang punggung adiknya yang berjalan cepat meninggalkan ruang tamu.


"Andai saja kamu bukan adik ku, sudah lama kutitipkan ke panti asuhan!" umpat Bagas dalam hati.


Yudha sudah ada di Club, seperti biasa banyak pengunjung yang datang dan Yudha harus melayani tamunya dengan ramah.


"Hei, Yud. Malam itu kenapa kamu tidak kembali ke sini?" tanya seorang teman Yudha.

__ADS_1


"Bos mencarimu," sambungnya lagi.


"Ssstt, jangan berisik," sahut Yudha sambil meletakkan jari ke bibirnya.


"Aku terjebak hujaan," jawab Yudha asal.


"Iyaa, hujan asmaraa hahhaha," sambar temannya disertai gelak tawanya.


Semakin larut, suara musik semakin memekakkan telinga. Cahaya remang lampu-lampu di dalam ruangan menambah hangatnya suasana.


Beberapa pasangan turun menari dan meliuk-liukkan badannya, tampak mereka sudah mabuk hingga terbawa suasana.


Pemandangan seperti ini sudah biasa bagi orang yang bekerja di sebuah Club malam, begitu juga dengan Yudha yang sudah terbiasa melihat wanita penghibur serta lelaki hidung belang yang saling bercumbu.


Saat Yudha sedang menuangkan secangkir minuman untuk pengunjung, tiba-tiba teman kerjanya memyenggol tangan Yudha.


"Yud, bukannya itu wanita yang kamu antar pulang benerapa malam yang lalu?" bisiknya sambil menunjuk ke arah kursi yang tak jauh dari mereka.


Spontan Yudha melihat ke arah telunjuk temannya, benar saja, Seila yang duduk sendiri sedang menatap ke arahnya melempar senyum manis.


"Tolong, lanjutkan pekerjaanku, aku mau ke sana sebentar!" ujar Yudha.


Yudha menghampiri Seila, melawati kerumunan orang yang sedang berjoget dengan setengah sadar.


"Sel, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yudha


"Sebaiknya kamu pulang sekarang! Tempat ini tidak cocok buatmu," ucap Yudha lagi menyuruh Seila pergi.


Bukannya menjawab, Seila malah menepuk ruang kosong di sebelahnya meminta Yudha duduk. Yudha menuruti permintaan wanita di depannya.


"Sel, pulang lah!" desak Yudha yang mulai menunjukkan sikap posesifnya pada Seila.


"Kenapa Yud?" tanya Seila berpura-pura polos dengan suara manjanya.


"Aku ke sini cuma menghibur diri, salah?" pancing Seila.


"Sel, aku harap kamu mau mendengar kata-kataku. Kamu harus pulang sekarang!" Suara Yudha sedikit meninggi.


Seila tak bergeming, justru mendekatkan tubuhnya pada Yudha.


"Antar aku pulang," ujar Seila menatap tajam mata Yudha seolah menantang.


"Astagaa, jangan menguji kesabaranku Sel, aku tidak bisa mengantarmu karena sedang bekerja!"


Yudha tak habis pikir, kenapa Seila bersikap berani padanya. Padahal mereka baru sekali bertemu itu pun tanpa sengaja dan tanpa direncanakan.


"Antar aku pulang Yud, malam ini aku sangat kalut," bujuk Seila.


Yudha semakin bimbang, satu sisi dia merasa ajakan Seila adalah sebuah tantangan, sementara sisi yang lainnya dia harus menjaga jarak pada Seila. Apa lagi saat ini dia juga sedang bekerja, tidak mungkin harus meninggalkan tugasnya demi seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2