
Part 24
Waktu yang ditentukan Fadli pun tiba, pasangan itu akan pindah ke rumah baru mereka dengan menyiapkan berbagai kebutuhan termasuk untuk acara sukuran nanti.
Masyitah mengemasi pakaian dan memasukkan ke dalam tas, beberapa pasang masih tetap dia simpan mengingat jika sekali waktu datang ke rumah orang tuanya masih ada yang bisa dipakai.
Murni masuk ke kamar putrinya, sebenarnya dia cukup berat melepas Masyitah untuk pindah. Tapi, dia juga sadar Masyitah sekarang sudah sepenuhnya menjadi hak suaminya.
"Ita," panggil Murni saat berada di belakang Masyitah
"Eh, mama. Sini temani aku mengemas barang," ajak Masyitah
Kali ini Murni lebih kalem dan banyak diam, mungkin karena merasa belum siap ditinggalkan putri semata wayangnya.
Murni mendekat, kemudian duduk di sebelah Masyitah sambil ikut memasukkan pakaian anaknya.
"Ta, mama sedih. Tidak ada lagi teman mama berdebat setiap hari," ujar Murni dengan wajah murung
"Mah, rumah kami jaraknya dekat dari sini. Aku bukan hanya berpindah rumah mah, bukan pindah ke planet mars," balas Masyitah.
Plaakk ....
Satu tepukan keras mendarat di bahu Masyitah, kesal mendengar jawaban anaknya yang hanya menanggapi dengan candaan.
"Sakiit mah," keluh Masyitah.
"Salah sendiri, siapa juga yang bilang kamu mau pindah ke .. Planet apa, apa tadi namanya?"
"Mars mah, Mars!"
"Iya, itu,"
Murni menyahuti jawaban Masyitah, walau sebenarnya dia sendiri juga belum tahu dimana letak planet yang disebutkan Masyitah.
"Mama jangan sedih, setiap hari aku juga akan ke sini menemani mama karena suamiku pasti seharian bekerja di luar," ucap Masyitah.
Murni sedikit terhibur, rasa kesepian membuatnya tak rela Masyitah pergi walau setiap hari ribut. Tapi, hal itulah nanti yang akan dia rindukan dari putrinya.
"Suamimu kemana?"
"Sudah berangkat kerja mah, sengaja dia berangkat lebih pagi biar bisa pulang cepat karena ada yang harus diselesaikan."
"Kami juga belum membeli perabot dapur, masa aku harus membawa semua perabotan milik mama?" lanjut Masyitah lagi.
__ADS_1
"Hmm, ya sudah. Mama tinggal dulu mau melanjutkan pekerjaan di dapur," jawab Murni kemudian melangkah keluar dari kamar Masyitah
Siangnya, Fadli datang untuk menjemput istrinya pergi berbelanja. Mereka mengunjungi toko peralatan masak yang lumayan lengkap.
"Ayo, kita berangkat sekarang nanti keburu sore dan tokonya tutup," ajak Fadli.
"Sebentar," sahut Masyitah.
Masyitah bergegas mengganti bajunya, setelah itu berpamitan pada ibunya lalu pasangan itu pun pergi ke tempat yang mereka tuju.
Sampai di toko peralatan, wanita muda itu gelagapan bahkan sampai bingung harus memilih karena banyaknya alat masak memasak yang menurutnya bagus.
Fadli yang berjalan di belakang istrinya, tersenyum geli melihat tingkah Masyitah yang terkagum-kagum melihat barang terpajang di dalam rak.
"Mau ambil itu, memang sudah pintar masak?" ledek Fadli.
Masyitah memanyunkan bibirnya, kemudian meletakkan kembali panci presto ke tempatnya.
"Ambil yang seperlunya saja dulu, paling juga kamu kalau siang malah main ke rumah mama nanti hehe," ucap Fadli seakan bisa menebak apa yang akan terjadi setelahnya.
"Kan bisa di koleksi," sahut Masyitah sekenanya
"Ya, ampun Ita, kalau hanya untuk bahan koleksi lebih baik beli panci mainan anak-anak saja," sungut Fadli
Saat keluar dari toko, Masyitah menatap wajah suaminya yang tampak kelelahan sehingga membuatnya merasa iba.
"Ayo, kita pulang sekarang. Kamu pasti lelah," ucap Masyitah
"Hmm, syukurlah kamu masih bisa menyadarinya," sindir Fadli
Masyitah tak lagi menimpali perkataan suaminya, karena sesungguhnya dia juga jauh lebih capek. Sebab, sebelum mereka berbelanja Masyitah sudah menyelesaikan satu pekerjaan berat di rumah yaitu mengemasi pakaian dan barang milik mereka.
"Belanjaan ini dibawa saja ke rumah kita, supaya besok barang yang kita bawa dari rumah mama tidak terlalu banyak."
"Iya, terserah bagaimana baiknya menurutmu," balas Masyitah dengan suara pelan.
Pasangan suami istri itu pun tiba di rumah, Masyitah duduk di sofa sambil berselonjor melemaskan otot kakinya yang tegang, sedangkan Fadli masuk ke kamar dan langsung mandi karena seluruh tubuhnya terasa penat.
"Kalian sudah lama sampai?" tanya Murni saat dia keluar dari kamarnya.
"Baru mah, aku capek," keluh Masyitah sembari memijat kakinya
Usai bertanya pada Masyitah, Murni berjalan keluar mencari suaminya yang berada di kebun anggur miliknya.
__ADS_1
Salah satu kegemaran Haji Burhan adalah berkebun, menanam berbagai macam buah di halaman samping rumahnya yang luas
Sayuran hidroponik pun juga tersedia di kebun Haji Burhan, untuk mengisi waktu luang biasanya dia akan mengurus tanamannya.
"Pah, cabenya sudah mulai berbuah," tunjuk Murni pada pohon cabe yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Haji Burhan menoleh,"oh, iya mah. Minggu depan mama bisa panen."
Murni menghampiri suaminya, sembari memetik buah tomat yang sudah masak dia berkata pada suaminya,"besok Ita akan pindah, mama pasti kesepian nanti."
"Baguslah, dengan begitu Ita bisa mandiri dan jadi lebih dewasa lagi tidak bergantung pada mama," balas Haji Burhan.
"Siapa bilang mandiri? Ita malah sudah punya rencana tiap hari mau ke sini."
"Sudah tahu begitu, lantas kenapa mama masih merasa akan kesepian?"
"Ah papa, namanya juga seorang ibu, pasti tidak akan tega berpisah dengan anaknya meskipun tempatnya tidak berjauhan," jawab Murni kesal
Haji Burhan hanya tersenyum tipis, kekhawatiran seorang ibu tampak jelas terlihat di wajah istrinya yang takut ditinggalkan anak perempuan semata wayangnya.
"Tenang saja mah, papa percaya pada Fadli dia lelaki yang bertanggung jawab dan tidak akan menyia-nyiakan istrinya."
"Iya, mama tahu itu. Buktinya dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah membeli sebuah rumah untuk Ita, beda sama papa," sindirnya
"Maksud mama?"
Murni tak menjawab, hanya menunjukkan cengiran khasnya yang kadang bisa membuat orang sebal.
"Mama menyesal ya, karena dulu kita lama hidup menumpang di rumah orang tuamu?"
"Ee, jangan tersinggung. Mama hanya teringat masa lalu kita dulu," elak Murni
Wajah Haji Burhan berubah datar, lelaki tua itu oun beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju rumah. Namun, Murni bergegas mengikuti di belakang.
"Aduuuh, salah ngomong. Pasti dia marah," batin Murni
Haji Burhan dulunya memang pemuda yang terlahir dari keluarga sederhana. Namun, berkat kerja kerasnya dia berhasil menjadi orang yang sukses.
Sebab itulah, yang membuat Murni jatuh hati padanya karena melihat kegigihan seorang pemuda yang mengangkat derajat orang tuanya.
Murni menyusul suaminya masuk ke dalam kamar, wanita itu segera meminta maaf karena sudah membuat suaminya tersinggung dan marah.
"Pah, mama minta maaf. Mama cuma bercanda jangan diambil hati ya," bujuk Murni.
__ADS_1
Haji Burhan hanya mengangguk, kemudian mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Murni diam mematung dengan rasa penyesalan