
Part 74
Yudha akhirnya tak dapat menolak ajakan Seila, keduanya pun akhirnya meninggalkan club. Untuk kedua kalinya Yudha bolos kerja demi seorang wanita yang baru dia kenal.
Setelah melewati drama dan perdebatan kecil, mereka sepakat menuju sebuah penginapan, tentu saja tujuannya tak lain akan melewati malam panjang bersama.
Seila semakin menunjukkan sikap beraninya. Bahkan, wanita tersebut tak segan memulai saat keduanya sudah berada dalam ruangan yang sama.
Kewarasan Yudha yang hanya setipis tissu dibagi dua, pasti akan bereaksi saat menerima perlakuan Seila yang menunjukkan sikap sensualnya di hadapan Yudha.
"Sel, jangan memancingku!" ucap Yudha dengan suara yang mulai parau.
"Hehe." seila hanya terkekeh kecil sambil mendekatkan tubuhnya pada Yudha.
Malam ini, keduanya menghabiskan waktu dengan bercumbu layaknya suami istri. Mereka seakan tak peduli dengan apa pun, hingga lupa dengan status Seila yang masih bersuami.
Pagi harinya, Yudha terbangun dan perlahan membuka mata. Dia melirik ke sebelahnya, tampak Seila masih tertidur pulas karena kelelahan.
"Kalau begini terus, kamu bisa membuatku gila Sel," gumam Yudha dalam hati sambil menatap lekat wajah Seila.
Tak lama kemudian, Seila menggeliat lalu membuka matanya. Senyum Seila merekah saat menatap Yudha di sampingnya.
"Selamat pagi sayang!" ucap Seila manja
"Selamat pagi juga sayang," balas Yudha tak kalah mesranya.
"Sepertinya kita harus mengulang adegan semalam," goda Yudha.
"Siapa takut?" Seila balas menantang.
Keduanya pun kembali bercumbu hingga lupa waktu.
Setelah puas melakukan adegan ranjang, keduanya membersihkan diri dan bersiap meninggalkan penginapan tersebut.
Sampai di lobi, keduanya berpencar dan berpura-pura tak saling kenal lalu kembali ke rumah masing-masing.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang menatap tajam ke arah mereka dari kejauhan.
Seila menaiki mobilnya, sedangkan Yudha memilih berjalan menjauh sembari menunggu taksi untuk pulang ke rumah.
Tiba di rumah, Yudha langsung di sambut Bagas yang sudah menunggu di ruang tamu. Langkah Yudha tertahan saat suara berat Bagas menyebut namanya.
"Yudha, berhenti di situ," ucap Bagas sambil melirik jam di tangannya.
"Dari mana saja kamu, jam begini baru pulang?" selidik Bagas.
"Deegg."
Jantung Yudha seketika berdebar, langsung tersadar dan spontan melihat ke arah jam dinding.
__ADS_1
"Astagaa, bodooh! Kenapa sampai kesiangan begini sih?" sungut Yudha dalam hati.
"Yudhaa, jawab pertanyaan kakak!"
"Em,,, eeh,,, anu kak," ucap Yudha tergagap sambil berpikir keras mencari jawaban yang tepat.
"Anu apaa!" bentak Bagas
"Aku ketiduran di club kak, capek semalam tamunya ramai," jawab Yudha berbohong.
"Duduk, kakak ingin bicara."
Yudha berjalan pelan mendekati kursi dan duduk tepat di depan Bagas, keduanya diam untuk beberapa saat dan suasana hening.
Bagas menghela napas dalam, bagaimana pun Yudha adalah adik satu-satunya yang dia miliki dan juga sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Yudhaa." Bagas memulai percakapan. Namun, sesaat dia diam dan menarik napasnya lalu melanjutkan ucapannya.
"Kakak harap, kamu bisa mengerti perasaan kakak."
Yudha masih diam dan menyimak, menunggu kalimat selanjutnya dari Bagas.
"Selama ini, kakak perhatikan kamu mulai tak terkendali. Lagi pula pekerjaan yang kamu geluti sekarang tidak bisa menjanjikan masa depanmu kelak."
"Maksudnya?" tanya Yudha
"Sebaiknya, kamu lanjutkan kuliahmu. Fokus belajar dan kejar ketertinggalanmu," lanjut Bagas lagi dengan wajah serius.
"Bukan masalah nyamannya. Tapi, kakak lihat kamu malah semakin liar," ucap Bagas mulai kesal
"Jangan membantahku, kamu harus melanjutkan pendidikanmu titik!"
"Berhenti kerja di club itu dan lanjutkan kuliahmu!" jawab Bagas tegas lalu beranjak dari kursinya dan meninggalkan Yudha yang juga merasa kesal.
"Apa-apaan kak Bagas ini? Egoiiiss!" sungut Yudha.
Yudha berjalan masuk ke dalam kamarnya, tubuhnya begitu lelah akibat pergulatannya bersama Seila.
Pemuda itu tidur berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya, seutas senyum dari bibirnya ketika ingatannya kembali pada adegan bersama Seila.
"Perempuan ini membuatku gila," gumam Yudha lirih.
Lama berbaring, akhirnya rasa kantuk pun datang. Yudha memejamkan mata dan sejenak melupakan semua ucapan Bagas yang sedikit mengganggu pikirannya.
Sore harinya, Yudha terbangun dan bergegas mandi. Membersihkan diri dan bersiap berangkat kerja.
Namun, baru saja dia keluar kamar Bagas sudah datang memghampirinya.
"Mau kemana?" selidik Bagas
__ADS_1
"Berangkat kerja," jawab Yudha singkat
"Apa kamu lupa dengan ucapanku?"
"Kenapa kakak sangat egois? Aku hanya ingin bekerja itu saja," balas Yudha
"Sini kamuu!!"
Bagas menarik paksa tangan Yudha, menyeret adik lelakinya ke ruang tamu lalu berdiri menghadap dinding tepat di depan foto orang mereka yang tergantung.
"Lihat, lihat merekaa!!" tunjuk Bagas pada sebuah bingkai foto di dinding.
Yudha pasrah dan mengikuti arah telunjuk kakaknya, matanya menatap foto sepasang suami istri mendiang ayah dan ibunya.
"kamu tahu? Mereka menaruh harapan dan tanggung jawab besar di pundak kakak," ucap Bagas dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokannya
Yudha terdiam, tak dapat berkata-kata. Hatinya teriris pilu saat mendengar ucapan Bagas, ditambah lagi tatapannya tak kepas dari foto kedua orang tuanya.
Tiba-tiba saja rasa rindu dan sedih menyeruak dalam hatinya, baru kali ini Bagas bersikap seolah-olah pasrah dan mengadu pada orang tuanya.
"Sekarang semuanya kakak serahkan padamu, terserah apa pun keputusanmu lakukan saja," ucao Bagas putus asa.
Yudha menoleh, menatap sendu saudara laki-lakinya dengan rasa bersalah.
"Kak, maafkan aku. Baiklah aku turuti apa keinginan kakak," ujar Yudha pelan.
Yudha mendekat dan langsung memeluk Bagas erat, seakan menyadari telah melukai oerasaan kakaknya.
Keduanya berpelukan erat, suasana haru menyelimuti kakak beradik tersebut.
Sudah lama momen seperti ini tidak mereka rasakan, Yudha terlalu asyik dengan dunianya bahkan, seringkali mengabaikan ucapan Bagas.
"Maafkan aku kak," ulang Yudha disela pelukannya.
"Hmm."
Bagas hanya menggumam kecil, tak kuasa menahan kesedihan yang sudah lama dia simpan dalam diam.
Beberapa detik kemudian, Bagas mengurai pelukannya dan memegang pundak adiknya.
"Yud, jangan kecewakan mama dan papa. Kakak harap kamu mau mengerti," ucap Bagas pelan dan diangguki Yudha.
"Kak, bisakah aku pergi ke club untuk terakhir kalinya dan meminta ijin pada atasanku?"
"Ya, pergilah." Bagas mengiyakan dan memberi ijin adiknya pergi.
Setelah berpamitan, Yudha bergegas pergi ke tempat kerjanya dan menemui atasanya untuk meminta resign.
selesai dengan urusannya, tak lupa dia berpamitan pada teman-teman kerjanya lalu pulang ke rumah.
__ADS_1
Tiba di rumah, Yudha masuk ke dalam kamarnya. Ada rasa sedih ketika harus berpisah dengan teman kerjanya yang selama ini selalu menemaninya dalam suka duka.
Saat merenung, Yudha langsung teringat Sofia kekasihnya yang sudah berapa hari tak ditemuinya.