KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Penasaran


__ADS_3

Part 67


Hari ini semangat kerja Fadli turun drastis, bahkan untuk mengecek laporan dari pegawainya pun dia bermalas-malasan. Kedatangan Ayu benar-benar memberi efek besar bagi Fadli.


"Siaaall, kenapa dia datang lagi dalam kehidupanku? Ini tidak bisa dibiarkan!"


Malam harinya, Fadli pulang ke rumah tentunya dia menjemput anak dan istrinya lebih dahulu di rumah mertuanya. Tapi, bayangan Ayu masih saja menghantui pikirannya. Sementara itu Masyitah menatap tajam wajah suaminya dengan penuh curiga, terlihat gelagat aneh yang tidak biasa dari sikap Fadli.


"Kamu kenapa? Ada masalah di toko, hmm?" tanya Masyitah sambil berjalan menghampiri suaminya.


"Aku tidak apa-apa, hanya capek seharian kerja," elak Fadli


"Oh, ya sudah. Istirahatlah, aku juga mau tidur ngantuk."


Masyitah tidak percaya begitu saja ucapan suaminya, naluri seorang istri tak bisa dibohongi jika ada sesuatu yang suaminya sembunyikan. Hanya saja, Masyitah menunggu Fadli jujur untuk mengatakan apa yang sedang terjadi.


Sepanjang malam Fadli tak bisa memejamkan mata, pikirannya melayang tak tentu arah. Apalagi Ayu mengancam akan datang lagi ke tempatnya besok, sudah pasti itu menjadi sebuah masalah jika dibiarkan.


Ternyata Masyitah menyadari kegelisahan suaminya, diam-diam dia melirik ke arah Fadli yang masih duduk merenung di kegelapan.


"Apa yang terjadi? Tidak biasanya dia begitu, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku," batin Masyitah.


"Kamu belum tidur Fad?"


"Eh, belum. Badanku pegal-pegal jadi susah tidur." Fadli terkejut dan spontan berbohong pada istrinya.


"Sini, aku pijat," tawar Masyitah hendak turun dari ranjang.


"Sudah, tidak usah. Kamu tidur saja nanti Daffa ikut bangun," tolaknya lembut.


"Hmm, baiklah," sahut Masyitah dengan nada kecewa.


Wanita tersebut akhirnya kembali berbaring, setelah mendapat penolakan dari suaminya. Namun, hal itu justru memancing rasa penasaran dalam diri Masyitah. Sebab, sikap Fadli lain dari biasanya dan terkesan.


"Entahlah, apa yang sedang kamu alami dan sembunyikan, hanya Tuhan yang tahu," gumam Masyitah pasrah kemudian memejamkan matanya.


Keesokkan paginya, tanpa menunggu istrinya bangun, Fadli bergegas berangkat kerja. Bahkan dia tak sempat berkomunikasi dengan Masyitah dan meninggalkan istrinya begitu saja di rumah.


Sampai di toko, Fadli masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa tanpa mempedulikan tatapan heran beberapa pegawai padanya karena pagi ini tak ada sapaan hangat darinya seperti hari-hari sebelumnya.


Sementara itu, Masyitah yang baru bangun menyadari ketidak hadiran Fadli. Wanita tersebut segera turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar, berharap suaminya ada di ruangan lain tapi dugaannya salah.

__ADS_1


"Kemana dia? Tumben tidak membangunkan aku," gumam Masyitah.


Masyitah mencari ke semua ruangan. Namun, tidak menemukan orang yang dicarinya. Wanita itu berjalan lemas kembali ke dalam kamar karena suara tangis Daffa terdengar.


"Ayo, nak. Mandi dan sarapan, baru kita ke rumah nenek," ucap Masyitah pada bayinya yang masih berbaring malas di atas ranjang.


Usai memandikan dan menyuapi anaknya, Masyitah menggendong Daffa keluar kemudian mengunci pintu dan berjalan kaki menuju rumah orang tuanya.


Sepanjang jalan, Masyitah merenung. Bahkan muncul tanda tanya besar dalam hatinya melihat perubahan pada sikap suaminya.


"Jangan-jangan suamiku sedang mengalami kerugian? Atau ada orang yang menipunya."


Tanpa terasa dia sudah sampai di rumah orang tuanya, Murni yang duduk di teras segera menyambut anak dan cucunya datang.


"Ulu, uluu, cucukuu. Mana suamimu?" tanya Murni sembari memgambil Daffa dari gendongan Masyitah.


"Sudah berangkat kerja mah, pagi-pagi sekali dia pergi sampai tidak membangunkan aku," jawab Masyitah.


"Tumben," celetuk Murni.


"Iya mah, aku juga heran. Tadi bangun tidur dia sudah tidak ada di rumah."


Murni hanya mengangguk dan tak menimpali ucapan putrinya, wanita itu lebih memilih menjadi pendengar saja selagi anak dan menantunya bisa menyelesaikan persoalan mereka.


Murni mengajak Masyitah masuk, sekalian ingin memberi tahu suaminya kalau cucunya sudah datang.


"Ayo, kita ke dalam. Papamu masih betah di kamar biar Daffa yang mengajak main kakeknya," ujar Murni lalu beranjak dari tempatnya.


Masyitah menyusul langkah ibunya masuk, akan tetapi dia berbalik arah menuju kamarnya. Wanita tersebut masih penasaran dengan sikap suaminya dan dia memilih memilih berbaring di kamarnya sambil berpikir.


"Aku penasaran, apa sebaiknya aku susul Fadli ya?"


Masyitah bergumam sendirian di dalam kamar, menimbang langkah apa yang harus dia ambil apakah berdiam diri atau mencari apa yang sedang terjadi.


"Kalau aku ke sana, nanti Fadli marah. Tapi, aku juga ingin tahu ada apa sebenarnya dengan dia," gumamnya lagi.


Lama termenung, akhirnya Masyitah mengambil keputusan mentusul suaminya dan menitipkan Daffa pada ayah dan ibunya di rumah.


Di toko, Fadli sedang dibuat pusing oleh Ayu yang memaksa masuk ke dalam ruangannya. Dua orang pegawai sudah berusaha mencagah, namun, wanita itu bersikeras ingin bertemu Fadli.


"Pak, perempuan itu memaksa masuk," ujar seorang pegawai pada Fadli.

__ADS_1


"Jangan biarkan dia masuk, kamu tahu kan kalau istriku tahu bisa bahaya!"


"Baik pak, saya akan berusaha lagi," balas pegawai tersebut lalu melangkah keluar.


Ayu berdiri di depan pintu ruangan dengan tersenyum sinis pada pegawai itu, berharap Fadli mengijinkan dia masuk ke dalam.


"Maaf Bu, Pak Fadli sedang sibuk dan tidak bisa diganggu."


"Ah, persetan dengan alasanmu. Minggiir jangan mengahalangi jalanku!"


Ayu merangsek masuk dengan mendorong tubuh pegawai yang berdiri di depannya, sontak saja orang tersebut terhuyung ke samping dan kesempatan emas untuk Ayu bergerak masuk ke dalam.


Belum sempat pegawai itu berdiri tegak, Ayu sudah membuka pintu dan masuk lalu menutup pintu kemudian menguncinya dari dalam.


Fadli panik lantas segera berdiri dari kursinya, kemudian berjalan mendekati Ayu yang menatapnya sambil tersenyum miring.


"Ayu, apa-apaan ini? bukankah sudah aku katakan kalau aku sibuk dan tak bisa diganggu!"


Wanita itu tak bergeming sedikit pun, tatapannya menusuk penuh arti bagai elang yang siap menerkam mangsanya.


"Buka pintunya!" ucap Fadli dengan nada kesal.


"Kamu mengusirku?"


"Aku bilang bukaa sekaraang!!" seru Fadli mulai kehilangan kesabaran.


Bukannya takut, Ayu malah tidak mengindahkan perintah Fadli. Wanita itu justru maju dan mendekat pada Fadli seakan ingin menantang lawannya.


"Aku ingin tahu, sekeras apa pendirianmu!" ucap Ayu sinis


"Kamu takut ketahuan istrimu? Sehebat apa dia? Sampai seorang Fadli harus takut padanya, hmm?"


Fadli diam sejenak, melawan Ayu dengan cara kasar rasanya mustahil. Bisa-bisa wanita di depannya bisa berbuat nekad


"Yu, dulu aku sangat mengagumimu. Tapi, sekarang semuanya sudah berubah. Aku sudah memiliki anak dan istri." suara Fadli melemah


Lelaki itu berusaha membujuk Ayu, karena dia tidak ingin wanita itu melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya.


Tiba-tiba pintu digedor dari luar, Fadli terkejut wajahnya seketika pucat pasi. Mengingat saat itu dia sedang bersama Ayu di dalam ruangan dengan keadaan pintu terkunci dari dalam.


"Siapa di luar? Bagaimana ini?"

__ADS_1


__ADS_2