
Part 62
Bayi Masyitah menggeliat dalam dekapan neneknya, insting bayi yang sedang mencari-cari sumber makanannya.
"Uuh, lucunya kamu nak, mau mimi cucu yaa?" ucap Murni berbicara pada cucunya.
Murni memutar tubuhnya menghadap ke arah Fadli, menantunya itu sedang menyuapi Masyitah.
"Fad, siapa sih namanya? mama bingung mau manggil dia dengan sebutan siapa," tanya Murni
Fadli menghentikan suapannya, kemudian tersenyum lalu berkata,"namanya Daffa mah."
"Daffa Arkana!" sambar Masyitah
"Waah, namamu bagus nak. Orang tuamu pandai mencari nama untukmu," ujar Murni tersenyum lebar.
Daffa sepertinya sudah sangat lapar, bayi tersebut menggeliat sambil mengeluarkan suara tangisannya yang membuat Murni panik.
"Eeh, ee. Ita, anakmu lapar ini dari tadi gelisah. Ayo, cepatlah makan lalu susui dia."
"Iya, mah. Sabar sedikit lagi, aku habiskan dulu makanku."
Masyitah menghabiskan makanannya hingga suapan terakhir, kemudian Murni menyerahkan cucunya untuk disusui.
"Berapa hari lagi sih aku di sini?" tanya Masyitah sambil menyusui bayinya.
"Dua sampai tiga hari lagi, persalinan caesar penyembuhannya memang lebih lama dari persalinan normal," jawab Murni
"Bisakah kita minta pulang lebih cepat? aku ingin istirahat di rumah mah," rengek Masyitah pada ibunya.
Kejenuhan sering kali terjadi ketika memjadi pasien rawat inap, suasana rumah sakit membuat Masyitah ingin cepat pulang dan berkumpul bersama orang tua dan keluarga kecilnya.
"Sabar, kalau sudah membaik pasti dokter mengijinkan kalian pulang," bujuk Murni.
Sementara itu, saat mertuanya menemani Masyitah di rumah sakit Fadli mengambil kesempatan pulang ke rumah untuk mengurus sesuatu.
Lelaki itu akan memberi kejutan kecil untuk anak dan istrinya nanti kalau pulang, dia menyiapkan kamar untuk putranya di rumah mereka.
Kamar Baby Daffa yang Fadli siapkan, tampak sangat elegan dan membuat nyaman.
"Ita pasti senang melihatnya, ini hadiah kecil untuk kalian," gumam Fadli memandang kagum dekorasi kamar putranya.
__ADS_1
Dalam pengerjaannya, Fadli dibantu beberapa orang sehingga hanya butuh waktu dua hari menyelesaikannya.
Sebelum hari persalinan, Fadli sudah menghubungi tukang untuk merenovasi. Hari ketiga barulah Fadli bisa mengecek langsung dan melihat hasil pekerjaan, tentu saja dia hanya bisa mencuri waktu agar bisa ikut andil bersama pekerja.
Puas melihat hasilnya, Fadli membayar upah pekerja lalu kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya.
Fadli sudah ada di ruangan dan disambut oleh Ibu Mertuanya dengan pertanyaan,"dari mana Fad?"
"Dari rumah mah, ada yang aku urus di sana."
"Hari ini mama dan papamu tidak ke sini?" tanya Murni
"Mungkin sebentar lagi meteka datang, barangkali di toko sedang ramai pelanggan," terka Fadli.
Murni menganggukkan kepalanya dan berucap,"Iya, juga. Mungkin mereka sibuk."
"Daffa mana mah?" kepala Fadli celingukan mencari sosok putranya.
"Sudah dibawa suster kembali ke ruangan bayi, katanya Daffa sudah ngantuk," jawab Murni.
Fadli melirik ke ranjang Masyitah, istrinya tampak sangat pulas usai menyusui bayinya.
Waktu sudah hampir sore, Haji Burhan mengajak istrinya pulang. Tanpa berpamitan pada Masyitah, keduanya meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah mereka.
Di dalam kamar, hanya ada Fadli dan istrinya yang masih tertidur nyenyak dan sama sekali tidak terusik dengan suara apapun di luar.
Satu jam kemudian, Fadli terbangun karena suara sendok yang terjatuh ke lantai. Rupanya Masyitah hendak makan namun, enggan membangunkan suaminya yang begitu lelap.
Fadli segera bangkit dan menghampiri istrinya, kemudian berkata,"kenapa tidak membangunkan aku sayang."
"Kamu terlihat sangat lelah, makanya aku tak mau mengganggu tidurmu," ucap Masyitah canggung.
"Heh, ya ampun Itaa. Aku ini suamimu, sudah menjadi kewajibanku merawat dan mengurusmu," balas Fadli.
"Tapi."
Belum selesai ucapan Masyitah, Fadli segera memotongnya,"tidak ada tapi-tapian, kalau ada apa-apa denganmu aku juga nanti yang ikut susah."
Masyitah menghela napas, niat hati tak ingin merepotkan suami, malah dapat omelan.
Fadli mendekat pada istrinya lalu bertanya,"Kamu mau apa, hmm?"
"Mau makan. Tapi, aku kesulitan mengambilnya," jawab Masyitah.
__ADS_1
"Baiklah, sini aku suapin." suara Fadli melembut, kemudian dia mengambil makanan dan menyuapi istrinya.
Hari ke lima Masyitah di rumah sakit, pagi ini dokter datang melakukan pemeriksaan. Masyitah berkonsultasi serta bertanya apakah dia bisa pulang. Akhirnya dokter mengijinkan karena kondisi Masyitah sudah mulai pulih.
Setelah mendapatkan ijin, Fadli mengemasi barang-barang istrinya. Tak lupa dia juga mengambil obat yang akan dibawa pulang.
"Fad, kamu sudah kabari mama dan papa?"
"Belum, aku ingin membuat kejutan. Kita pulang naik taksi saja," jawab Fadli.
Masyitah diam, tak lagi protes hanya mengikuti keinginan suaminya. Yang penting dia bisa pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga besarnya.
"Kamu tunggu di sini ya, aku mau keluar sebentar," ucap Fadli.
Masyitah mengangguk, sembari menunggu suaminya Masyitah duduk di sofa menyusui putranya.
"Kita tunggu papa ya, Daffa mau pulang kan," gumam Masyitah mengajak putranya berbicara.
Tak lama kemudian, Fadli muncul dan meminta Masyitah segera bersiap-siap karena mobil sudah menunggu di depan.
"Ayo, sayaang. Taksi sudah menunggu," ajak Fadli dengan tergesa-gesa.
"Maksudnya?" Masyitah masih belum mengerti maksud perkataan suaminya.
"Taksinya sudah ada di depan Ita, aku bawa dulu tas dan barang yang lain," ujar Fadli sambil menenteng tas dan melangkah keluar.
Masyitah hanya melongo di tempatnya, melihat gerakan suaminya yang sangat sigap keluar membawa banyak barang.
Fadli sudah ada lagi di kamar, datang membawa kursi roda yang akan dipakai untuk membawa anak dan istrinya keluar.
"Astaga Fad, buat apa kursi roda itu?" tanya Masyitah dengan wajah heran.
"Untuk membawamu dan Daffa keluar, jarak parkiran dari sini lumayan jauh sayang, apa kamu kuat berjalan ke sana?"
"Sudah, jangan banyak protes. Naik saja dan kita segera pulang," lanjut Fadli lagi.
Masyitah pun pasrah, dia naik ke atas kursi roda dan duduk dengan tenang memangku putranya. Fadli mendorong istrinya sampai ke depan kemudian membukakan pintu mobil dan membantu istrinya naik ke dalam mobil.
Masyitah bersama anaknya sudah ada di dalam mobil, sedangkan Fadli membawa kembali kursi roda yang dipinjamnya lalu berjalan menuju mobil dan ikut masuk.
Fadli memberi tahu alamat rumah mertuanya pada supir, perlahan mobil bergerak meninggalkan area rumah sakit menuju rumah Haji Burhan.
Di dalam mobil, tak ada percakapan apapun antara pasangan suami istri tersebut. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, sesekali bayi dalam gendongan Masyitah menggeliat lalu tenang kembali.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah orang tua Masyitah. Fadli turun terlebih dahulu untuk mengangkat tas dari bagasi yang dibantu oleh supir.
Masyitah masih diam pada posisinya, menunggu suaminya selesai menurunkan semua barang setelahnya barulah Fadli membantu istrinya turun kemudian membayar ongkos taksi yang mereka tumpangi.