KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Hasil Yang Mengecewakan


__ADS_3

Part 42


"Oke, baiklah. Aku ikuti permainan kalian," gumam seseorang yang berada di balik pintu.


Besok paginya, Yudha sudah berpakaian rapi dan bersiap menaiki motornya. Tapi, langsung dicegat Bagas.


"Mau kemana? Ini kan hari minggu."


"Ke rumah Haris kak, ada bimbingan dari guru," jawab Yudha berbohong.


"Kakak antar!"


Seketika Yudha panik, benar-benar di luar rencana dan dia tidak menduga akan berada dalam situasi ini.


"Tidak usah kak, aku bisa pergi sendiri," tolaknya halus


Bagas tersenyum miring, gertakannya berhasil membuat adiknya panik walau sebenarnya dia hanya menguji kejujuran Yudha.


"Ya, sudah. Hati-hati di jalan jangan ngebut," ujar Bagas mengingatkan Yudha.


Setelah berpamitan, Yudha pun memacu motornya menuju rumah Sofia dan mengajaknya kembali ke bungalow yang mereka datangi .


"Yudha, kamu belum tahu resiko apa yang akan kamu hadapi nanti."


Bagas menghela napas. Kekhawatiran kepada adiknya sungguh besar, apalagi Yudha dan Sofia sudah melakukan hubungan suami istri di luar nikah.


Lelaki itu hanya bisa pasrah dan berdoa, berharap adiknya memenuhi janji yang diucapkannya tempo hari.


Sementara itu, Yudha sudah ada di depan rumah Sofia. Pemuda tersebut menghubungi kekasihnya yang masih ada di dalam rumah menggunakan ponselnya.


Tak lama, Sofia keluar menghampiri Yudha dan juga sudah berpakaian rapi.


"Sudah siap? kita berangkat sekarang. Naiklah!"


Sofia naik ke atas motor kekasihnya, Yudha pun menyalakan mesin dan motor perlahan bergerak membelah aspal.



Pasangan kekasih itu pun sudah sampai di tempat yang nereka tuju, keduanya turun dan Yudha memarkir motornya lalu memesan sebuah kamar pada petugas resepsionis di lobi.


Setelah menerima kunci, pemuda tersebut meraih tangan kekasihnya dan menggandengnya lalu berjalan menuju kamar yang telah mereka pesan.


Yudha membuka pintu kemudian melangkah masuk ke dalam, sedangkan Sofia mengikuti di belakang.


Pemuda itu berbalik menghadap Sofia dan berkata,"kamu suka kamarnya?"


Sofia mengangguk sambil tersenyum tipis, untuk kedua kalinya mereka mendatangi penginapan itu dan Sofia menyukai suasana sekitar tempat tersebut.


Seharian penuh pasangan itu menghabiskan waktu di kamar penginapan, menjelang maghrib barulah mereka pulang karena Yudha juga harus menyiapkan diri menghadapi ujian esok harinya.

__ADS_1


Satu bulan berlalu, sejak pertemuan mereka di bungalow Yudha dan Sofia tak lagi bertemu karena Yudha fokus pada ujian akhir dan menunggu pengumuman.


Keduanya berkomunikasi hanya melalui pesawat telpon, Sofia tak ingin menganggu bahkan membuyarkan konsentrasi Yudha dan memilih menjaga jarak untuk sementara waktu seperti janjinya pada Bagas.


Hari yang mendebarkan pun tiba, semua siswa berkumpul di halaman sekolah. Tak ketinggalan Yudha dan Haris juga ada di antara kerumunan tersebut.


"Ris, aku deg-degan," ucap Yudha sambil mengusap dadanya.


"Sama Yud," sahut Haris tak kalah gugupnya


"Kenapa otak ku jadi kram begini sih?" gerutu Yudha


"Hahahha, sekalian bilang otakmu hilang."


Dalam situasi tegang keduanya masih bisa melempar candaan, sembari menunggu dan melihat detik-detik pengumuman di papan mading sekolah.


"Uh, ramai banget Ris!" sungut Yudha


"Kalau mau sepi sana, ke kuburan," jawab Haris asal.


"Ris, sempat-sempatnya kamu bercanda di situasi begini."


Haris menoleh pada sahabatnya, pemuda itu tersenyum tipis tapi, raut ketegangan tergambar jelas di wajahnya.


"Sebenarnya aku juga takut Yud, mau bagaimana lagi masa aku harus menangis dan menjerit layaknya anak gadis yang baru diperawani?" ucap Haris memelankan suaranya.


Yudha melengos karena merasa tersindir sambil berkata dalam hati,"dia tahu dari mana ya, jangan-jangan Sofia bilang sama dia."


Kedua sahabat itu juga ikut merangsek masuk berdesak-desakkan dengan siswa lainnya, sampai akhirnya mereka sampai di depan mading.


Tangan Yudha gemetar mencari nama dan nomor stambuknya, dia membaca satu-persatu nama yang tertera hingga menemukan namanya juga dan juga nama Haris ada di dalam daftar tersebut.


Yudha memutar tubuhnya dan meraih tubuh Haris lalu memeluknya, meluapkan kegembiraan dan perasaan leganya.


"Kita lulus Broo!" seru Yudha tanpa melepaskan pelukannya


Layaknya pengumuman sebelumnya, beberapa siswa mulai melakukan aksi coret baju. Bagitu pun dengan keduanya yang tak mau kalah dari teman mereka


Setelah puas menghabiskan waktu seharian merayakan kelulusan, Yudha pulang ke rumah untuk mengabari kakaknya.


Bagas menyambut kedatangan adiknya dengan rasa haru, lelaki itu memeluk adik kesayangannya meluapkan rasa bahagianya.


"Selamat dek, perjalanan berikutnya akan lebih menantang lagi," ucapnya di sela pelukannya


"Terima kasih kak," sahut Yudha dengan sentum lebar.


"Selanjutnya, siapkan dirimu untuk ujian masuk Universitas."


Yusha mengangguk, kemudian melepaskan diri dari pelukan kakaknya lalu melangkah masuk ke kamar untuk mengganti seragamnya yang penuh coretan.

__ADS_1


Sampai di dalam kamar, Yudha tak lupa mengabari Sofia dan dia menerima ucapan selamat dari kekasihnya.


Satu minggu sudah berlalu, sejak pengumuman kelulusan Yudha belum bertemu dengan Sofia karena harus menyelesaikan beberapa urusan penting di sekolah.


Seperti pagi ini, Yudha keluar dari ruang tata usaha dengan tertunduk lesu. Di tangannya tampak sebuah kertas yang berisi nilai akhir ujiannya.


Haris menghampiri sahabatnya itu lalu berucap,"kenapa Yud?"


"Nilaiku anjlok Ris," jawabnya lemah


"Pasti kak Bagas kecewa padaku," sambungnya lagi sambil menyodorkan kertas di tangannya pada Haris.


"Astagaa Yud, kenapa bisa begini?" tanya Haris


Yudha diam sambil mengangkat kedua bahunya pasrah, janji yang dia ucapkan pada Bagas tidak bisa terpenuhi bahkan malah mengecewakan.


"Ris, gimana ini? bantu mikir dong!"


"Aku juga bingung Yud, sudah. Kamu pasrah saja lah dan sebaiknya kamu jujur sama kak Bagas." Haris memberi sara pada sahabatnya.


Setelah perbincangan alot antara keduanya, Yudha pun memutuskan pulang. Apapun yang akan terjadi dia akan menghadapinya pikir Yudha pasrah.


Yudha sudah sampai si rumah. Tapi, mobil Bagas belum terlihat di garasi berarti pemiliknya belum ada di rumah.


Dengan langkah cepat, Yudha masuk ke dalam kamarnya dan mengurung diri untuk menghindari pertanyaan Bagas ketika pulang.


Tak lama kemudian, dari dalam kamarnya Yudha mendengar deru mesin mobil Bagas masuk. Sontak dia panik segera mengunci pintu kamar.


Derap langkah Bagas semakin mendekat, Yudha memutari kamarnya gelisah bercampur takut.


Tok ... Tok ... Tok


"Yud, kamu di dalam?"


Jantung Yudha rasanya ingin lepas, belum juga dia menemukan jawaban pintu kembali di ketuk dari luar.


"Ii- iiyaa kak, tunggu sebentar!" ucapnya setengah berteriak.


"Aduuhh gawaat, apa yang akan aku katakan nanti kalau kak Bagas bertanya?"


"Buka Yud, kamu kenapa sih?" tanya Bagas mulai kesal


Yudha akhirnya menyerah, pelan-pelan dia membuka pintu lalu Bagas menerobos masuk ke dalam.


"Ijazahnya sudah dibagi?" tanya Bagas saat sudah berdiri di depan adiknya.


Bukannya menjawab, wajah Yudha malah berubah pucat. Pemuda itu mematung dan tampak sangat frustasi.


"Yud, kamu baik-baik saja kan?"

__ADS_1


"Mana ijazahmu? Kakak mau lihat."


Yudha tak kuasa menolak desakan Bagas, dengan tangan bergetar dia menyodorkan lembaran kertas pada kakaknya. Bagas mengambil kertas tersebut dari tangan Yudha, seketika wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras.


__ADS_2