
Part 19
Kerja keras Fadli membuahkan hasil, membangun relasi bisnis bukanlah hal yang mudah dan dia berhasil melewatinya.
"Tampaknya kamu bahagia sekali," kata Masyitah saat duduk di pangkuan suaminya
"Tentu saja, usaha tak mungkin mengkhianati hasil."
"Jangan lupa bersyukur, bukan kamu yang hebat. Tapi, Allah yang memudahkan dan memberi jalan," ucap Masyitah mengingatkan suaminya
"Iya, terima kasih sudah mengingatkan aku," balas Fadli
Keduanya saling pandang dan berpelukan, bayangan mengerikan tentang pernikahan di benak Masyitah mulai sirna berganti rasa sayang pada suaminya.
"Kita kabari mama dan papa, pasti mereka senang mendengarnya," ajak Masyitah lalu turun dari pangkuan suaminya.
"Iya, hampir saja aku melupakannya," sahut Fadli
"Ayo, kita kesana sekarang." Masyitah menarik tangan suaminya berjalan menuju rumah mertuanya yang berada tepat di samping toko.
Pasangan suami istri itu sudah berada di rumah Haji Salim, orang tua Fadli. Mereka melangkah masuk ke ruang tengah tempat Haji Salim dan istrinya biasa beristirahat.
"Mah," panggil Fadli
Ridha menyahuti anaknya,"iya, mama dan papa disini. Kemarilah."
"Mah, aku bawa kabar gembira untuk kalian," ucap Fadli sambil menarik Masyitah lalu duduk di kursi.
"Berita apa? Mama jadi penasaran," tanya Ridha
"Barusan kami bertemu rekan bisnis, orang itu mau bekerja sama dengan kita," jawab Fadli
"Dia seorang pemilik pabrik garmen," lanjut Fadli.
Wajah Ridha berbinar, ternyata anak sulungnya bisa diandalkan menggantikan suaminya untuk meneruskan usaha keluarga.
"Alhamdulillah, semoga kerja sama kita berjalan lancar," ucap Ridha dan di Aamiini Haji Salim.
"Baiklah, sebagai bentuk rasa syukur, papa akan mentraktir kalian."
Haji Salim mengajak anggota keluarganya makan di sebuah kafetaria, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka.
"Seru juga ya keluarga mereka, setiap kali ada kejutan selalu dirayakan," batin Masyitah
Keluarga Haji Salim berkumpul untuk makan bersama, tak lupa mereka juga membawa pulang beberapa bungkus makanan untuk pegawai mereka yang sedang bekerja.
Setelah tiba di rumah orang tuanya, Fadli mengajak Masyitah pulang karena ingin memghabiskan waktu di rumah bersama istrinya.
"Ita, ayo, kita pulang," ajaknya
"Sekarang kan masih siang, kenapa tidak menunggu sore dan tokonya tutup dulu," balas Masyitah
__ADS_1
"Aku mau istirahat, biar papa yang mengurus toko."
Keduanya berpamitan pulang, fadli menitip pesan pada ibunya meminta ayahnya menutup toko karena dia ingin beristirahat di rumah.
Pasangan suami istri itupun pulang, ketika tiba rumah tampak sepi.
"Kemana mama dan papa? Sepi begini."
Masyitah melangkah masuk, memeriksa semua ruangan tapi tak ada seorang pun disana. Wanita itu kembali lagi menemui suaminya di teras.
"Fad, mereka kemana ya? Pintu dibiarkan terbuka," ujar Masyitah
"Sudah dicek semua?" tanya Fadli
"Sudah, tapi kosong."
Mereka akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar, sebab Fadli juga ingin beristirahat.
Tak lama kemudian, terdengar suara dari arah belakang rumah. Masyitah bergegas keluar menemui ibunya untuk bertanya.
"Mama dari mana, Kenapa pintu dibiarkan terbuka?"
"mengobrol sama tetangga di belakang," jawab Murni dengan santainya
"Papa ikut juga bersama mama?"
"Papamu lagi keluar, janjian sama kawan lamanya," jawab Murni lagi.
"Heh, mama cuma main ke rumah tetangga. Awas kamu ya bicara sembarangan!"
Murni langsung melengos pergi meninggalkan Masyitah. Tapi, langkahnya terhenti saat mengingat dan menyadari sesuatu lalu membalikkan badannya.
"Eh, tumben kamu masih siang sudah ada di rumah?" tanya Murni mengerutkan dahinya
"Hari ini Fadli ingin cepat pulang, mau istirahat di rumah katanya," jawab Masyitah
"Oh, jadi suamimu ada di kamar sekarang, ya, sudah sana masuk temani suamimu."
Setelah menyuruh Masyitah masuk ke kamarnya, Murni melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu untuk menutup pintu dan masuk ke kamarnya.
Saat masuk ke kamar, Masyitah melihat suaminya sudah terlelap di atas kasur dengan nyenyaknya.
"Baru ditinggal sebentar sudah tertidur, ternyata kamu mustika bantal juga rupanya hehe," gumam Masyitah sambil terkekeh.
Wanita itu kemudian naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah suaminya. Namun, matanya belum bisa terpejam dan hanya menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Tak lama kemudian Masyitah pun tertidur, keduanya terbangun sore menjelang waktu Ashar. Masyitah bergegas turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Masyitah sudah selesai mandi dan masuk kembali ke kamar, kini giliran Fadli yang membersihkan dirinya dan bersiap melaksanakan shalat Ashar.
Pasangan itu keluar dari kamar mereka, keduanya berjalan menuju teras dan disana sudah ada ayah dan ibu Masyitah yang sedang berbincang.
__ADS_1
"Kalian sudah selesai shalat?" tanya Murni ketika anak dan menantunya muncul.
"Iya, baru selesai," sahut Masyitah.
Fadli duduk di bangku panjang, kemudian dia menepuk ruang kosong di sebelahnya sebagai isyarat pada istrinya untuk dudukdi tempat itu.
Masyitah pun menurut dan duduk mengambil posisi di sebelah suaminya, Fadli sengaja mengajak istrinya bergabung bersama mertuanya karena dia ingin menyampaikan kabar gembira tentang pekerjaannya siang tadi.
"Tumben hari ini cepat pulang?" Haji Burhan memulai obrolan
"Iya, pah, tadi kami sengaja pulang cepat dan beristirahat di rumah." jawab Fadli
"Hari ini toko kalian tutup?"
"Tidak pah, tetap seperti biasa. Hanya saja tadi ada rekan bisnis yang datang dan melakukan kontrak kerja sama," sambung Fadli.
"Hebat itu," celetuk Murni
"Iya, mah, orang itu pemilik pabrik garmen," sahut Fadli lagi
"Bentuk kerja samanya seperti apa?" Haji Burhan tampaknya tertarik membahasnya
"Pabriknya akan jadi pemasok pah, toko ku yang akan memasarkan kemudian akan dibagi hasil dan keuntungannya."
"Alhamdulillah, toko yang kamu kelolah bisa maju pesat. Papa harap kamu bisa jujur dan amanah agar kontrak kerjanya bisa diperpanjang lagi nanti."
Masyitah hanya menyimak pembicaraan antara suami dan orang tuanya, lebih memilih menjadi pendengar karena dia sendiri juga belum begitu memahami mengenai bisnis yang digeluti suaminya.
Obrolan panjang mereka berakhir saat menjelang maghrib, mereka masuk ke dalam rumah dan bersiap untuk shalat.
Setelah shalat, Fadli mengajak istrinya mengobrol sembari menunggu waktu shalat Isya.
"Ita, selain kuliah apa kamu punya impian yang lain?" tanya Fadli
"Maksudnya?"
"Maksudku, kamu tidak punya keinginan untuk memiliki sesuatu?"
Masyitah mengetuk-ketuk jarinya ke kening layaknya orang yang sedang berpikir, mencari apa yang ingin dia miliki selain melanjutkan studinya.
"Hmm, untuk sementara aku belum punya keinginan apapun," jawabnya
"Bagaimana kalo kita membangun rumah?" tawar Fadli
Masyitah diam dan tertegun, sebab hal itu tidak terpikirkan olehnya saat ini.
"Kenapa kamu diam, atau kamu ingin yang lain hmm?"
"Kalau kita punya rumah dan pindah dari sini, lantas siapa yang akan menemani mama dan papa?"
Fadli terdiam, terlintas dalam benaknya Masyitah tidak ingin memiliki rumah karena sudah nyaman hidup bersama dengan orang tuanya.
__ADS_1