
Part 57
"Keluarga pasien Ny. Masyitah?" tanya seorang perawat yang baru saja keluar ruangan.
Fadli segera berdiri dari bangku dan berkata,"ya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Baik Pak, istri bapak hanya mengalami morning sickness atau ngidam. Apa bapak tahu kalau istrinya sedang mengandung?"
"Iya, tetapi, saya tidak mengetahui usia kandungannya," jawab Fadli polos sambil tersenyum.
Sang Perawat mengajak Fadli masuk untuk menjelaskan lebih detail mengenai kondisi Masyitah, Fadli mengikuti perawat tersebut hingha ke dalam ruangan.
"Silahkan, duduk pak," ujarnya.
Fadli menarik kursi di depannya kemudian duduk menghadap meja perawat itu, kemudian menatap perawat sembari menunggu penjelasan.
"Permisi pak, saya jelaskan sedikit mengenai istri bapak."
Fadli diam dan menyimak, lelaki tersebut memang masih sangat awam bahkan belum memiliki pengalaman tentang kehamilan.
"Istri bapak sekarang sedang hamil tujuh minggu, artinya dia sedang mengalami masa-masa ngidam dan perubahan hormon dalam tubuhnya."
"Nanti, akan berpengaruh juga pada emosi istri bapak menjadi lebih mudah marah dan tersinggung," lanjutnya lagi.
"Apa yang harus saya lakukan sus? Bagaimana cara menghadapi situasi seperti itu?"
"Banyak bersabar pak, jangan lupa selalu siaga kapanpun istri membutuhkan."
Usai mendengarkan penjelasan panjang lebar dari perawat, Fadli menemui istrinya yang masih terbaring di ranjang. Sambil menunggu dipindahkan ke ruang perawatan, Fadli menemani istrinya di dalam.
"Fad, berapa lama lagi kita di sini?" tanya Masyitah dengan suara lemah.
"Sebentar lagi, masih menunggu perawat menyiapkan segala sesuatunya," jawab Fadli
Masyitah kembali memejamkan mata, akibat rasa pusing yang melanda menyebabkan dia belum bisa banyak bergerak.
Menyadari sesuatu, Fadli bergegas keluar menemui ayahnya yang masih setia menunggu di luar.
"Bagaimana istrimu nak?" tanya Haji Salim cemas saat Fadli sudah ada di depannya.
"Hanya mengalami morning sickness pah, hal yang wajar untuk ibu hamil," jawab Fadli.
Haji Salim menautkan kedua alisnya heran, sorot matanya menatap ke arah Fadli.
__ADS_1
"Apa itu? Jangan pakai bahasa yang aneh-aneh sama papa!" kesalnya.
"Hheheh, ngidam pah artinya."
Fadli tertawa keras, baru mengingat jika ayahnya tak paham dan mengerti arti ucapannya.
"Jangan meledek papa."
"Hehe, iya, maaf pah."
"Oh iya, pah. Fadli boleh minta tolong sama papa? kabari mertuaku pah."
"Iya, nanti papa kabari. Kalau begitu papa pulang dulu sekalian mengajak mamamu dan mertuamu ke sini," ujar Haji Salim berpamitan.
Setelah ayahnya pulang. Fadli masuk kembali ke dalam ruangan lalu duduk di samping istrinya.
"Kamu dari mana Fad?" tanya Masyitah.
Rupanya Masyitah tidak menyadari ketika Fadli berpamitan keluar, tubuhnya terlalu lemah dan menyebabkan dia jadi kurang fokus.
"Aku dari luar sayaang, menemui papa dan meminta tolong menjemput mama dan juga orang tuamu ke sini," jawab Fadli.
"Humm," gumam Masyitah.
Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya perawat datang dan memberi tahu bahwa Masyitah harus diantar ke ruang inap.
Dibantu dua orang perawat wanita, Fadli mengangkat tubuh istrinya lalu memindahkan ke ranjang.
"Terima kasih sus," ucap Fadli tersenyum tipis, dibalas anggukan kedua perawat tersebut kemudian berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Fad, aku haus," rengek Masyitah
"Iya, sebentar aku ambilkan," balas Fadli, kemudian mengambilkan segelas air putih untuk istrinya.
Selesai meneguk segelas air hingga tandas, Masyitah menyodorkan lagi gelas pada suaminya dan Fadli mengambilnya lalu menyimpan di atas nakas yang terletak di samping ranjang.
Masyitah diam, sesekali memejamkan mata dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
"Aduuh, jangan-jangan aku kena azab karena mengerjai suami. Berpura-pura sakit dan akhirnya jadi kenyataan harus dirawat di sini," batin Masyitah
"Ada apa sayang," tanya Fadli saat melihat Masyitah termenung.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing," jawab Masyitah berbohong.
__ADS_1
"Istirahatlah, sebentar lagi orang tua kita datang."
Masyitah pun menuruti ucapan suaminya, meskipun dia tak bisa tertidur. Tapi, berusaha memejamkan matanya agar Fadli merasa tenang.
Melihat istrinya tertidur, Fadli pun berjalan ke arah sofa yang ada di dalam kamar. Kemudian membaringkan diri untuk melepas penatnya sampai akhirnya dia pun ikut tertidur.
Masyitah membuka sedikit matanya, diliriknya Fadli yang berbaring di sofa. Seketika muncul rasa iba dalam hatinya, merasa bersalah karena sudah membohongi Fadli malam hari dan oada akhirnya dia harus merasakan sakit yang sesungguhnya hingga dirawat di rumah sakit.
"Maafkan aku Fad, tadi malam aku cuma iseng memgerjaimu. Akhirnya aku jadi begini," gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, Pintu kamar Masyitah di ketuk lalu pintu sedikit terbuka. Kepala Murni menyembul di balik pintu menatap ke dalam, pandangan Murni dan Masyitah bertemu.
Setelah yakin yang dilihatnya adalah Masyitah anaknya, Murni bergegas masuk dan langsung menghampiri ranjang.
"Ya, ampuun Itaa, separah ini ngidam mu. Mama dulu malah tidak merasakan apa-apa waktu hamil kamu," celoteh Murni
Haji Burhan memyenggol tangan istrinya, Murni selalu saja begitu tak peduli di mana pun berada pasti bicara tanpa filter.
Mendapat kode dari suaminya, Murni menoleh pada kedua besannya sambil tersenyum canggung.
"Hehe, maaf," ucap Murni.
""Tidak apa-apa, reaksi perempuan kan berbeda," jawab Ridha tersenyum tipis.
Ingin rasanya Masyitah terbang ke planet Mars melihat tingkah ibunya, malu sekaligus lucu terlebih saat itu mertuanya juga hadir.
"Mamaaa! Lihat tempat jugaa iih," gerutu Masyitah dalam hati.
Ridha menoleh ke arah sofa, tampak Fadli masih nyenyak dan belum mengetahui jika orang tua dan mertuanya sudah ada di dalam ruangan bersama mereka.
"Pah, lihat anakmu. Sempat-sempatnya dia tidur saat istrinya sakit," ucap Ridha sambil menunjuk Fadli dengan bibirnya.
"Biarkan saja Bu Haji, mungkin Fadli capek," sahut Haji Burhan.
Haji Salim akhirnya mengurungkan niatnya membangunkan Fadli, kemudian dia mengajak besannya Haji Burhan keluar dan berbincang di depan kamar Masyitah.
Sepeninggal suami mereka, kedua wanita paru baya itu pun menggelar karpet yang Murni bawa dari rumah lalu mereka duduk sambil mengobrol layaknya ibu-ibu kompleks yang bergosip.
Lagi-lagi Masyitah menggelengkan kepala melihat tingkah ibunya yang di luar nalar, sebab dengan santainya tertawa tanpa beban dan sesekali menepuk paha Ridha besannya.
"Astagaa mama, bisa-bisanya mama lupa kalau sekarang ada di rumah sakit sampai ketawa keras begitu!" gerutu Masyitah kesal dalam hati.
Sementara itu, Fadli terusik dwngan suara kencang mertuanya yang membuatnya bangun dan membuka mata.
__ADS_1
"Kalian sudah di sini rupanya," ucap Fadli sambil menggaruk tengkuknya.
"Iya, sejak satu jam yang lalu dan kamu asyik mendengkur," celetuk Murni.