
"Aa ..., Aa ..., Aayuuu?!"
Satu kata lolos dari bibir Fadli, ketika berada dalam situasi gamang, lelaki itu mematung tak bisa bergerak di tempatnya.
"Mau apa dia ke sini?" batin Fadli
Ayu bergerak mendekati Fahri yang masih terdiam, wanita yang berparas cantik itu tersenyum miring, seakan tahu apa yang Fadli rasakan.
"Lama tak jumpa, apa kabarmu Fad?" sapa Ayu sambil berjalan memutar di depan Fadli.
Bibir Fadli terkunci rapat, sekelebat bayangan masa lalunya bersama Ayu muncul di kepalanya. Wanita bernama Ayu adalah cinta pertama Fadli namun, hubungan mereka kandas karena terhalang restu.
Sedetik kemudian Fadli tersadar, lelaki itu pun berkata,"mau apa kamu ke sini Yu?"
"Kamu keberatan?" sahut Ayu dengan senyum penuh arti.
"Tidak, hanya saja." Fadli menggantung kalimatnya, menarik napas kemudian menghembuskannya dengan kasar.
Tanpa dipersilahkan, Ayu menarik kursi lalu duduk santai dengan posisi menyilangkan kedua kakinya. Sorot matanya tajam menatap wajah Fadli, lelaki yang selalu mengisi hatinya.
"Ya Allah, jangan uji hamba dengan cara ini."
Fadli memohon dalam hati, dia takut hatinya goyah. Terlebih lagi, sosok wanita yang duduk di depannya adalah wanita yang dulu pernah dicintainya.
Fadli berbalik kemudian duduk di kursinya untuk menenangkan diri sejenak, sekaligus berpikir bagaimana caranya agar Ayu segera pergi meninggalkan tempatnya.
Sesaat kemudian, muncul ide di kepala Fadli lalu dia berucap,"Ayu, hari ini aku ada janji dengan rekan bisnisku. Jadi, sebaiknya kamu pulang dulu."
"Oh, kamu mengusirku?" sambar Ayu sinis.
"Bukan begitu, aku hanya bilang kalau hari ini ada janji. Tidak mungkin kamu sendirian di sini kan?"
__ADS_1
"Aku ikut," ujar Ayu.
Wajah Fadli seketika berubah, rupanya Ayu tidak paham juga dengan ucapannya.
"Tidak bisa Yu, papaku ikut. Kamu tahu sendiri kan bagaimana reaksinya nanti kalau melihatmu ada di sini."
Ayu tak mau ambil pusing, wanita itu terus saja memaksa. Tapi, Fadli tak kehabisan akal berbagai cara dan alasan dia lakukan agar Ayu segera pergi.
"Baiklah, kalau kamu tidak mengijinkan aku ikut, besok aku akan datang lagi ke sini," ujar Ayu lalu beranjak pergi sambil membanting pintu ruangan Fadli.
Fadli mengusap dadanya lega, meskipun jauh di dasar hatinya masih merindukan Ayu. Tapi, dia sadar posisinya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak dan istri.
"Jangan sampai mama, papa, dan Ita tahu kejadian ini bisa dikuliti habis aku sama mereka."
Fadli menepuk-nepuk wajahnya, meyakinkan diri bahwa apa yang barusan dia alami adalah nyata bukan mimpi.
"Mimpi apa aku semalam? Kenapa dia tiba-tiba hadir dan datang lagi?" gumam Fadli.
Tampak raut wajah Fadli kaget dan gugup saat ayahnya berjalan masuk, sedangkan Haji Salim menatap curiga pada putranya.
"Kenapa wajahmu pucat begitu? seperti orang yang sedang ketakutan," tanya Haji Salim.
"Ah, tidak apa-apa pah, aku hanya kaget papa mengetuk pintu."
"Kamu tidak sedang berbohong kan?" selidik Haji Salim.
Fadli menggeleng cepat, sebisa mungkin dia menguasai diri dari kegugupannya agar ayahnya tidak curiga.
"Tidak pah, aku serius. Tadi aku tertidur saat papa mengetuk pintu dan membuatku kaget dan terbangun."
Haji Salim mengangguk, jawaban Fadli cukup logis dan bisa diterima. Akhirnya Haji Dalim mengalihkan pembicaraan dan bertanya pada putranya.
__ADS_1
"Bagaimana laporan hari ini, semuanya sudah dimasukkan dalam catatan?"
"Sudah pah, ada beberapa jenis kain yang sudah dipisahkan karena penjualannya mulai menurun," jawab Fadli.
"Kenapa bisa menurun?" tanya Haji Salim penasaran.
"Karena sudah kurang diminati pah, setiap saat akan ada trend baru lagi yang masuk. Solusinya kita harus menjualnya dengan harga yang lebih murah agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar lagi."
Panjang lebar Fadli menjelaskan pada ayahnya mengenai masalah yang mereka alami, tak lupa dia juga menawarkan solusi yang terbaik.
Haji Salim hanya mengangguk, dalam hati dia mengagumi kecerdasan anak lelakinya itu dalam mengelolah bisnis keluarga sehingga tetap bisa bertahan dan lebih maju lagi.
"Baiklah, papa pulang dulu. Lanjutkan pekerjaanmu!" ucap Haji Salim berpamitan.
"Iya pah," sahut Fadli.
"Huuufh, hampir saja aku ketahuan. Untung papa tidak banyak bertanya bisa-bisa aku keceplosan," batin Fadli saat berjalan di belakang ayahnya.
Fadli melewati harinya dengan penuh ketegangan, kedatangan Ayu membuat lelaki tersebut tak ubahnya seperti orang bodoh dan bingung.
Sementara itu, Ayu sudah menyusun rencana untuk datang kembali esok harinya ke tempat Fadli. Wanita itu masih penasaran dan ingin tahu tentang kehidupan Fadli setelah berpisah darinya.
Di dalam kamarnya, Ayu berbaring sambil membayangkan masa-masa indahnya ketika masih bersama Fadli.
"Apakah perasaanmu masih sama seperti dulu terhadapku Fad?" gumamnya.
"Kamu kira aku akan membiarkanmu hidup bahagia, jangan kira aku akan tinggal diam Fad, kamu salaah!!"
Rupanya selama ini, Ayu sudah mencari informasi tentang Fadli yang sudah menikah. Namun, wanita itu justru tidak terima dan ingin merebut kembali Fadli dari istrinya.
"Aku akan merebutmu darinya Fad, sampai mati aku tidak akan rela!!"
__ADS_1
Setelah berpisah dari suaminya, Ayu berubah menjadi seorang wanita yang liar penuh dengan amarah dan kebencian. Saat menikah setiap hari dia menerima perlakuan buruk dari suaminya, sampai akhirnya dia memaksa untuk berpisah dan menjadi seorang janda.