KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Patung Manekin


__ADS_3

Part 15


Fadli memberi waktu Masyitah untuk memikirkan dan menimbang tawarannya, jika pilihan Masyitah sudah mantap maka tahun berikutnya dia akan mendaftarkan Masyitah di kampus terbaik tempatnya dulu kuliah.


Tentu saja hal itu menjadi bahan pertimbangan bagi Masyitah, selain kampus tersebut bergengsi pasti bayarannya pun mahal.


Seminggu kemudian, Fadli bertanya kembali pada istrinya tentang kepastian jawaban Masyitah tentang tawarannya.


"Kamu sudah punya jawabannya Ita?" tanya Fadli disela pekerjaannya mencuci motor kesayangannya.


"Tawaran apa?"


"Itu, emm, tawaran kuliah," sahut Fadli


"Sudah, tapi kampus itu kan biayanya mahal karena salah satu kampus terbaik di kota ini."


"Tak usah pikirkan biaya, kamu cukup fokus saja belajar dan menyelesaikan kuliahmu sampai selesai," balas Fadli


Masyitah mengangguk lalu berkata,"baiklah, aku setuju."


Obrolan mereka terhenti karena Fadli sudah selesai mencuci motornya, pagi ini Fadli harus berangkat kerja karena barang pesanan di toko harus segera di kirim pada pelanggan.


"Aku boleh ikut denganmu?" pinta Masyitah ketika melihat suaminya bersiap-siap berangkat


Fadli menoleh pada istrinya lalu tersenyum,"serius mau ikut?"


"Huum, aku bosan di rumah."


"Ok, tapi kita pulangnya sore ya, hari ini pekerjaanku sangat padat karena banyak pesanan yang harus dikirim."


Masyitah mengangguk dan mengiyakan, baginya ini adalah pengalaman pertama bisa ikut dan melihat langsung suaminya bekerja.


Fadli adalah lelaki pekerja keras, usianya yang masih terbilang muda dia bisa membangun relasi bisnis dan mengembangkan usaha ayahnya dengan pesat.


Hal inilah yang membuat Haji Burhan, ayah Masyitah begitu kekeh ingin menjadikannya menantu untuk anak perempuannya.


"Sudah siap? ayo, kita berangkat."


Fadli menggandeng tangan istrinya keluar rumah, kemudian berpamitan pada mertuanya yang kebetulan juga sudah ada di teras.


"Mah, pah, Ita bilang hari ini mau ikut denganku," sapa Fadli


"Oh, baguslah, biar dia juga bisa lebih dekat dengan keluargamu," sahut Murni


"Hehehe, iya mah." Fadli hanya terkekeh mendengar ocehan Ibu Mertuanya itu yang tak pernah kehabisan bahan.


Pasangan suami istri itupun pergi usai berpamitan, untuk pertama kalinya mereka berboncengan dan jalan berdua.


Terlihat raut kebahagiaan di wajah mereka, layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara.


"Kita sudah sampai, ayo, turun," ajak Fadli.

__ADS_1


Masyitah turun dari motor, rasa canggung muncul saat ibu mertuanya datang menyambut mereka.


"Eh, ada Ita!" seru Ridha


"Kamu ya, kenapa tidak bilang dari semalam kalau mau mengajak mantu mama kesini." Ridha menepuk bahu putranya kesal


"Mendadak mah, tanpa rencana Ita tiba-tiba mau ikut katanya bosan di rumah," balas Fadli tersenyum kikuk


"Ayo, nak kita ke dalam," ucap Ridha sembari menggandeng Masyitah masuk dan Fadli mengikuti di belakang


"Jangan sungkan, semua yang ada di sini adalah keluarga." Ridha menuntun Masyitah ke dalam memasuki ruang keluarga menemui Haji Salim ayah mertua Masyitah.


"Pah, lihat siapa yang datang," ujar Ridha pada suaminya yang sedang membaca surat kabar.


Haji Salim mengangkat wajahnya, tersenyum sumringah letika melihat sosok menantunya berdiri bersama istrinya.


"Wah, ini kejutan untuk papa," ucapnya sambil bangkit dari kursinya.


Masyitah segera mendekat pada ayah mertuanya, kemudian menyapa dan menyalaminya.


Haji Salim mengelus pundak Masyitah saat menyalaminya, rasa syukur tak terhingga melihat perubahan sikap menantunya yang mulai melunak.


"Papa senang, akhirnya kamu berkenan datang kesini."


"Iya, pah, tadi Ita tiba-tiba saja mau ikut," sahut Fadli


Masyitah hanya tersenyum sembari menunduk, tak menyangka mendapat perlakuan istimewa dari keluarga suaminya.


"Ita, kamu mau ikut ke toko atau disini bersama mama?" ucapan Fadli menyadarkan Masyitah dari lamunannya.


"Eh, emm, aku mau ikut ke toko," sahut Masyitah cepat.


Ridha dan Haji Salim tersenyum, mereka memahami Masyitah sedang belajar beradabtasi dulu dan masih nyaman dekat dengan suaminya.


"Ya, sudah, kamu ikut saja. Nanti kalau lelah kamu bisa istirahat di kamar suamimu di atas." Ridha menunjuk ke ruangan yang berada di lantai dua.


Masyitah mengangguk, kemudian Fadli meraih tangan istrinya.


"Baiklah mah, pah, kami pergi ke toko."


Fadli menarik tangan istrinya, keduanya berjalan berdampingan menuju toko yang betada di samping rumah Haji Salim.


Gedung tempat Fadli bekerja lumayan besar, tampak begitu banyak tumpukkan paket berlabel yang siap di kirim serta berbagai macam pakaian yang tersusun rapi di dalam rak juga terpasang pada manekin.


Pandangan Masyitah menyapu setiap sudut ruangan, tatapan dan ekspresi kagum terpancar di wajahnya.


"Paket-paket itu yang akan dikirim hari ini," ucap Fadli yang berdiri di belakang Masyitah.


Masyitah memutar tubuhnya, kemudian menatap suaminya.


"Semuanya kamu yang mengurusnya?" tanya Masyitah kemudian

__ADS_1


"Iya, dibantu beberapa orang pegawai disini."


"Aku juga bekerja sama dengan jasa pengiriman, agar lebih mudah lagi membangun relasi," ujar Fadli.


"Wah, hebat! aku kagum pada kegigihanmu," puji Masyitah


"Harus dong, aku harus bekerja keras biar istriku bisa kuliah dan meraih mimpinya," bisik Fadli lalu memdaratkan kecupan di pipi Masyitah


Sontak Masyitah kaget mendapat serangan mendadak, yang membuatnya semakin malu ketika salah seorang pegawai Fadli menyaksikan adegan mereka dan tersenyum.


"Astagaa, kamu membuatku malu," ucap Masyitah geram.


"Hehehe, malu sama siapa? tidak ada orang disini," tunjuk Fadli ke sekelilingnya dan mengabaikan pegawai tersebut.


"Dasaar Bos sialan, kamu pikir aku ini manekin hah," gerutu pegawai itu dalam hati.


"Hei, kamu, kesini," panggil Fadli


Pegawai tersebut menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, sini kamu."


Pegawai tersebut berlari kecil menghampiri Bosnya, kemudian berdiri menunggu perintah.


"Apa kamu melihat tadi terjadi sesuatu disini?" tanya Fadli tersenyum miring


"Tidak Pak, saya tidak melihat apa-apa," jawabnya terbata.


"Kamu sudah mendengar kan Ita? Dia tidak melihat apapun yang terjadi disini," ucap Fadli sambil menatap istrinya.


"Hoo, rupanya kamu sedang menunjukkan kuasamu padaku, baiklah aku akan ikut permainanmu!" gumam Masyitah dalam hati.


Setelah memberikan jawaban palsu pada Fadli, pegawai tersebut pamit untuk kembali ke tempatnya dan menyelesaikan pekerjaannya.


Masyitah kembali berjalan menyusuri ruangan yang ada di dalam gedung itu, memasuki satu per satu dan bertanya pada suaminya fungsi ruangan tersebut.


Dengan setia Fadli mendampingi istrinya, mengenalkan pada setiap pegawainya bahwa Masyitah adalah istrinya.


Hingga tiba pada salah satu ruangan, muncul ide gila di kepala Masyitah untuk membalas kelakuan suaminya.


Masyitah berjalan pelan, memegangi kepalanya lalu ambruk dan terkapar di lantai.


Fadli yang berada di belakang istrinya terkejut dan melonjak kaget, lelaki itu panik dan berteriak sampai para pegawainya datang berkerumun.


"Jangan hanya bengong, lihat istriku pingsan panggil dokter!" serunya


Fadli mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke rumah orang tuanya, susah payah dia menggendong Masyitah yang tidak sadarkan diri.


Masyitah tersenyum dalam dekapan suaminya, balasan telak yang dia berikan untuk Fadli membuatnya bersorak dalam hati.


"Rasakan pembalasanku!"

__ADS_1


__ADS_2