KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Part 16


Kepanikan terjadi di rumah Haji Salim saat Fadli datang menggendong Masyitah yang tak sadarkan diri, Ridha memanggil semua pegawainya untuk menanyai apa yang telah terjadi.


Para pegawai berbaris, ada yang saling berbisik dan ada pula yang diam mematung karena ketakutan.


"Apa yang terjadi dengan menantuku, ada yang tahu?"


"Kami tidak tahu bu." Mereka kompak menjawab, karena memang kenyataannya mereka tidak mengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya.


"Apa saja yang kalian lakukan sampai tidak tahu?" Ridha mulai emosi.


Dua orang pegawai saling sikut, ragu-ragu untuk bicara dan takut akan disalahkan.


"Kalin berdua, apa yang kalian ketahui? ayo, bilang!" desak Ridha.


"Kami tidak tahu persis kejadiannya seperti apa, hanya saja kami melihat Pak Fadli berjalan bersama istrinya masuk ke gudang bu," jawab salah seorang pegawai.


"Apa benar seperti itu?"


"Iya, bu," sahutnya.


"Hmm, baiklah, saya akan tanyakan pada Fadli. Sekatang kalian bubar dan kembali bekerja."


Pegawai tersebut membubarkan diri lalu kembali ke toko, pekerjaan mereka masih menumpuk dan harus segera diselesaikan.


Ridha naik ke lantai dua menuju kamar Fadli, Masyitah sudah dibaringkan di atas ranjang dan Fadli menemaninya di sana.


"Apa yang terjadi dengan Ita? kenapa dia bisa pingsan?"


"Aku juga bingung mah, tadi kami sedang berkeliling dan memeriksa ruangan di dalam toko. Tiba-tiba saja Ita ambruk tak sadarkan diri," ujar Fadli


"Coba hubungi dokter, mungkin saja istrimu ...." Ridha menghentikan ucapannya lalu tersenyum sendiri membayangkan apa yang ada di dalam pikirannya


"Ah, mama jangan dulu berpikir macam-macam. Bisa saja Ita hanya kelelahan," bantah Fadli.


Lelaki itu tak mau ibunya menyimpan harapan yang terlalu besar, Fadli sudah bisa menebak apa isi kepala ibunya dan dia khawatir nanti ibunya kecewa jika harapannya tak sesuai kenyataan.


"Ayo, panggil dokter, mama ingin tahu apa yang terjadi pada istrimu," desak Ridha.


"Mah, Ita cuma capek. Nanti saja lah jangan terburu-buru," ujar Fadli kesal.


Masyitah yang mendengar perdebatan antara ibu dan anak di dekatnya, mulai gelisah dan khawatir.


"Ee, eeeh, apa yang akan kalian lakukan padaku? Waduuh gawat! Ini jadi senjata makan tuan namanya," batin Masyitah yang masih berpura-pura pingsan


"Lebih baik mama keluar, aku mau istirahat," usir Fadli

__ADS_1


"Kamu mengusir mama?"


"Bukan begitu mah, Ita butuh istirahat. Nanti kalau dia sudah siuman aku panggil mama," bujuk Fadli


Ridha akhirnya keluar dari kamar Fadli, wanita itu turun ke bawah dan menemui suaminya untuk mengadukan perihal menantunya.


Sementara itu di dalam kamar, Fadli naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping menghadap Masyitah yang tidur terlentang.


"Hmm, kalau pingsan begini auranya semakin muncul. Bagaimana rasanya ya kalu mencumbu istri yang sedang pingsan?" gumam Fadli dan masih bisa di dengar oleh Masyitah.


Seketika Masyitah tersedak salivanya sendiri, kemudian membuka lebar matanya.


"Kamu jangan macam-macam ya!" ujar Masyitah panik


Fadli kaget dan langsung tergelak, suara tawanya memenuhi ruangan karena telah berhasil mengerjai istrinya.


"Bukannya kamu sedang pingsan?" Fadli berpura-pura tidak tahu


"Aahh, menyebalkaann!!" gerutu Masyitah


Fadli tak bisa menahan tawanya, lelaki itu terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.


Masyitah memutar tubuhnya dan membelakangi suaminya, perasaan kesal bercampur malu tak dapat dia sembunyikan.


"Huufh, sialan. Bisa-bisanya dia tahu aku berpura-pura, aaahh mau taruh dimana mukaku ini," batinnya


"Siapa yang menjahilimu? memang benar aku sedang pingsan dan kebetulan sudah tersadar saat mendengar ucapanmu tadi," elak Masyitah


"Iya, iyaa, kamu pingsan. Ayo, kita tidur aku capek."


Fadli menghentikan perdebatan tak berujung itu, karena sampai kapan pun Masyitah akan mengelak dan menyangkalnya.


"Dasar keras kepala, kamu belum begitu lihai berbohong istriku," gumam Fadli dalam hati.


"Yess, akhirnya." Masyitah mengusap dadanya lalu menutup mata dan tertidur dalam pelukan suaminya.


Sore hari mereka terbangun, tapi sebelum turun dari ranjang Fadli meminta jatahnya terlebih dahulu.


Semula Masyitah menolak dan merasa risih melakukannya di rumah mertua, tapi Fadli tak kehabisan cara yang akhirnya membuat Masyitah pasrah dan menuruti kemauan suaminya.


Setelah selesai bercumbu keduanya masuk ke kamar mandi, bukannya membersihkan diri mereka justru melakukannya lagi.


Masyitah benar-benar dibuat kewalahan, Fadli bagai tak pernah kehabisan tenaga terus meminta lagi, lagi, dan lagi.


"Ini hukuman untukmu karena sudah mengerjaiku, jadi berpikirlah dulu sebelum bertindak," ujar Fadli mengakhiri permainannya.


"Kamu memang hiper, aku jadi ngeri," balas Masyitah melepaskan diri.

__ADS_1


Fadli hanya terkekeh, keberuntungan besar baginya hari ini bisa leluasa bercinta dengan istrinya sampai berkali-kali.


Pasangan tersebut membersihkan diri, kemudian turun ke bawah.


Saat berada di ruang tamu, mereka bertemu dengan orang tua Fadli.


"Ita, sudah enak perasaanmu nak?" tanya Ridha ketika anak dan menantunya menghampiri.


"Iya, sudah mah, Ita cuma kecapean." sambar Fadli, kemudian dia menoleh pada istrinya dan berkata.


"Ita, kamu tunggu disini sebentar, aku akan mengecek kembali paket di toko," ucap Fadli.


"Iya," sahut Masyitah


Masyitah lalu bergabung bersama mertuanya, sedangkan Fadli kembali ke toko melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Masyitah.


Hampir maghrib, Fadli berpamitan pada orang tuanya untuk pulang tetapi dicegah oleh ibunya yang mengajak mereka makan malam bersama.


"Jangan pulang dulu, mama sudah masak banyak tadi, kalian makan malam disini ya."


Fadli menatap istrinya, meminta persetujuan Masyitah dan wanita itupun mengangguk setuju.


Setelah makan malam, akhirnya pasangan suami istri itupun pulang ke rumah Haji Burhan.


Murni menyambut kedatangan anak dan menantunya, bagaimanapun ini pertama kalinya Masyitah keluar rumah seharian.


Meskipun sudah menikah, Murni masih saja mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu tepatnya rindu dengan kegaduhan yang mereka lakukan setiap hari di rumah.


"Mama kira kalian nginap disana, sejak tadi mama gelisah menunggu," ucap Murni


"Mama merindukan aku ya," cibir Masyitah.


"Kamu terlalu percaya diri, mama hanya bingung mau mengunci pintu ternyata namti kalian pulang lagi tengah malam," elak Murni.


"Hehehe, bilang saja mama rindu masih saja gengsi mengakui," ujar Masyitah sambil terkekeh


"Aah, mama malas bedebat, Fadli bawa istrimu masuk mama mau mengunci pintu," ujar Murni kesal


Fadli menuruti perintah mertuanya, mengajak istrinya masuk kamar agar perdebatan mereka terhenti.


Sampai di kamar, Fadli mengingatkan Masyitah supaya bisa lebih mengalah pada ibunya.


Sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk pelan-pelan mengubah tabiat istrinya, Sebab Masyitah memang sedikit egois dan tak mau mengalah jika berdebat dengan ibunya.


"Ita, aku harap kamu pelan-pelan merubah kebiasaan mendebat mama, beliau sudah tua aku kasihan pada mama."


Masyitah terdiam mendengar ucapan suaminya, sebenarnya dia pun menyadari sikapnya sedikit keterlaluan jika bercanda dan berbicara pada ibunya.

__ADS_1


__ADS_2