KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Hadiah Untuk Istri 2


__ADS_3

Part 20


Tanpa sepengetahuan Masyitah, Fadli diam-diam menyiapkan sebuah kejutan untuk istrinya dan yakin Masyitah pasti menyukainya.


Sebuah rumah mungil yang letaknya tidak jauh dari rumah mertuanya, Fadli merenovasi beberapa bagian yang menurutnya kurang pas dan merubah sesuai dengan selera istrinya.


Satu minggu terakhir ini, Fadli sering mengajak Masyitah mengobrol. Dari hasil obrolan tersebut dia jadi sedikit tahu desain rumah seperti apa yang diinginkan istrinya.


Namun, Fadli menutup rapat dan merahasiakan rencananya yang telah membeli sebuah rumah untuk Masyitah. Karena itu akan menjadi hadiah ulang tahun istrinya yang tinggal dua bulan lagi.


Malam ini, Fadli terlambat pulang. Masyitah menyambut suaminya dengan wajah masam dan cemberut.


"Dari mana? Kenapa lambat pulang?" tanya Masyitah dengan nada kesal


"Hehe, jangan marah-marah. Pelanggan lagi rame, masa aku tinggalkan pegawaiku di toko," jawab Fadli sambil terkekeh


"Untuk beberapa hari ke depan, sepertinya aku akan terlambat pulang karena banyak barang yang harus di kemas dan di kirim pada pemesan," sambung Fadli


Padahal, sudah beberapa hari ini Fadli disibukkan mengawasi pekerja yang sedang merenovasi rumahnya dan targetnya harus selesai sebelum ulang tahun Masyitah.


"Apa semalaman aku hanya akan berdiri di sini? Dan tidak diajak masuk?" sindir Fadli


Cckkk ....


Masyitah berdecak kesal, rasanya belum puas dengan jawaban suaminya. Malah Fadli menyindirnya pula.


"Ayo, masuk. Sebaiknya makan dulu baru bersihkan badanmu yang bau," ujar Masyitah sembari menutup hidungnya.


"Jangan menyindirku, nanti kalau aku balas kamu pasti stres sendiri hahaha," balas Fadli tergelak dan memainkan alisnya


Masyitah memutar tubuh dan menghentakkan kakinya, kemudian berjalan masuk ke ruang makan disusul Fadli di belakangnya.


Selesai makan malam, pasangan suami istri itu masuk ke kamar mereka. Fadli membersihkan dirinya sedangkan Masyitah menunggu di atas ranjang sambil berbaring.


Sepuluh menit kemudian, Fadli keluar dari kamar mandi lalu mengenakan pakaian yang sudah Masyitah siapkan untuknya.


"Ya ampun, anak ini. Bukannya menyabut suaminya yang sudah wangi malah tertidur," gumam Fadli


Dengkuran halus Masyitah terdengar begitu merdu di telinga Fadli, lelaki itu menaiki ranjang dan memggeser tubuhnya merapat pada istrinya

__ADS_1


Fadli memainkan rambut Masyitah, mencium aroma wangi dari tubuh istrinya yang terlelap dan tidak terusik dengan tingkahnya itu.


"Kamu ini, tidur atau pingsan sih?"


Fadli terus saja mengoceh, hingga matanya tak dapat lagi diajak bersahabat dan akhirnya dia pun ikut tertidur sambil memeluk tubuh istrinya


Sudah dua bulan Fadli pulang malam sesuai ucapannya, pengerjaan rumah pun hampir rampung. Tentu saja Fadli akan semakin sibuk menyiapkan rencananya.


Hari ini Fadli berangkat kerja lebih pagi, Masyitah mengekori suaminya dan meminta agar Fadli mengijinkannya ikut serta namun, Fadli menolak.


"Aku ikut Fad, bosan di rumah terus," ucap Masyitah merengek pada suaminya.


"Sayaaang, kamu di rumah saja ya, pekerjaanku benar-benar padat akhir-akhir ini dan aku lebih banyak bekerja di luar toko," bujuk Fadli


"Kumohon Fad, aku juga tidak akan menganggu pekerjaanmu dan menungunggu di toko bersama pegawaimu yang lain."


"Oh, tidak bisa. Enak saja kamu mau berkumpul sama mereka sementara aku tidak ada di situ."


"Masyitah, dengar aku!" Fadli menggenggam kuat tangan istrinya.


"Aku janji, minggu depan akan mengajakmu ikut bersabarlah sedikit," ujarnya kemudian mengecup kening istrinya


Irwan pamit dan berlalu meninggalkan Masyitah yang masih berdiri di tempatnya, menatap punggung suaminya sampai hilang dari pandangannya.


Murni muncul dan berdiri di samping Masyitah, menepuk bahu anaknya pelan sambil berkata,"kenapa lagi mukamu kusut begitu?"


"Mamaa, bikin kaget saja!"


"Hehhee, makanya jangan melamun pagi-pagi. Nanti kamu kerasukan jin botol," ejek Murni sambil terkekeh


"Aah, menyebalkan!" Masyitah menghentakkan kakinya dan berlalu pergi.


Di perjalanan, motor Fadli berbelok tujuan utamanya adalah rumah baru mereka. Pagi ini dia akan melihat hasil akhir pekerjaan para tukang dan mengisi perabot baru yang akan dia beli


Lelaki itu ingin memberikan kejutan terbaik di hari ulang tahun istrinya, dengan menghadiahinya rumah baru dan berharap Masyitah senang dengan hadiah itu.


Tanpa mengenal lelah, Fadli memasuki beberapa toko perabot dan memilih furniture minimalis untuk mengisi ruangan dalam rumah mereka.


__ADS_1


Ranjang klasik ini menjadi pilihan favorit Fadli, yang mengisi kamar pribadinya bersama Masyitah.


Lelaki itu membayangkan betapa manisnya saat dia dan istrinya berbaring di atas ranjang tersebut.


Setelah semua perabot tertata rapi, Fadli menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di rumah barunya. Hingga tanpa sadar dia sudah terlelap di atas sofa ruang tamu.


Hampir jam sembilan malam, seorang pekerja membangunkan Fadli karena orang tersebut harus pulang dan menyerahkan kunci rumah padanya.


"Pak, bangun. Ini kunci rumahnya saya mau pulang," ucapnya sembari menepuk pelan kaki Fadli.


Fadli melonjak kaget, mengumpulkan kesadarannya lalu melihat jam di tangannya.


"Astagaa, bapak kenapa tidak membangunkan aku dari tadi," seru Fadli.


"Maaf pak, saya takut karena bapak terlihat begitu lelah. Pak Fadli tertidur dua jam lamanya, tidak mungkin saya menunggu terus di sini makanya saya bangunkan bapak."


"Saya pamit pak," sambungnya kemudian berlalu pergi setelah berpamitan.


Fadli mengusap wajahnya kasar, mau marah tapi, dia sendiri yang ceroboh hingga lama tertidur dan akhirnya harus pulang terlambat lagi.


"Siaal, pasti Ita marah besar padaku. Tadi pagi saja dia sudah aku buat kecewa ditambah lagi aku pulang telat begini," gumamnya.


Lelaki itu bergegas mematikan lampu, kemudian keluar dan mengunci pintu. Dengan langkah cepat dia menghampiri motornya lalu segera naik dan menyalakan mesin motor melaju menuju rumah mertuanya.


Saat tiba di rumah, Fadli memarkir motornya dan melangkah perlahan ke arah pintu. Baru saja dia mengangkat tangannya untuk mengetuk, pintu tiba-tiba terbuka dan Masyitah berdiri di ambang pintu dengan wajah bengis.


Fadli mengucap salam. Namun, Masyitah diam tak mau menjawab dia hanya memutar tubuhnya lalu melangkah masuk kembali ke kamarnya.


Fadli menutup kembali pintu, kemudian bergegas mengejar langkah Masyitah masuk ke dalam dan terus mengekorinya.


"Kenapa mengikutiku ke sini!" ucap Masyitah kesal.


"Emm, kamu kan istriku. Masa aku masuk ke kamar mama dan papa," jawab Fadli


Fadli mendekat dan langsung mendekap istrinya dari belakang, semula Masyitah meronta dan mendorong suaminya. Tapi dekapan Fadli terlalu kuat hingga akhirnya Masyitah diam dan pasrah.


"Maaf aku pulang terlambat, ada sesuatu yang sedang aku kerjakan dan tidak bisa aku wakilkan pada orang lain," bujuk Fadli.


"Aku tidak butuh gombalmu," balas Masyitah.

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu," bisik Fadli lirih di telinga Masyitah.


__ADS_2