
Part 33
Esok paginya, Yudha bangun dan bergegas mandi. Selesai berpakaian dia keluar kamar menemui Bagas untuk menagih janji dan meminta kembali ponselnya.
"Selamat pagi kak," sapa Yudha ketika mereka bertemu di ruang makan.
"Pagi, eh sudah rapi kamu ya tumben?"
"Jangan meledek kak, hari ini aku berangkat lebih pagi karena ada ujian."
"Hmmm, baguslah. Belajar yang rajin manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin jangan sampai hari tuamu penuh penyesalan."
"Tapi, kak sebelum berangkat ke sekolah aku mau minta ponselku," ujar Yudha.
"Sepenting apa ponsel itu buatmu?" tanya Bagas menyelidik.
Sejenak Yudha terdiam, berpikir mencari kalimat yang tepat untuk dijadikan alasan. Bagas bukanlah tipe orang yang mudah ditipu, sudah pasti dia akan mencari tahu sesuatu jika ada yang ganjal.
"Kak, jaman sekarang ponsel itu sangat penting. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka akan cepat menghubungi kakak," ucap Yudha
"Pintar juga kamu mencari alasan. Sudah, habiskan sarapanmu," balas Bagas tak mau berdebat
Bagas beranjak dari tempatnya lalu hendak berjalan keluar. Namun, dengan cepat Yudha berdiri dan menghadangnya.
"Kak, ponselku balikin dulu." Yudha memelas.
Bagas menepis tangan Yudha, lelaki itu memang berniat untuk mengambil ponsel adiknya tapi, dia sengaja menjahili Yudha dengan berpura-pura akan keluar.
"Minggir Yud, jangan menghalangi kakak," ucap Bagas.
"Ponselku kak!" balas Yudha mulai kesal.
"Bagaimana bisa kakak berjalan kalau kamu menghalangi di depan, kakak mau ke kamar mengambil ponselmu."
Setelah mendengar ucapan kakaknya, barulah Yudha bergeser ke samping dan memberi jalan pada Bagas.
Yudha berjalan di belakang mengikuti langkah Bagas, pemuda itu benar-benar ingin memastikan ucapan kakaknya.
Sampai di kamar, Bagas membuka laci dan mengambil barang milik adiknya itu. Tapi, dia belum langsung menyerahkan kepada Yudha. Akan ada kesepakatan terlebih dahulu Bagas buat sebagai sangsi atas perbuatan Yudha.
Bagas Berjalan keluar menuju ruang tamu lalu berkata,"ikut kakak."
__ADS_1
Yudha menuruti perintah kakaknya, demi mendapatkan kembali barang kesayangannya.
"Duduk," ucap Bagas sambil menunjuk kursi kosong di depannya.
Bagas tersenyum tipis melihat Yudha, rupanya sangat mudah membuat adiknya menjadi patuh cukup dengan menyita barangnya maka Yudha akan menurut apapun perkataan Bagas
Bagas mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, kemudian menyalakan ponsel tersebut.
Ting ..., ting
Bunyi pesan masuk terdengar dari benda pipih di tangan Bagas, seketika wajah Yudha berubah menjadi tegang dengan tatapan cemas.
"Kak, ada pesan masuk jangan dibuka," ucap Yudha
"Kenapa memangnya, kamu takut?"
"Itu kan ranah privasiku kak," balas Yudha
"Oh, jadi sekarang kamu punya ranah privasi sama kakak. Baiklah," ucapan Bagas terdengar seperti bernada ancaman.
Yudha panik dan juga bingung, bahkan tanpa sadar dia menepuk bibirnya sendiri seakan menyadari sesuatu.
"Yudha, dengarkan kakak!"
Yudha terdiam, rasanya berat jika harus membatasi diri dan mengurangi interaksi dengan Sofia. Pemuda itu sepertinya sudah begitu kecanduan dan sulit untuk melepaskan diri.
"Bagaimana Yud, sepakat?" tanya Bagas lagi
"Kak, aku pastikan nilai akhirku nanti akan sangat memuaskan. Tapi, aku belum bisa berjanji tentang hubunganku dan Sofia," jawab Yudha
"Kakak tidak mau kan, aku dianggap laki-laki yang tidak bertanggung jawab," sambung Yudha.
Bagas menghela napas, ucapan Yudha memang benar adanya. Tapi, satu sisi Bagas tak ingin adiknya semakin jauh melangkah. Terlebih lagi, hubungan Yudha dan kekasihnya semakin sulit dipisahkan.
"Yud, kakak cuma ingin kamu bisa memantaskan diri dulu. Bagaimana mungkin kamu akan menjadi suami kalau hidupmu sendiri masih bergantung pada kakak."
"Lagi pula, perjalananmu masih sangat panjang. Hari ini, kamu tergila-gila pada gadis itu tapi kakak belum bisa menjamin nanti kamu bisa bertahan dengan usia yang masih sangat muda menjalin hubungan dengan yang lebih tua darimu," ucap Bagas panjang lebar.
"Biar waktu yang menjawab kak," balas Yudha dengan nada pelan
"Baiklah, kakak kembalikan barangmu. Ini ambil," ujar Bagas sambil menyodorkan ponsel Yudha
__ADS_1
Yudha mengambil benda itu di tangan kakaknya, kemudian memasukkan ke dalam tas sekolah sambil berucap,"maafkan aku kak, selalu membuat kakak kecewa."
Bagas tertegun, baru menyadari ternyata adik kecil yang dulu dia rawat kini sudah mulai dewasa dan bisa menentukan pilihannya.
Bagas menepuk pelan bahu Yudha, rasa bahagia bercampur haru menyeruak dalam hatinya membayangkan kembali bagaimana dia berjuang membesarkan Yudha setelah kedua orang tuanya meninggal.
"Ingat baik-baik pesan kakak, sekarang kamu sudah dewasa tentunya sudah bisa menentukan mana yang baik dan buruk." dengan mata berkaca-kaca Bagas memberi petuah kepada adiknya.
Yudha mengangguk lemah, kemudian pemuda itu menarik tubuh kakaknya dan memeluknya erat.
Tak ingin larut dalam kesedihan, Bagas mendorong tubuh adiknya dan berkata,"ah, jangan cengeng. Sudah, sana berangkat sekolah!"
"Hhuu, dasar es batu pantas saja menjomblo," ledek Yudha dengan nada kesal
"Apa kamu bilang? kakak menjomblo gara-gara kamu," ucap Bagas menyentil dahi adiknya.
Keduanya mengakhiri perbincangan mereka, kemudian berangkat ke tempat aktifitas masing-masing.
Di jalan, Yudha berhenti sejenak untuk mengecek pesan yang masuk di ponselnya tadi sewaktu masih di pegang Bagas.
Yudha merogoh tas lalu mengambil benda pipih dari dalam, perlahan dia menyalakan ponselnya dan membuka pesan bertuliskan nama Sofia.
"Sayaang, kenapa nomormu tidak aktif?" isi pesan dari Sofia
"Atau kamu ingin menjauhi aku? mana janjimu yang katanya akan setia dan bertanggung jawab."
"Ternyata semua ucapanmu bohong, kamu tak ada bedanya dengan laki-laki yang lainnya. Habis manis ampasnya dibuang." pesan beruntun yang dikirim Sofia semuanya berisi pertanyaan, tuduhan, dan kemarahan.
"Astaga sayaang, kamu tidak tahu apa yang terjadi denganku. Tunggu saja, aku akan menemuimu dan menjelaskan semuanya," gumam Yudha.
Pemuda itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian melanjutkan perjalanan menuju sekolah.
Tiba di sekolah, Yudha berjalan santai melewati koridor dan tiba-tiba berpapasan dengan Haris. Suasana berubah menjadi canggung karena Haris langsung membuang pandangannya.
Yudha refleks menarik tangan Haris, dia sudah menyadari kesalahan dan ingin meminta maaf kepada sahabatnya itu.
"Ris, maafkan aku," ucap Yudha.
Haris masih diam dan Yudha mengulangi lagi ucapannya,"aku minta maaf Ris, aku akui aku terlalu egois dan jahat padamu."
"Ris, jawab jangan diam," bujuk Yudha lagi.
__ADS_1
Haris menoleh, kekesalannya menguap seketika saat melihat senyuman tulus sahabatnya.
"Iya, aku juga minta maaf. Lain kali jangan terlalu emosi dan cepat memutuskan sesuatu, cari tahu dulu agar tidak ada salah paham," ucap Haris.