KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Cemburu Yang Aneh


__ADS_3

Part 64


Dua bulan kemudian, Fadli mengajak Masyitah pulang ke rumah mereka karena dia tak sabar ingin menunjukkan kamar baru Daffa pada istrinya.


"Ita, kapan ya kita pulang ke rumah? Daffa juga usianya sudah dua bulan," ucap Fadli ketika keduanya sedang berada di dalam kamar.


Masyitah menoleh ke arah suaminya, berpikir sejenak lalu berkata,"kamu sudah bosan di sini?"


"Bukan begitu maksudku, kita kan sudah dua bulan di sini apa kamu tidak ingin pulang ke rumah kita?"


"Lagi pula, Daffa kan sudah besar. Kata orang, rumah kalau terlalu lama kosong bisa berhantu."


"Hmm, kebiasaanmu suka mengarang bebas," sungut Masyitah lalu kembali fokus pada anaknya.


Kalimat Fadli yang diselingi candaan itu sebenarnya datang dari hati kecilnya, hanya saja dia belum mau mengatakan tentang kejutan yang telah dia siapkan sejak kelahiran Daffa.


Jika ada waktu senggang, Fadli selalu menyempatkan diri singgah ke rumah mereka sekedar mengecek dan membersihkan rumah.


Keesokkan harinya, Masyitah membicarakan rencana suaminya pada kedua orang tuanya. Terlalu egois jika dia tetap bertahan dan mengabaikan perasaan suaminya yang selama ini telah bersikap baik padanya.


Masyitah menghampiri ibunya yang berada di ruang keluarga, ibu satu anak itu duduk tepat di samping Murni yang asyik dengan tontonannya.


"Mah," sapa Masyitah


Spontan Murni menoleh mendengar suara di dekatnya, kemudian senyumnya mengembang ketika melihat Daffa dalam gendongan Masyitah.


"Sini, cucuku hmm." dengan cepat Murni mengambil cucunya yang juga tak kalah senang ketika melihat senyum neneknya.


"Mah, aku mau bicara sebentar."


"Hmm, bicaralah," ucap Murni tanpa menoleh


"Fadli mengajak kami pulang mah."


Seketika Murni tertegun, memutar tubuhnya dan menatap Masyitah di depannya dengan wajah sendu. Ketakutan terbesar orang tua adalah saat berpisah dengan cucunya, itulah yang dirasakan Murni saat mendengar perkataan anak perempuannya.


"Kenapa terburu-buru? Daffa juga masih kecil, apa yang kalian risaukan di sini?"


"Bukan begitu mah, kami kan sudah memiliki rumah sendiri. Kalau terlalu lama dibiarkan kosong akan cepat rusak."


"Lagi pula, jaraknya kan tidak terlalu jauh nanti juga setiap hari Daffa ke sini," bujuk Masyitah.


"Ya, sudah. Terserah kalian saja bagaimana baiknya," ucap Murni pelan dengan nada kecewa.

__ADS_1


Masyitah tidak tega melihat wajah ibunya yang kecewa, seandainya saja Fadli bisa memberi ijin dan mau tinggal untuk beberapa waktu ke depan rasanya pasti akan sangat menyenangkan.


Satu sisi, Masyitah juga tak ingin menjadi istri yang durhaka. Selama keinginan suaminya baik dan tidak mengajaknya pada keburukan maka, Masyitah akan tetap menurutinya.


"Ini yang aku takutkan Ya Allah, mama dan papa jadi sedih karena ditinggalkan. Tapi, aku juga tidak mungkin melawan suamiku," gumam Masyitah dalam hati.


"Mah, mama tidak marah kan?"


"Ya Allah Itaa, kamu ini ya. Kenapa mama harus marah hmm? Sekarang kamu itu sudah menjadi tanggung jawab suamimu dunia dan akhirat."


"Kami orang tua, hanya mendukung apapun keputusan yang kalian ambil. Asalkan baik silahkan kalian lakukan."


Masyitah tertegun, kali ini rasanya jauh lebih berat berpamitan dibanding dulu saat dia akan pindah ke rumah barunya.


"Mama sedih?"


"Nah, kalau itu mama tidak bisa pungkiri. Mama sedih karena berpisah dari cucu mama," ucap Murni jujur.


"Mama jahaaat!" tiba-tiba Masyitah kesal mendengar jawaban ibunya.


Sementara itu, Murni melongo heran kenapa tiba-tiba saja Masyitah mengatainya jahat. Suasana hati anak perempuannya tersebut mendadak langsung berubah.


"Eh, apa-apaan kamu Ita?" ucap Murni masih dengan mimik wajah heran.


"Mama lebih sayang Daffa dari pada akuu!"


Bukannya sedih, Murni malah tertawa ngakak karena ucapan Masyitah. Ternyata anak perempuannya cemburu pada cucunya sungguh kocak pikir Murni.


"Mamaa! Jangan menertawaiku," ucap Masyitah cemberut.


"Hahahha, habisnya kamu lucuu. Masa cemburu sama anak sendiri," balas Murni tergelak


"Ah, menyebalkan!" Masyitah menghentakkan kakinya lalu berbalik meninggalkan ibunya bersama Daffa di ruang keluarga.


Sore harinya, Fadli pulang dan mendapat aduan dari istrinya kalau ibu mertuanya hanya meledek waktu Masyitah pamit.


Fadli tersenyum geli, bukan hal baru lagi baginya jika Masyitah dan ibunya selalu berdebat bahkan untuk masalah kecil sekalipun.


Berbeda dengan Masyitah, wanita itu justru semakin kesal dengan reaksi suaminya yang ikut menertawainya.


"Fad, kamu itu memang cocok ya jadi menantu mama. Sama-sama menyebalkan!" umpat Masyitah


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Iya, harusnya kamu membelaku. Ini malah sebaliknya kamu malah berpihak pada mama," ucap Masyitah kesal.


"Eh, aku bukan berpihak sama mama. Hanya merasa lucu dengan tingkah kalian yang aneh," bantah Fadli.


"Ah, malas bicara denganmu. Bikin tambah emosi saja!" balas Masyitah lagi.


Fadli diam dan mau menyahuti lagi, dia tak ingin masalah melebar yang pada akhirnya akan membuatnya repot sendiri nanti.


Fadli mengalihkan pembicaraan dengan bertanya serius pada istrinya,"kamu sudah ijin dan pamit pada mama?"


"Iya, tadinya aku sedih karena harus meninggalkan mama. Tapi, sekarang berubah jadi kesal," jawab Masyitah.


"Kenapa?"


"Ternyata mama lebih sayang sama Daffa."


"Pfffft, jangan aneh-aneh kamu sayaang," ucap Fadli menahan gelaknya.


Melihat reaksi suaminya, mata Masyitah memicing curiga dan emosinya naik.


"Kamu menertawaiku Fad?"


"Eh, eh, jangan salah paham. Aku hanya heran mendengar ucapanmu," jawab Fadli panik.


Masyitah benar-benar sangat sensitif akhir-akhir ini, Fadli sampai kewalahan menghadapinya karena harus ekstra hati-hati berucap dan bersikap.


"Sayaang, kenapa pula kamu harus cemburu pada anak sendiri hmm?" bujuk Fadli.


Masyitah terdiam, tak bisa menjawab ataupun menyanggah ucapan suaminya. Memang agak aneh terdengar jika dia mencemburui bayinya sendiri, namun, tak bisa dipungkiri itulah yang dia rasakan.


"Wajar jika mama tertawa, sikapmu terkesan kekanak-kanakkan sayang," ucap Fadli lagi.


"Fad, kamu tahu sendiri kan? Aku ini anak tunggal tak pernah tahu rasanya punya saudara kandung, kakak ataupun adik."


"Jadi, tolonglah mengerti. Dengan berjalannya waktu mungkin sifatku ini akan berubah," jawab Masyitah dengan nada sendu.


"Iya, aku paham. Perlahan-lahan juga nanti kamu akan berubah dengan sendirinya, menjadi lebih dewasa dan berubah menjadi ibu yang baik."


Fadli menyampaikan harapan-harapannya, sebagai suami tentu saja Fadli tidak akan memaksakan kehendak dan berbuat sesuka hati. Terlebih lagi, dia paham betul awal mula pernikahannya bersama Masyitah yang hanya dijodohkan.


Tahun-tahun pertama, mereka masih saling mengenal pribadi masing-masing. Apalagi usia Masyitah jauh di bawahnya tentu saja dialah yang harus lebih banyak mengalah.


"Minggu depan kita pindah ya," ucap Fadli sembari mengusap lembut kepala istrinya.

__ADS_1


Masyitah mengangguk setuju, tak lagi banyak protes dan memilih menuruti ucapan suaminya.


Malam ini pasangan suami istri itupun beristirahat, Masyitah sesekali terjaga karena Daffa yang haus dan harus menyusuinya.


__ADS_2