
Part 12
Hubungan Masyitah dan Fadli mengalami perkembangan yang baik, Masyitah mulai beradaptasi dan membuka diri walaupun Fadli belum mendapatkan hak dari istrinya.
Malam hari ....
Setelah drama romantis waktu shalat maghrib, Masyitah dan suaminya makan malam bersama.
Murni tercengang saat melihat anak dan menantunya berjalan bergandengan menuju ruang makan, wanita paruh baya itu menoleh pada suaminya sambil tersenyum.
"Pah, lihat mereka," ucap Murni sambil menunjuk dengan tatapan matanya ke arah Masyitah yang sedang berjalan.
Haji Burhan hanya melihat sekilas, kemudian menoleh pada istrinya.
"Mah, jangan aneh-aneh ya, bersikaplah seperti biasa layaknya orang tua pada umumnya."
Haji Burhan memberi peringatan pada istrinya, karena dia tahu betul bagaimana sifat Murni.
Masyitah tampak malu-malu ketika menyadari pandangan orang tuanya tertuju padanya, wanita itu segera melepas genggaman suaminya
Pasangan itu sudah ada di depan meja makan, Masyitah menarik kursi demikian juga dengan Fadli mengikuti gerakan istrinya.
Keluarga Haji Burhan menyantap hidangan di meja tanpa ada perbincangan apapun, sesekali Murni melirik Masyitah tapi yang di lirik tidak menyadarinya.
Makan malam berakhir dengan tenang, Masyitah dan suaminya kembali ke kamar sedangkan Haji Burhan masih menikmati tayangan favoritnya di temani Sang istri.
Masyitah dan Fadli sudah ada di kamar, Wanita itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Fadli termenung, pikirannya menerawang dan bertanya-tanya dengan apa yang sedang di jalaninya saat ini.
"Status menikah, tapi belum mendapatkan hak dari istri bagaimana ceritanya ini? Aneh."
Terdengar suara gagang pintu yang ditarik, Fadli menoleh pada sumber suara. Tampak Masyitah berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.
Jantung Fadli berdesir tak karuan, sebagai lelaki normal tentunya akan berearksi jika melihat sesuatu yang indah di depan matanya.
"Siaall, kalau begini terus mana bisa aku menahan diri," umpatnya dalam hati.
Masyitah belum menyadari situasi dan kondisi yang dialami suaminya, dengan santainya dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Fadli duduk.
Fadli bergeser ke sisi ranjang, memberi ruang kosong pada istrinya. Namun, lelaki itu teringat sesuatu.
"Kunci pintunya Ita," ujar Fadli.
Masyitah menatap heran pada suaminya, sebab baru kali ini dia meminta pintu di kunci.
"Kenapa harus di kunci?" tanya Masyitah polos.
"Nanti kucing liar masuk," sahut Fadli asal.
__ADS_1
Karena tak ada reaksi dari istrinya, Fadli turun dari ranjang lalu melangkah menuju pintu dan menguncinya kemudian dia kembali ke tempat semula.
Masyitah mulai terbiasa tidur satu ranjang dengan suaminya, tapi masih meletakkan bantal di tengah sebagai pembatas.
Fadli gelisah, bergerak tak tentu arah menahan hasratnya sejak melihat istrinya keluar dari kamar mandi.
Masyitah yang polos, memunggungi suaminya karena tidak mengetahui apa yang Fadli rasakan.
Fadli bangun duduk dan bersandar di kepala ranjang, menatap punggung istrinya.
"Ita, aku ingin bicara," ujar Fadli
Masyitah berbalik dan menatap suaminya.
"Ada apa?"
"Kamu sudah ngantuk?" tanya Fadli berbasa-basi.
Masyitah menggeleng sebagai jawaban, wanita itu mulai merasakan hawa aneh dari tatapan suaminya.
"Kita ngobrol dulu, aku juga belum ngantuk," kata Fadli.
Masyitah bangun lalu bersandar sejajar dengan suaminya, keduanya menatap ke depan tapi sama-sama diam.
Fadli memberanikan diri, perlahan meraih tangan Masyitah dan menggenggamnya. Masyitah tidak menolak membiarkan Fadli memainkan dan meremas tangannya.
"Ita, boleh aku bertanya padamu?"
"Apa yang kamu rasakan ketika dekat denganku?"
Masyitah menggeleng dan berkata, "aku tidak tahu, sebab aku juga belum bisa memahami perasaanku."
"Oh, berarti perasaan kita berbeda," ujar Fadli ambigu.
"Maksudnya?" Masyitah penasaran dengan ucapan suaminya.
"Tiap kali dekat denganmu, jantungku selalu berdebar."
Fadli memiringkan wajah menatap Masyitah, melihat ekspresi yang tampak dari istrinya.
Wajah Masyitah bersemu merah, kali ini jantungnya ikut berdebar menerima perlakuan suaminya.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Masyitah sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa, kamu malu, hmm?"
Masyitah mengagguk, Fadli tersenyum tipis melihat reaksi istrinya. Lelaki itu bergeser lebih dekat lagi hingga tubuh mereka tak ada jarak.
"Sepertinya aku mulai menyukaimu," ujar Fadli sambil menyingkirkan rambut di wajah Masyitah.
__ADS_1
"Astaga, apa ini?" batin Masyitah saat merasakan jantungnya kini berdetak lebih kencang
Masyitah terdiam, tubuhnya terasa terkunci tak bisa bergerak.
Fadli semakin merapatkan tubuhnya, lelaki itu semakin tersulut gairah. Perlahan dia menyentuh dagu Masyitah sontak wanita itu mengangkat wajahnya.
Masyitah merasakan dengan jelas deru napas Fadli di wajahnya, tubuh Masyitah membeku tapi dia juga tak bisa menolak sentuhan Fadli.
Masyitah memejamkan mata saat wajah Fadli tak lagi berjarak dengan wajahnya, kemudian Fadli menempelkan bibirnya pada bibir Masyitah.
Tak ada penolakan dari Masyitah, maka Fadli melanjutkan aksinya. Lelaki itu mencium bibir Masyitah dengan lembut, menyesap,dan memainkannya.
Ciuman Fadli semakin dalam, gairahnya tak dapat di bendung lagi dengan cepat dia menarik tubuh Masyitah dan menindihnya.
Ranjang Masyitah menjadi saksi pergulatan mereka, keduanya hilang kendali hingga hanyut dalam rasa yang tak bisa diungkapkan.
Malam terasa begitu panjang bagi pasangan suami istri itu, menjelang pagi barulah mereka menyudahi aktifitas panas di ranjang.
Masyitah merasakan sekujur tubuhnya seperti remuk, pangkal pahanya pun sangat perih hingga dia sulit menggerakkan kakinya
Fadli membelai rambut istrinya, lelaki itu kemudian memeluk tubuh istrinya yang masih tanpa busana.
Berkali-kali Fadli mengecup kening Masyitah, sebagai bentuk rasa sayangnya.
"Terima kasih istriku, sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya," ujar Fadli
MAsyitah tersenyum malu menyembunyikan wajahnya, membayangkan kembali adegan manis mereka.
"Aku mau membersihkan diri," bisik Masyitah
Wanita itu berusaha bangkit, tapi rasa perih membuatnya kembali duduk.
Melihat itu dengan sigap Fadli menggendong Masyitah masuk ke dalam kamar mandi, membantunya membersihkan diri.
Selesai membantu Masyitah, Fadli malah melancarkan aksi mencumbu istrinya hingga terjadi lagi adegan panas di kamar mandi.
Masyitah bersungut, mengetahui kegilaan suaminya yang seperti tak kehabisan tenaga tapi dia juga ikut menikmatinya.
Setelah puas melepaskan hasrat pada istrinya, Fadli membersihkan diri. Walaupun sudah melakukan hubungan suami istri, Masyitah masih malu jika Fadli melihat tubuh polosnya.
Fadli tergelak melihat Masyitah menutup sebagian tubuhnya dengan tangan, istrinya memang benar-benar lucu dan menggemaskan.
"Hahahha, sudahlah Ita, aku sudah melihat semuanya bahkan aku sudah merasakannya untuk apa lagi ditutupi seperti itu."
Masyitah memalingkan wajah, memang benar adanya sia-sia menutupi sementara Fadli sudah melihat semua lekuk tubuhnya tanpa sisa.
Fadli kembali mengangkat tubuh istrinyabkeluar dari kamar mandi, tubuh keduanya masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
Lelaki itu menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang, kemudian dia mengambil pakaian bersih dari dalam lemari lalu memakainya.
__ADS_1
Pagi ini Fadli merasakan kebahagiaan yang luar biasa, senyum cerianya terus mengembang.