KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Tawaran Fadli


__ADS_3

Part 14


Sore hari Fadli datang, tak lupa membawa pesanan istrinya pangsit bakso kuah pedas kesukaannya.


Tak ubahnya anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru, Masyitah melonjak girang saat Fadli menyodorkan makanan kesukaannya.


Fadli tersenyum tipis, ternyata bukan hal yang susah jika ingin mengambil hati istrinya cukup disuguhi pangsit bakso pasti dia meleleh.


"Mau?" tanya Masyitah sambil tersenyum dan memiringkan kepalanya


"Tidak, buat kamu saja aku masih kenyang," jawab Fadli


"Hmm, jangan menggodaku Ita, nanti kamu kubuat tak bisa berjalan," gumam Fadli dalam hati


Masyitah makan begitu lahapnya, tanpa mempedulikan sekitarnya termasuk ibunya yang datang dan berdiri berkacak pinggang di depannya.


"Wah, enak sekali kamu Ita, makan sendiri dan tidak menawarinya pada mama," ucap Murni


Masyitah tersedak, suara ibunya membuatnya terkejut karena terlalu lahap hingga tak menyadari kehadiran ibunya.


"Ah, mama selalu saja begitu, bisa kah dalam sehari mama tidak mengejutkanku?"


"Kamu yang terlalu serius makan sampai kaya orang kesurupan begitu, masa kamu tidak mendengar mama datang hah?"


"Astagaa mama, tentu saja kalau makan harus fokus mah," bantah Masyitah


Fadli tersenyum geli melihat perdebatan dua wanita beda generasi di depannya, pemandangan unik yang tak pernah ditemuinya dalam keluarganya.


"Fad, istrimu pelit mama tidak diajak," ucap Murni pada menantunya


"Mama juga mau? Aku beli lagi kalau begitu." Fadli hendak beranjak tapi Murni langsung mencegahnya.


"Sudah, nanti mama mengajak papa biar lebih romantis makan berdua disana," ucap Murni sambil tersenyum.


"Mama tahu tempatnya?" tanya Fadli


"Hmm, belum."


"Hhaahaha, huu gayanya mau ngajak papa padahal belum tahu tempatnya dimana."


Masyitah tergelak, ibunya memang benar-benar lucu bahkan konyol menurutnya.


"Ita, jangan begitu sama orang tua," ucap Fadli yang merasa kasihan pada Ibu Mertuanya itu.


"Habisnya mama lucu, harusnya bertanya dulu beli dimana baru ngajak papa kesana," balasnya

__ADS_1


"Lihat kelakuan istrimu itu Fadli, selalu menertawai mama," adu Murni


"Iya, mah, maafkan Ita ya," ujar Fadli


"Mama mau keluar, awas saja kamu Ita mama akan adukan kamu pada papa."


Murni meninggalkan ruang makan dan mencari dimana suaminya, meninggalkan anak dan menantunya disana.


Sepeninggal mertuanya, Fadli menasihati Masyitah agar tidak mengulangi lagi perbuatannya pada ibu mertuanya


"Ita, lain kali jangan seperti itu ya sama mama, bagaimanapun beliau kan ibumu harus kita hormati."


Masyitah diam dan tertegun, tak menyangka lelaki di depannya ternyata begitu dewasa pemikirannya sungguh di luar dugaannya yang mengira Fadli adalah seorang lelaki manja karena terlahir dari keluarga kaya.


"Kamu sudah mandi?" Fadli mengalihkan pembicaraan setelah melihat reaksi istrinya


"Belum," sahut Masyitah kemudian kembali melanjutkan makannya


"Wah, bagus itu, kita mandi bersama ya." Fadli menaik turunkan alisnya


"Kamu yaa, jangan mulai lagi!" Masyitah melepas sendoknya dan hendak beranjak tapi langsung dicegah oleh Fadli


"Eh, slow baby, aku cuma bercanda," ucap Fadli panik


Suasana hati Masyitah memang sering kali naik turun dan bisa berubah-ubah dalam sekejap, tentunya Fadli harus lebih bersabar menghadapinya.


"Huuufh hampir saja, Fadli jangan membangunkan singa tidur nanti kamu repot sendiri," batin Fadli


Masyitah sudah selesai makan, kemudian dia mencuci mangkuk dan sendok yang dia pakai setelah itu mengajak suaminya keluar dan duduk di teras.


Perlahan Fadli mulai mengenali watak istrinya, olehnya dia harus lebih banyak belajar dan memahami cara menghadapi sikap Masyitah yang terkadang masih kekanak-kanakan


Awal pernikahan mereka yang tanpa didasari cinta, tentu saja harus belajar untuk saling mengenal satu sama lain. Sebagai suami Fadli harus menjalankan perannya sebaik mungkin.


"Ita, kamu sudah punya rencana kedepannya untuk rumah tangga kita?" Fadli memulai percakapan


"Aku belum punya rencana apa-apa, kamu?" Masyitah bertanya balik pada suaminya.


"Aku akan meneruskan usaha papa, beliau kan sudah tua sedangkan adikku yang perempuan lebih memilih melanjutkan studinya," balas Fadli panjang lebar


Sejenak Masyitah terdiam, hatinya tergelitik saat mendengar Fadli menceritakan tentang adik iparnya yang dengan mudah mendapat ijin melanjutkan pendidikannya.


"Adikmu beruntung sekali ya, apapun keinginannya semua dipenuhi aku iri padanya."


Pandangan Masyitah lurus ke depan, air mukanya seketika berubah dan matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Fadli mulai menyadarinya, sepertinya Masyitah memiliki mimpi yang ingin dia wujudkan tapi terhalang restu orang tuanya.


Hati-hati Fadli bertanya agar Masyitah tidak tersinggung.


"Sebelum menikah denganku, apakah kamu memiliki keinginan yang belum terwujudkan?"


"Aku ingin kuliah, tapi papa melarang dan malah menjodohkanku denganmu," sahut Masyitah


Fadli tertegun, rupanya keinginan Masyitah begitu besar untuk kuliah dan Fadli ingin mewujudkan mimpi dan juga cita-cita istrinya.


"Ita, dulu semasa aku kuliah, banyak teman-temanku yang sudah menikah tapi mereka tetap melanjutkan pendidikannya. Apa kamu berminat?" tawar Fadli


"Sudah terlambat, aku sudah mengubur cita-citaku." terdengar nada putus asa dari ucapan Masyitah


Fadli menghela napasnya, tak mau melanjutkan pembahasan mengenai perkuliahan karena tak mau membuat Masyitah menjadi sedih.


"Ayo, kita masuk sudah hampir magrib," ajak Fadli


Keduanya masuk ke dalam kamar, mereka bergantian masuk ke dalam kamar mandi kemudian bersiap shalat magrib.


Selesai makan malam, penghuni rumah masuk ke kamar masing-masing. Masyitah sudah lebih dulu terlelap sedangkan Fadli masih merenung memikirkan ucapan Masyitah sore tadi.


"Kenapa orang tua Masyitah begitu egois, apa mereka tidak memikirkan perasaan anaknya? Padahal mereka sebenarnya mampu menyekolahkan Ita," gumam Fadli


Sepanjang malam Fadli memikirkan bagaimana caranya membujuk Masyitah supaya dia mau melanjutkan studinya, dengan cara itu mungkin dia bisa membuktikan rasa sayangnya pada istrinya.


"Besok aku coba lagi membujuknya, semoga hatinya luluh dan mau mengikuti saranku,"


Setelah lama berperang dengan pikirannya, akhirnya Fadli pun tertidur sambil memeluk tubuh istrinya.


Adzan subuh pasangan suami istri itu terbangun, keduanya membersihkan diri dan bersiap shalat subuh berjamaah.


Selesai shalat, Fadli menahan Masyitah untuk tetap diposisinya untuk membicarakan rencana yang dia pikirkan semalam.


"Ita, aku harap kamu masih mau melanjutkan pendidikan seperti cita-citamu sebelumnya," ujar Fadli


"Maksudmu?" tanya Masyitah mengerutkan alisnya bingung


"Iya, aku sudah berencana untuk mendaftarkanmu ke Universitas. Masalah biaya biar menjadi urusanku," jawab Fadli


Masyitah diam sejenak lalu membuka suaranya,"tapi aku sudah menikah."


"Banyak orang sepertimu Ita, sudah menikah tapi tetap melanjutkan kuliahnya. Pernikahan tidak menghalangi sebuah cita-cita kan?"


"Nanti aku pikirkan," balas Masyitah

__ADS_1


Jauh di lubuk hatinya, Masyitah sangat senang mendengar penawaran dari suaminya. Tapi dia merasa tidak enak jika harus menjadi beban suaminya nanti yang harus mengeluarkan biaya banyak untuknya.


__ADS_2