KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Vampir Nyasar


__ADS_3

Part 13


Fadli keluar dari kamar mandi sambil bersiul, menandakan hatinya sedang dipenuhi kebahagiaan. Kesabarannya selama ini akhirnya berbuah manis.


Masyitah duduk di depan meja riasnya, menatap ngeri pada cermin melihat tanda merah memenuhi lehernya bekas percintaan mereka semalam.


Fadli menghampiri istrinya lalu mendekapnya dari belakang, lelaki itu masih mengenakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Apa yang kamu lihat, hmm?" kecupan kecil mendarat di bahu Masyitah.


Wanita itu menggeliat, melirik wajah suaminya lalu berkata,"melihat bekas gigitan vampir yang kelaparan."


"Hahaha, masa? Coba kulihat."


Masyitah mendorong tubuh suaminya, khawatir Fadli akan melanjutkan aksinya.


"Sudah, sana pakai bajumu!"


"Eh, jangan kasar sama suami dosa, apalagi kalau suami lagi pengen," ucap Fadli mengerlingkan matanya.


"Huuffh, ini juga rasanya masih perih," sungut Masyitah


"Hehe, kan masih baru. Makanya kita harus sering-sering melakukannya biar perihnya hilang."


Fadli terkekeh, lelaki itu sengaja menggoda istrinya.


Ketika keduanya sedang berdebat kecil, pintu kamar diketuk dari luar menyusul suara Murni memanggil.


"Ita, sarapan dulu!"


"Iya, kami akan kesana," sahut Masyitah dari dalam.


Masyitah panik sambil meraba lehernya yang berwarna merah.


"Astagaa, bagaimana ini?"


"Kenapa memangnya?" balas Fadli santai


"Pertanyaanmu menyebalkan! Mama pasti menertawaiku," rengek Masyitah


"Tak usah panik begitu, kan hal yang lumrah terjadi pada suami istri."


"Apa kamu tak punya malu?" tanya Masyitah kesal


"Kenapa harus malu, toh yang melakukan suami sendiri bukan orang lain."


"Ah, malas berdebat denganmu!" gerutu Masyitah


Masyitah termenung sejenak, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tangannya meraih botol foundation di meja rias kemudian memakainya di bagian yang bertanda merah.


"Huufh, akhirnya aku bisa aman."


"Nah, kan, makanya jangan panik dulu," ucap Fadli


Masyitah mengamati kembali bagian tubuhnya di cermin, takut kalau masih ada yang belum tertutupi.


Setelah memastikan semuanya aman, Masyitah berbalik menghadap suaminya.

__ADS_1


"Loh, kamu belum memakai baju?" tanya Masyitah


"Bajuku semuanya kotor, aku harus pakai apa?"


"Ya, ampun, aku memang belum mencuci semua pakaian kotor," batin Masyitah sembari menepuk keningnya.


Masyitah membuka lemari pakaiannya, memandangi lipatan baju dan pilihannya pada sebuah kaos miliknya.


Wanita itu mengambil kaos tersebut lalu menyodorkan pada suaminya.


"Pakai ini, sepertinya cocok denganmu ukurannya jumbo."


Fadli meraih kaos dari tangan istrinya kemudian dia mencoba memakainya, ternyata memang ukurannya pas.


Fadli menunduk, memandangi bagian bawah tubuhnya yang masih terbalut handuk.


"Kamu melupakan sesuatu Ita, mana mungkin aku keluar begini," ujar Fadli.


"Hahhaha, tampilanmu keren menurutku."


Masyitah tergelak saat melihat penampilan suaminya, mengenakan kaos dan bawahan handuk.


"Jangan bercanda, celanaku juga sudah habis semuanya kotor."


Masyitah kembali mengutak-atik isi lemarinya, akhirnya menemukan celana training yang ukurannya agak besar dan cocok untuk suaminya.


"Ini, semoga pas dengan ukuranmu."


Fadli mengambil dari tangan istrinya lalu memakai celana tersebut, untungnya sesuai dan pas ukurannya.


"Ayo, kita keluar sekarang," ajak Masyitah


Sampai di meja makan, Masyitah menarik kursi untuk suaminya lalu keduanya duduk berhadapan dengan ayah dan ibunya.


Mata Murni menelisik pada perubahan dua makhluk di depannya, hal yang paling menonjol ada pada menantunya tapi Murni menahan diri untuk tidak menegurnya.


Selanjutnya tatapan Murni beralih pada Masyitah, Pandangannya cukup jeli menangkap suatu perubahan, terlebih lagi foundation yang Masyitah pakai lumayan tebal.


"Pah, semalam mama rasa rumah kita kemasukan vampir," ujar Murni tersenyum nakal.


Masyitah langsung tersedak, bahkan hampir saja dia menyemburkan minuman dari mulutnya, spontan Fadli menepuk pelan punggung istrinya.


"Hati-hati nak, pelan-pelan kalau minum," ucap Murni.


"Makanya mama jangan membahas yang aneh-aneh, mana ada vampir masuk rumah kita," ujar Haji Burhan polos.


"Ada pah, saat kita sudah tidur nyenyak," balas Murni sambil terkekeh


Masyitah beranjak dari kursi dan berkata,"kalian makan duluan, nanti aku menyusul."


Masyitah berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya, Fadli hanya bisa menoleh dan menatap punggung istrinya lalu dia melanjutkan sarapannya.


"Ya Allah, sumpah mama membuatku malu, bisa-bisanya membahas itu di depan papa."


Masyitah menutup wajahnya dengan bantal, ingin rasanya dia menyumpal mulut ibunya tadi agar diam.


Lima menit kemudian, Fadli menyusul istrinya di kamar. Lelaki itu menutup rapat pintu dan berjalan ke arah istrinya.

__ADS_1


Baru saja Fadli ingin mendekat, Masyitah melempar suaminya dengan bantal karena kesalnya.


"Ini semua gara-gara kamu!"


"Hah, kenapa denganku?" tanya Fadli sambil memeluk bantal yang Masyitah lempar padanya.


"Iya, kamu kan yang membuat tanda merah di tubuhku sampai mama meledek."


"Oh, itu, maaf khilaf." Dengan santainya Fadli menjawab kemudian meletakkan kembali bantal di atas ranjang.


"Iiih, sumpah menyebalkaan!" umpat Masyitah lalu membelakangi suaminya.


Fadli tersenyum geli, sekaligus gemas dengan tingkah istrinya yang kadang terlihat konyol.


"Sudah, jangan marah-marah nanti cepat tua," ujar Fadli.


"Oh, iya, aku harus berangkat kerja, kamu mau menitip sesuatu nanti kalau aku pulang?" tanya Fadli untuk mengalihkan kekesalan istrinya.


Masyitah membalikkan tubuhnya, rasa kesalnya seketika hilang berubah 180°. Wanita itu memutar bola matanya sambil memikirkan sesuatu.


"Aku mau pangsit bakso, kuahnya jangan pakai kecap," jawab Masyitah sumringah


"Sesimple itu permintaanmu, bahkan terlalu mudah membuatmu bahagia," batin Fadli.


"Oke, tapi aku boleh meminta tolong padamu?"


"Apa?" sahut Masyitah


"Tolong bawa pakaian kotorku ke loundry,"


Masyitah mengangkat tangan dan membentuk jarinya dengan huruf O, yang berarti dia akan mengerjakan permintaan suaminya.


"Baiklah, aku berangkat ya, hati-hati di rumah," pamit Fadli.


Masyitah mengantar suaminya sampai ke pintu gerbang, menatap suaminya sampai menghilang dari pandangan setelah itu dia masuk kembali ke dalam rumah.


Ketika masuk ke ruang tamu, Masyitah berpapasan dengan ibunya.


"Ita, tadi kamu belum sempat sarapan," ucap Murni.


"Malas, masih kenyang," balas Masyitah dan berlalu meninggalkan ibunya.


Masyitah bergegas masuk ke kamarnya, menghindari ibunya karena tak ingin menjadi bahan bulian.


Murni menggelengkan kepalanya, tabiat Masyitah memang selalu seperti itu kalau ada sesuatu yang salah dia akan menghindar dan menutup dirinya.


Haji Burhan bertanya pada istrinya,"kenapa dengan anakmu?"


"Mungkin terserang virus vampir," jawab Murni asal.


"Mama itu sudah tua, jangan lagi bertingkah seperti anak kecil, mana ada vampir di sini," ucap Haji Burhan mulai kesal.


"Hehehe, iya, mama cuma bercanda."


"Dari pada papa, sudah tua tapi masih lugu hhehe," gumamnya tanpa sadar lalu terkekeh


"Apa yang kamu pikirkan mah?" Haji Burhan bergidik ngeri melihat istrinya tiba-tiba terkekeh tanpa sebab.

__ADS_1


Haji Burhan terkadang kewalahan mengimbangi sikap konyol istrinya, tapi hal itulah yang membuat rumah tangga mereka penuh warna.


__ADS_2