
Part 65
Satu minggu kemudian ....
Hari yang ditentukan telah tiba, Masyitah dan Fadli akan kembali ke rumah mereka. Pasangan suami istri itu sudah berpamitan pada orang tua mereka dan sudah mendapat ijin.
Murni dan suaminya ikut mengantar anak dan cucunya, tak ketinggalan orang tua Fadli pun ikut.
Rumah mungil milik Masyitah menjadi ramai, gelak tawa dan canda terdengar riuh. Keluarga Haji Salim datang bergabung, juga beberapa pegawai tokonya membantu membawa barang milik Masyitah.
Saat masuk ke dalam, Masyitah tertegun dan berdiri mematung di tempatnya. Hatinya begitu bahagia melihat penampakkan kamar Daffa yang sudah disiapkan Fadli.
"Sayaaang, ini kamar Daffa. Kamu suka?" tanya Fadli yang berdiri di samping istrinya.
Masyitah mengangguk lalu berucap,"jadi ini yang membuatmu ingin segera pulang ke sini?"
Fadli tersenyum lebar, puas dengan reaksi Masyitah yang terlihat kagum dengan kejutan darinya.
"Hmm," gumam Fadli
"Itu sebabnya aku tak sabar ingin segera pulang, biar Daffa bisa tidur di kamarnya."
"Kita bisa membuatkan adik untuknya," bisik Fadli ke telinga Masyitah, tak lupa lelaki itu mengedipkan mata menggoda istrinya.
Wajah Masyitah bersemu merah, refleks dia mencubit keras perut suaminya.
"Auuh, sakiit sayaang!"
"Makanyaa, jangan mesuum!" umpat Masyitah.
"Mesum sama istri sendiri, wajaarr!" sahut Fadli kemudian melengos pergi.
Murni dan Ridha tak kalah hebohnya, kedua nenek tersebut masuk ke dalam kamar cucu mereka sambil berdecak kagum.
"Anak jaman sekarang, masih bayi sudah tidur sendiri," ucap Murni sambil mengusap ranjang kecil milik Daffa.
"Sepertinya tak lama lagi Daffa akan punya adek lagi, hehe," balas Ridha terkekeh.
Murni menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dia kaget dengan ucapan Ridha yang sudah berpikir jauh untuk menambah cucu.
"Huusst, jangan keras-keras, nanti mereka dengar," ucap Murni tersenyum penuh arti
Tanpa mereka ketahui, rupanya Masyitah sudah berdiri di belakang mereka memasang wajah kesal sekaligus malu.
"Apa-apaan sih mama!" gerutu Masyitah.
Dengan cepat kedua wanita paru baya tersebut menoleh, Ridha tersenyum canggung sedangkan Murni pura-pura tak mendengar karena malu dipergoki anaknya.
__ADS_1
"Eh, Itaa. Sudah lama?" tanya Murni sekenanya.
"Sudah, sejak mama menggibahiku!"
"Hehe, kami tidak berghibah. Hanya berdoa semoga Daffa cepat memiliki adek," sambar Ridha
Masyitah tak menjawab, wanita tersebut membuang mukanya karena malu.
"Bisa-bisanya kalian bicara seperti ini, dasar orang tua aneh," sungut Masyitah dalam hati
Fadli datang menyusul istrinya, sedikit bingung melihat ekspresi orang-orang di dalam kamar.
"Ada apa ini?"
"Tidak ada apa-apa, kami hanya mengagumi kamar Daffa dan sedikit bercerita," jawab Ridha tenang.
"Oh, aku kira ada sesuatu karena wajah kalian tampak aneh."
Fadli mendekati istrinya yang berdiri di dekat ranjang, mereka menatap Daffa yang tertidur pulas dan tenang.
"Fad, nanti Daffa tidur di sini sendirian?" tanya Ridha penasaran.
"Nanti mah, kalau dia sudah setahun. Sekarang masih terlalu kecil."
Ridha mengangguk tanda mengerti, ternyata duagaannya salah. Dia mengira cucunya akan tidur terpisah dari kedua orang tuanya.
Setelah puas berbincang dan bersenda gurau di rumah anak mereka, kedua pasangan paru baya itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing karena waktu sudah sore.
Sejak berada di rumahnya, Masyitah setiap hari disibukkan dengan merawat bayinya dan dia sangat menikmati aktifitas barunya sebagai ibu muda yang memiliki anak.
Rumah tangga Fadli semakin lengkap dengan kehadiran seorang anak, lelaki itu semakin giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.
Tanpa terasa, usia Daffa sudah memasuki sembilan bulan. Bayi lucu itu sudah mulai belajar berdiri, perkembangannya pun cukup baik untuk bayi seusianya.
Sebagai ibu muda, Masyitah selalu memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Mulai dari asupan gizi hingga pola asuh yang dia terapkan pun dia sesuaikan jamannya.
"Itaa, hari ini aku agak telat pulang," ucap Fadli di sela sarapannya.
"Memangnya ada apa di toko sampai harus pulang terlambat?" tanya Masyitah sambil memangku Daffa dan menyuapinya.
"Banyak kerjaan, barang yang masuk belum aku catat dan juga harus dipilih kembali."
"Kalau begitu, aku dan Daffa ke rumah mama ya. Nanti kalau pulang kamu jemput di sana," ucap Masyitah.
"Hmm."
Fadli mengangguk setuju, sudah menjadi kebiasaan Masyitah jika suaminya lembur dia akan berkunjung ke rumah orang tuanya sambil menunggu suaminya pulang dan menjemputnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku bersiap-siap dulu," ucap Masyitah menyodorkan Daffa pada Fadli, kemudian membereskan bekas makan suami dan anaknya.
Ketiganya pun berangkat mengendarai motor kesayangan Fadli, lelaki tersebut lebih dulu mengantar anak dan istrinya ke rumah mertuanya lalu dia melanjutkan perjalanan menuju tokonya.
Fadli sudah tiba di tempat kerjanya, lelaki itu bergegas masuk dan melakukan pengecekkan barang masuk di gudang di dampingi seorang anak buahnya.
Hari ini Fadli benar-benar disibukkan dengan aktifitasnya, sampai dia melupakan makan siangnya.
Di sela-sela kesibukkan Fadli dengan pekerjaannya, seorang pegawainya datang menghampiri.
"Bos, ada orang mencari."
Fadli mengangkat wajahnya dan bertanya,"siapa?"
"Saya juga tidak kenal pak," jawabnya.
"Suruh menunggu sebentar ya, saya rekap dulu jumlah barang yang masuk."
Pegawai tersebut mengangguk, lantas berbalik dan keluar menemui tamu yang datang.
Fadli bergegas menyelesaikan pekerjaannya, berharap tamu yang datang adalah rekan bisnisnya. Tentu saja, ini akan membawa keuntungan baginya.
Sepuluh menit kemudian, Fadli selesai dengan pekerjaannya, lelaki itu menekan bel untuk memanggil pegawainya di luar.
Tak lama, pegawainya masuk,"iya, pak."
"Tamu yang tadi masih di luar?"
"Iya, pak. Masih ada di luar," jawabnya.
"Suruh masuk!"
Pegawai itu pun mengangguk lagi, kemudian melangkah ke luar mengikuti oerintah Bosnya. Sedangkan Fadli masih duduk dengan tenang di tempatnya menunggu tamunya masuk.
Sesaat kemudian pintu diketuk dari luar, Fadli menyahuti dari dalam,"masuk."
Perlahan pintu dibuka, sesosok manusia berdiri sambil tersenyum menatap ke arah Fadli.
Seketika Fadli seperti terhipnotis, lelaki itu diam mematung tak bisa berkata-kata. Sekujur tubuhnya kaku tak dapat bergerak, suasana di dalam ruangan berubah menjadi tegang.
"Astaghfirullah, apa ini?" batin Fadli
Ayah satu anak itu tak mampu bicara, hanya sorot matanya yang tak lepas menatap tajam sosok di depan pintu yang masih tersenyum padanya.
"Ya Allah, kuatkan hamba. Jangan uji aku dengan cara ini." Fadli berdoa dan memohon dalam hati agar diberi kekuatan.
"Kamu tidak menyuruhku duduk?" ucap orang tersebut dengan suara lembut.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Fadli malah tertegun. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.
"Hai, apa kamu akan membiarkan aku berdiri di sini sepanjang hari?"